
****
Di Tanah terlarang
Long Guan tidak menyangka bahwa Hung Fei begitu mudah diajak bicara, ia juga tidak pelit pengetahuan.
Sementara di sisi Hung Fei ia merasa bahwa Long Guan merupakan cerminan masa mudanya, penuh keberanian serta memegang prinsip.
“Long Guan, dengan basis kultivasimu yang berada di alam semesta tahap pertama kurasa sebaiknya kamu perlu meningkatkan kemampuan. Meskipun di alam fana ini terjadi pembatasan, namun dengan mempelajari dasar hukum ruang dan waktu setidaknya akan mengembangkan potensimu.
Hukum ruang dan waktu menurutku adalah dasar untuk melintasi kekuatan, meski aku tidak bisa mengatakan sebagai jalan keabadian namun mempelajarinya adalah hal yang sangat menguntungkan.
Di alam spiritual sendiri tidak banyak yang memahaminya, biasanya hanya mereka yang berada pada ranah Surgawi Kedua baru bisa mempelajarinya. Itupun sebatas tingkat pertama saja. Namun semua bergantung takdir, aku cukup beruntung mendapatkan petunjuk pada saat tingkat kultivasiku masih di semesta tingkat dua.
Keberuntungan ku berhenti saat aku berada di semesta lima, saat aku menjadi tetua termuda di Sekte Pedang Bintang. Promosi tersebut membuatku lupa diri, aku terlalu bangga dengan pencapaianku saat itu. Aku harap kamu tidak melakukan kecerobohan seperti yang aku perbuat” ucap Hung Fei dengan serius.
“Terimakasih atas nasihatnya, junior ini akan menjalani nasehat dari senior dengan baik” lalu dengan ragu-ragu Long Guan bertanya.
“Dengan kekuatan senior serta pemahaman hukum ruang dan waktu mengapa senior tidak kembali ke Alam Spiritual?”.
Hung Fei sedikit tertegun kemudian berkata.
“Owh.. kalo itu aku belum waktunya ke sana, biarlah aku di alam bawah ini sambil merenungi kebodohanku di masa lalu” ucap Hung Fei dengan nada rasa bersalah.
“Maaf senior jika pertanyaanku menyinggung mu” kata Long Guan dengan tulus.
“Hahaha.. itu hal yang biasa, bagaimana dengan tujuanmu selanjutnya?” balas Hung Fei seperti menyembunyikan rahasia.
“Aku sudah cukup tercerahkan dengan apa yang menjadi pertanyaan dalam pikiran ku selama ini. Namun ada hal lain yang masih mengganjal dalam diriku” ungkap Long Guan.
Long Guan agak lama terdiam, kemudian dia mencoba mengutarakan perasaan yang membuatnya tidak nyaman.
“Mohon maaf sebelumnya, saat aku berada di Sekte Pedang Angin setiap kali memandang tanah terlarang, ada semacam daya tarik yang sangat kuat. Aku merasakan ada kekuatan batin yang memaksaku kemari” ujar Long Guan dengan sungguh-sungguh.
Sebenarnya ia penasaran ingin mencari tahunya melalui persepsi indera spiritualnya, namun ia tidak berani melakukannya karena akan dianggap tidak sopan. Apalagi Hung Fei begitu baik mau menerima Long Guan tanpa sungkan menjadikan Long Guan semakin menghormatinya.
Mendengar apa yang disampaikan Long Guan membuat Hung Fei tersentak kaget. Ia tidak mengira ternyata maksud kedatangan Long Guan menyangkut salah satu benda yang ia miliki, barang berharga yang selama ini belum bisa ia pecahkan misterinya.
“Hmm.. apakah ini benar-benar takdir” batin Hung Fei seolah tidak percaya.
Setelah tertegun, Hung Fei mencoba menenangkan dirinya dari keterkejutan yang ditimbulkan oleh pernyataan Long Guan.
“Sebenarnya aku masih belum terlalu yakin dengan apa yang baru saja kamu ceritakan, namun sebelum aku menjawab pertanyaanmu aku akan mengajukan pertanyaan pribadi” ucap Hung Fei.
“Dari awal aku melihatmu, aku merasakan bahwa kekuatan kamu sungguh tidak wajar dengan usia yang masih sangat muda, jika itu terjadi di alam spiritual maka aku tidak heran. Apakah sebelumnya kamu pernah menyerap suatu benda pusaka yang mengakibatkan naiknya basis kultivasimu secara ekstrem?” tanya Hung Fei dengan raut muka yang sangat serius.
Mendapat pertanyaan seperti ini Long Guan agak tertekan, walau bagaimanapun ini adalah menyangkut rahasianya. Berada di hadapan orang yang jauh lebih kuat darinya, Long Guan juga tampak tak berdaya.
Meskipun Hung Fei tampak baik namun hubungan mereka juga masih orang asing yang baru saja kenal. Jian Ling saja yang berstatus sebagai istrinya, Long Guan tidak berani mengungkapkan rahasianya mengenai Mustika Naga yang pernah ia dapatkan.
“Sebelumnya memang aku mendapatkan sebuah Mustika Naga, setelah menyerapnya kemudian kekuatanku berada pada tingkat di atas manusia pada umumnya” jawab Long Guan dengan jujur.
Mendengar pengakuan Long Guan membuat Hung Fei terbelalak kaget, ia tidak menyangka bahwa Long Guan dapat melakukannya.
Padahal ia sendiri sudah berkali-kali mencoba dan menyerap Mustika yang ia miliki namun selalu gagal, pada akhirnya dia mengira Mustika tersebut hanyalah barang hiasan saking putus asanya.
Hung Fei mengeluarkan kota kayu dengan ukuran sekitar dua puluh centi meter persegi dari dalam cincin penyimpanan, cincin tersebut hampir sama dengan yang Long Guan gunakan.
“Apakah Mustika Naga yang kau maksud seperti ini” ucap Hung Fei sambil menunjukkan isi dalam kotak tersebut.
Nampak sebuah Mustika berwarna hitam mengkilap seukuran kepalan tangan. Mata Long Guan terbelalak lebar, ia tidak menyangka bisa melihat kembali benda serupa yang pernah diberikan leluhur Long Tian.
Dalam keterkejutannya melihat Mustika Naga, Hung Fei kembali berkata sambil menarik nafas Panjang.
“Sebenarnya benda ini membuatku penasaran, seperti yang aku ceritakan sebelumnya tentang Dewa pelindung Qiu Long yang membagi dirinya ke dalam tujuh pecahan jiwa. Aku mengejar benda ini hingga mengabaikan hukum ruang dan waktu, berdasarkan petunjuk yang kudapatkan saat di alam spiritual. Mustika Naga ini ada tujuh buah, tiga buah berada di alam bawah ini dan sisanya aku tidak tahu.
Aku melakukan hal tersebut karena ingin membangkitkan Dewa Pelindung, sebagai Anggota pasukan Gerbang Naga yang dibentuk olehnya aku merasa miris dengan nasib tragisnya di Alam Surgawi.
Namun melihat darah murni ras Naga yang mengalir dalam tubuhmu, membuatku semakin yakin bahwa benda Mustika Naga ini hanya bisa dimiliki oleh dirimu yang merupakan sebagai pewaris sah dari Dewa Qiu Long” ucap Hung Fei dengan mata berbinar, ia tidak egois untuk memaksakan kehendaknya.
“Getaran yang kau rasakan di dalam tubuhmu, menandakan antar mustika naga memiliki keterikatan sehingga terjadi resonansi untuk saling bersatu” sambung Hung Fei melanjutkan ceritanya.
“Terimalah takdirmu, ku berharap legenda tersebut tidak salah” Kata Hung Fei sambil menyerahkan Mustika Naga tersebut kepada Long Guan.
Kendati demikian Long Guan tampak ragu.
“Senior, apakah anda sudah yakin untuk memberikan benda berharga ini pada diriku?” tanya Long Guan dengan tatapan keraguan.
“Hahaha.. kamu tidak usah berpikiran terlalu jauh, benda itu sama sekali tidak berguna bagiku. Hanya kamu yang bisa menggunakannya, kamu adalah takdir dari sang legenda itu.” Kata Hung Fei dengan senyuman lebar.
“Terimalah dan coba serap kekuatannya, aku sendiri tidak tahu berapa besar kekuatan yang terkandung di dalamnya, namun aku yakin Mustika ini tidak biasa” ucap Hung Fei dengan yakin.
Long Guan pada akhirnya menerima benda tersebut, ia memperhatikan mustika tersebut secara seksama dan memang betul sangat mirip dengan Mustika Naga yang sebelumnya ia serap.
Tatapan mata Long Guan sedikit menyipit, ia merasakan ada getaran lembut di tangannya, seperti sedang dikerumuni sekelompok semut.
Hung Fei yang menyaksikan pemandangan tersebut, lalu berkata.
“Kamu segera berkultivasilah, serap kekuatan mustika tersebut dengan tenang” ucap Hung Fei sambil menunjukan lokasi yang tepat untuk berkultivasi.
“Jika demikian maka junior ini tidak akan menahan diri lagi” ujar Long Guan dengan penuh rasa terimakasih.
Kemudian ia berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Hung Fei lalu duduk dalam posisi lotus sambil menggenggam erat Mustika Naga tersebut.
Ia memejamkan matanya, mengatur nafasnya dengan tenang dan mengalirkan energi Qi nya secara perlahan. Dengan pasti, ia mulai merasakan adanya energi sejenis dari dalam Mustika Naga yang tampak familiar.