
Long Guan merasa tak berdaya, ia selalu saja lemah jika dihadapkan dengan wanita. Bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa membiarkan masalah ini begini saja. Hung Yin merupakan keponakan dari gurunya, ia harus bertanggungjawab. Jika tidak, bagaimana dia harus menunjukkan wajahnya di depan gurunya.
"Huh" Long Guan menarik napas panjang, lalu meninggalkan tempat istirahatnya.
"Salam tuan" ucap seorang pelayan
"Salam tuan" ucap pelayan kedua
"Salam tuan" ucap pelayan ketiga
Long Guan hanya menganggukkan kepala saat melewati tiga orang pelayan keluarga Hung.
"Selamat pagi tuan" ucap kepala pelayan yang melihat Long Guan berjalan.
"Ada yang bisa aku bantu tuan?" lanjutnya lagi
"Aku ingin bertemu dengan tuan Hung Quon" jawab Long Guan.
"Baiklah tuan, silahkan ikuti aku" kata kepala pelayan tersebut dengan sopan.
Keduanya kemudian berjalan ke arah Tenggara, setelah melewati beberapa bangunan, mereka tiba pada sebuah bangunan menyerupai vila dengan nuansa taman yang indah.
"Silahkan tuan" ucap kepala pelayan tersebut sambil mempersilahkan Long Guan duduk di kursi yang terdapat di teras depan.
Kepala pelayan tersebut lalu masuk ke dalam rumah tersebut untuk menyampaikan pesan jika ada Long Guan yang datang untuk bertemu. Setelah peristiwa musnahnya keluarga Tang, seluruh keluarga Hung wajib menghormati dan memperlakukan Long Guan dengan hormat.
Tidak lama kemudian, kepala pelayan tersebut sudah kembali menemui Long Guan.
"Silahkan tunggu sebentar tuan, Tuan Hung Quon sedang bersiap untuk menuju kemari. Jika tidak ada yang lain saya mohon pamit" ucap kepala pelayan tersebut dengan sopan.
"Terimakasih atas bantuannya" ucap Long Guan dengan ramah.
Lalu kepala pelayan tersebut meninggalkan Long Guan yang sedang duduk di teras.
Tidak lama berselang, Hung Quon tiba di hadapan Long Guan.
"Salam tuan Hung" ucap Long Guan yang langsung berdiri saat melihat Hung Quon.
"Ya, tak perlu sungkan nak" balas Hung Quon yang sedilkit terkejut dengan kedatangan Long Guan.
"Terimakasih tuan, mohon maaf apabila kedatanganku mengganggu" ujar Long Guan dengan sedikit sungkan.
"Tidak apa-apa, anggap saja kediaman sendiri" jawab Hung Quon dengan ramah.
Kemudian ia mengajak Long Guan untuk masuk ke dalam kediaman, Long Guan dipersilahkan duduk pada sebuah kursi di ruang keluarga. Suasananya cukup santai, sikap Hung Quon yang terbuka membuat Long Guan merasa sedikit tertekan. Ia semakin merasa tidak nyaman dengan apa yang tadi malam telah terjadi.
Tidak lama Long Guan duduk, Hung Yin datang menyiapkan teh untuk ayahnya dan Long Guan. Kedua pasang mata bertemu, membuat keheningan. Hung Yin sedikit salah tingkah dengan menumpahkan cangkir yang berisi teh ke arah Long Guan. Sontak saja kejadian tersebut membuat Hung Quon menegur putrinya tersebut.
"Yin'er kenapa kamu tidak hati-hati?" tegur Hung Quon.
"Maaf ayah, maaf atas kecerobohanku" ucap Hung Yin dengan gugup.
"Minta maaflah pada nak Guan" ucap ayahnya tersebut sedikit kesal.
"Sudah tuan, tidak apa-apa" ucap Long Guan berusaha menengahi.
Hung Yin menatap Long Guan sambil menggelengkan kepala seolah memberikan tanda. Hung Yin khawatir jika tindakannya semalam akan dilaporkan oleh ayahnya, jika itu terjadi maka ia bisa diusir dari keluarga besar Hung. Wajah cantik Hung Yin berubah menjadi pucat pasi saat membayangkan hal tersebut.
"Saudara Guan, tolong maafkan aku" ucap Hung Yin dengan perasaan takut.
Long Guan yang menyadari perubahan ekspresi Hung Yin hanya terdiam. Dirinya juga saat ini dalam keadaan rumit. Keduanya saling pandang dan terdiam dalam beberapa waktu.
"Ehmm" terdengar Hung Quon yang pura-pura terbatuk ringan.
Hung Quon segera berdiri dan berjalan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Dasar anak muda" ucap Hung Quon sambil tersenyum lebar. Dalam hatinya ia tetap bahagia jika putrinya bisa memiliki hubungan yang baik dengan Long Guan.
Sepeninggal ayahnya, Hung Yin tidak berkata apapun. Ia menunduk malu dengan tatapan Long Guan yang kini tengah mengarah kepadanya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Long Guan dengan nada mengintrogasi.
"Emm.." terdengar suara Hung Yin sambil menggigit bibirnya.
Long Guan sedikit menahan kecewa melihat Hung Yin, meskipun ia cantik namun posisi Long Guan sangat sulit. Dengan Yu Nuan dan Yu Nuwa saja ia bisa menahan diri, tapi Hung Yin telah menjebaknya ke dalam situasi yang rumit.
"Seperti yang kukatakan, kamu tidak usah mencariku. Akupun tidak akan meminta pertanggungjawaban dirimu" ucap Hung Yin sambil menundukkan kepala.
"Dasar gadis bodoh" ucap Long Guan.
"Maafkan aku, kumohon jangan bilang kepada ayahku"
Pinta Hung Yin dengan nada memohon. Kantung air matanya mulai terlihat menebal. Namun ia masih menahannya agar tidak sampai tumpah membasahi pipinya.
"Masalah ini tidak dapat dibiarkan begitu saja, apalagi aku akan kembali ke Sekte. Aku tidak mau masalah ini akan menjadi batu sandunganku di masa depan" ucap Long Guan tegas.
Deg!
Jantung Hung Yin berdetak seolah akan berhenti, ia tidak mengira jika Long Guan benar-benar akan melaporkan masalah semalam kepada ayahnya. Mau di taro dimana mukanya jika semua orang tahu bahwa dirinya telah menjebak Long Guan dengan cara yang licik.
"Bruk" tiba-tiba tubuh Hung Yin berlutut di depan Long Guan.
"Tolong jangan beritahu ayahku" ucap Hung Yin sambil terisak menahan tangis.
Melihat Hung Yin yang berlutut, dengan cepat Long Guan menghampiri dan segera memapah tubuh Hung Yin untuk bangkit.
"Dasar benar-benar gadis bodoh" ucap Long Guan sambil mencondongkan tubuh Hung Yin ke dalam pelukannya.
Dengan lembut Long Guan mengusap punggung Hung Yin.
"Kamu jangan pernah berbuat seperti itu lagi" ucap Long Guan pelan.
"Ba.. Baik" sahut Hung Yin sambil terisak.
"Sekarang tolong panggilkan ayahmu, ada yang mau aku bicarakan" ucap Long Guan.
Hung Yin segera melepaskan pelukan Long Guan, wajahnya kembali memucat.
"Tolong jangan sampai..." ucap Hung Yin yang belum meneruskan kata-katanya.
"Sudah, turuti saja ucapanku" ucap Long Guan sambil mengusap air mata dari pipi Hung Yin.
Dengan ragu-ragu Hung Yin akhirnya menuruti permintaan Long Guan.
Tidak lama kemudian Hung Yin sudah kembali bersama ayahnya.
Kemudian Hung Yin hendak melangkah pergi namun langkahnya tertahan oleh ucapan Long Guan.
"Tunggu, kamu tetap di sini" ucap Long Guan.
Hung Yin menoleh ke ayahnya, kemudian melirik ke Long Guan sebelum ia kembali duduk. Hanya saja kini duduknya persis di samping Long Guan. Pada saat ini ia hanya pasrah jika Long Guan benar-benar ingin melaporkan perbuatannya tadi malam. Dengan mengatur napas, ia berusaha tegar menghadapi ini.
Sementara Hung Quon sedikit bingung melihat reaksi putrinya, namun jika melihat Long Guan ia juga tidak dapat menebak hal apa yang akan ia bicarakan.