
Dalam tempo yang berbarengan, tiba-tiba sesosok pria paruh baya muncul di tengah mereka. Seisi ruangan hening, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Apa begini cara kalian menyambutku!” Ucap suara lelaki tersebut dengan tatapan tajam. Sontak perkataannya membuat para Tetua langsung menangkupkan kedua tangannya, pandangan mereka tertunduk. Bahkan
Patriark Han Zao tercengang, kakak seperguruannya yang sudah seabad lebih tidak menginjakkan kakinya di Sekte Pedang Bintang kini muncul tiba-tiba. Pria dengan jubah ungu ini merupakan Legenda Gunung Lima Jari, Ang Bei!
“Salam kakak seperguruan” Ucap Patriark Han Zao dengan hormat. Dari sekian banyak orang yang hadir, hanya Long Guan yang tampak tenang, setelah menghabiskan waktu semalaman untuk bergadang keduanya semakin akrab.
Long Guan tampak tenang, lalu berkata “Salam Tetua, murid memberi hormat” Tetua Ang Bei tersenyum senang melihat Long Guan baik-baik saja.
“Aku mengkhawatirkanmu, sekaligus aku ingin membereskan kekacauan” Ucap Tetua Ang Bei kepada Long Guan. Sikapnya yang begitu hangat kepada Long Guan membuat pikiran Patriark dan Tetua lainnya berkecamuk hebat.
“Bagaimana Long Guan bisa berhubungan dengan Si Master Pedang Hitam?”
Pertanyaan ini hampir merata diisi kepala mereka, Tetua Ang Bei adalah orang yang kejam, julukannya sebagai Master Pedang Hitam bukan gelar biasa, itu ia dapatkan karena setiap membunuh lawannya ia tak pernah memandang atau berpikir dua kali, setiap pedang terhunus maka akan ada nyawa yang melayang!.
“Sungguh konyol!”
“Apakah Sekte Pedang Bintang begitu buta memperlakukan sebuah berlian seperti pecundang!?”
Ucap Tetua Ang Bei penuh emosi. Ucapannya ini seperti menampar wajah Patriark Han Zao, ia mengerti apa yang dimaksud oleh kakak seperguruannya.
“Aku mendengarkan semua yang terjadi di sini, apa yang dikatakan oleh Long Guan adalah kebenaran. Kau sebagai Ketua Sekte sudah melakukan kecerobohan besar, sumberdaya Sekte bocor dan dinikmati oleh pihak luar tapi kamu tidak tahu. Sungguh tidak berguna!”
Tetua Ang Bei memandang semua yang hadir dengan kesal, Sekte Pedang Bintang adalah warisan gurunya. Ia mempercayakan kepada Han Zao untuk mengelolanya dengan baik dan berharap kejayaan Sekte Pedang Bintang bisa terulang seperti dulu.
Patriark Han Zao jelas merasa sangat bersalah, dialah orang yang paling bertanggungjawab dalam hal ini. Dua orang Tetua telah mengkhianatinya secara terang-terangan, namun ia begitu bodoh untuk tidak mengetahuinya.
Ia merasa bersalah, sudah ribuan murid yang keluar dari Sekte Pedang Bintang dengan status orang tak berguna. Dosa ini terlalu besar baginya, ia menatap Wang Xuemien dan Wang Chunying penuh dendam.
Pupil matanya membesar, menghadirkan sosok yang sangat menakutkan. Ditatap demikian, dua orang Tetua tersebut menggigil ketakutan, dahinya berkeringat dingin.
“Hukuman yang pantas untuk pengkhianat Sekte adalah kematian!”
Ucap Patriark Han Zao dengan geram.
“Tunggu!”
Ucap Tetua Ang Bei lalu menatap Long Guan. "Keluarkan pedangmu! hanya pedangmu yang layak menghakimi Tetua".
Ucapan Tetua Ang Bei tentu saja membuat yang lain menjadi heran, bagaimana bisa? Setahu mereka Long Guan memiliki Pedang Bintang Ketiga sebagai identitas dari Tetua Hung Fei, yang setara dengan para Tetua lainnya. Sementara Ketua sekte memiliki Pedang Bintang Kedua, lebih tinggi dari miliknya.
Long Guan tanpa ragu mengeluarkan sebilah pedang dari dalam Cincin penyimpanannya.
Semua yang hadir mengerutkan dahi, memandang sebilah pedang dengan aura yang sangat kuat.
“Pedang Biru!”
Menurut legenda, Pedang Biru merupakan pedang yang memiliki kemampuan menebas benda apapun, ia ditahbiskan sebagai pedang terkuat di Alam Spiritual, bahkan pedang tersebut memiliki kandungan bahan dari alam surgawi yang berarti sejajar dengan pusaka langit.
Patriark Han Zao menghela napas, tangannya sedikit gemetar memegang Pedang Biru. Long Guan menyerahkannya begitu saja tanpa beban, benda pusaka Sekte Pedang Bintang berada di tangan seorang murid lemah.
“Apakah langit benar-benar ingin menghukumku?” Gumamnya tampak tak berdaya. Namun ia segera sadar dan dengan cepat ia mengalirkan Qi, pedang tersebut berdengung memancarkan cahaya berwarna biru sebagai energi bawaan.
Raut wajah Tetua Wang Xuemien dan Wang Chunying berubah panik ketika Partiark mendekat kepadanya, para Tetua yang lainnya hanya menghela napas dalam-dalam. Tentu saja mereka semua memiliki kebencian dan kekesalan yang sama terhadap Tetua Wang.
Mereka sudah banyak kehilangan murid, serta menjadikan mereka sebagai murid yang di cap tidak berguna. Pada akhirnya mereka berpikir, Sekte Pedang Angin juga yang terkena dampak karena gagal membina talenta para murid.
Hanya dalam satu tarikan napas, dua kepala sudah terpisah dari badannya. “Pedang Biru memang sesuai reputasinya”, Batin Patriark Han Zao setelah menghabisi nyawa Tetua Wang Xuemien dan Tetua Wang Chunying.
Kini tersisa tiga orang Tetua yang tersisa, membuat Patriark semakin cemas dengan kemajuan Sekte Pedang Bintang.
“Brak!”
Tiba-tiba Patriark Han Zao jatuh dengan kedua lututnya menyentuh lantai.
“Aku Han Zao, mulai hari ini menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Sekte Pedang Bintang”.
Ucapnya dengan wajah sungguh-sungguh. Namun bagai petir di siang hari, tindakan Patriark Han Zao mengagetkan para Tetua yang hadir, mereka diam seribu bahasa. Di bayangan mereka, Sekte Pedang Bintang akan merosot bahkan bisa bubar.
Melihat sikap Patriark yang sudah mengundurkan diri, Tetua Ang Bei hanya terdiam. Ia juga tidak bisa mencegah sikap adik seperguruannya tersebut, ia mengenal Han Zao sebagai seseorang yang berdedikasi.
“Keadaan sudah sampai seperti ini, kuharap kalian semua bisa merahasiakan peristiwa yang baru saja terjadi!” Ucap Tetua Ang Bei sambil menatap dengan sorot mata yang kejam.
Namun tidak bagi Long Guan, ia segera maju ke depan. Melihat Patriark yang masih berlutut, Long Guan maju dan memapah Patriark untuk segera bangkit. Tindakannya ini sungguh berani, bahkan Tetua Ang Bei kagum dengan keberanian Long Guan.
Ia bisa bersikap dengan wajar, seolah Patriark berada sejajar dengannya, sikap tenang dan penuh percaya diri seperti ini tidak akan dijumpai pada murid-murid yang lain.
“Patriark bangunlah, izinkan murid menyampaikan beberapa pandangan” Ucap Long Guan yang tangannya sudah memapah Patriark untuk bangkit seperti semula.
“Mohon maaf jika murid ini bersikap lancang, namun situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan. Penyesalan tanpa memberikan solusi hanya akan membuat masalah menjadi rumit. Oleh sebab itu lebih baik kita semua melakukan terobosan untuk kemajuan Sekte” Ucap Long Guan penuh keyakinan.
Matanya tampak memancarkan harapan tak berujung, adem dan membawa ketenangan. Patriark Han Zao merasa ia seperti seorang murid, dan Long Guan lah yang seorang mentor.
Saat ini ia tidak bisa berpikir jernih, kesalahannya sebagai Ketua Sekte sangat fatal, bahkan bisa dibilang sangat bodoh. Sementara Tetua Ang Bei hanya mengangguk ringan, ia bukanlah orang yang pandai berstrategi dalam suatu urusan.
Ia hanya seorang petarung yang berjiwa taktis, pedang adalah mulutnya. Ketika pedang sudah berbicara maka itulah representasi dirinya.
Long Guan melanjutkan perkataannya, “Mengenai Patriark Han Zao, sebaiknya tetap berada di posisi inti pengurus Sekte sebagai Penasehat atau Tetua Agung Sekte Pedang Bintang bersama dengan Tetua Ang Bei.
Untuk posisi Ketua Sekte sebaiknya diisi oleh Tetua Chan Fan dengan dua orang Wakil Ketua, yaitu Tetua Liu bersaudara dengan melekat tugas sebelumnya sebagai ahli Formasi dan Ahli Penempaan.
Sementara untuk Bukit Utama Keempat perlu digabung dengan Bukit Kedua, menurutku bidang Formasi, Sihir dan Jimat merupakan satu kesatuan. Lalu bukit Keenam akan bergabung dengan Bukit Kelima sebagai bagian dari Divisi Alkemis”. Ucap Long Guan penuh keyakinan.