
Setelah meninggalkan para Tetua dan Ketua Sekte, Long Guan bergerak menuju Bukit Keenam. Di tengah jalan, ia merasakan aura sangat kuat bersembunyi mengikutinya.
Long Guan berjalan dengan hati-hati dengan sedikit cemas. Indera spiritualnya merasakan sebuah bayangan yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Long Guan berhenti sejenak, ia menghela napas, berpura-pura lelah sambil memperhatikan ke sudut Bangunan Sekte yang tidak jauh dari Bukit Keenam.
Long Guan memicingkan matanya, mengedarkan indera spiritual lebih dalam. Ia merasakan napas berat dari seorang kultivator, menandakan kemampuannya tidak biasa.
Long Guan menjadi khawatir seketika, dalam situasi ini sangat sulit bagi dirinya untuk menghadapi kultivator tangguh seperti itu.
Ia menyadari para Penatua masih dalam kondisi belum fit, menciptakan pertempuran sama saja dengan memperparah keadaan. Di sisi lain ia juga tidak mau terlalu mengekspos dirinya di Alam Spiritual.
Indera spiritualnya terus bekerja, ia penasaran dengan orang yang sedang mengawasinya. Long Guan melirik ke arah dimana orang tersebut berada, pupil matanya melebar dan hatinya masih dipenuhi kekhawatiran.
Meski Long Guan khawatir di dalam hatinya, wajahnya tetap tidak berekspresi. Ia melangkah semakin mendekat ke sosok dalam bayangan tersebut, napasnya semakin berat terasa.
“Keluarlah!”
teriak Long Guan tanpa ragu.
Sesosok tubuh menampakkan diri, seorang lelaki tua menatap Long Guan dengan tatapan membunuh.
Perlahan-lahan Ia melangkah mendekat ke arah Long Guan, sudut mulutnya sedikit naik. Tangan kanannya memegang belati yang lebih besar dari ukuran biasanya, aura membunuh sangat pekat terasa.
Wajah Long Guan mulai mengeluarkan keringat dingin. Ia bisa memperkirakan kekuatan lelaki tua itu setara dengan Penatua Agung Ang Bei, tekanannya membuat Long Guan ketakutan.
Melihat lawannya yang ketakutan membuat lelaki tua itu tersenyum senang. Ia menikmati pemandangan ini, meskipun ia sedang terburu-buru namun ia merasa puas melihat ekspresi mangsanya yang tidak berdaya.
“Nak, jangan salahkan aku. Salahkan sendiri kamu telah mengusik Keluarga Wang”
Mendengar ucapan lelaki tua tersebut, hati Long Guan menjadi dingin. Ia sudah menduga lelaki di depannya memiliki niat tidak baik.
Long Guan sedikit gemetar, tanpa sadar kakinya melangkah mundur.
Perbedaan tingkat kekuatan yang sangat besar tidak mungkin bisa ia hadapi dengan mudah. Ia perlu memikirkan strategi yang tepat.
Long Guan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, ketakutan dan tekadnya bersatu dalam tubuhnya. Kembali menimbulkan dorongan tenaga dalam yang luar biasa. Kepercayaan diri Long Guan mulai tumbuh kembali.
“Pukulan Sembilan Naga!”
teriak Long Guan mengerahkan tinju yang sangat kuat ke arah lelaki tua tersebut.
Lelaki tua tersebut hanya tersenyum datar menyikapi serangan Long Guan, ia mengangkat telapak tangannya dan mengalirkan Qi yang sangat besar.
“Booom!”
Ledakan dahsyat terdengar. Hal ini tentu saja memancing perhatian Penatua Ang Bei dan Han Zao yang sedang berdiskusi.
Sepeninggal Long Guan, para Punggawa sekte Pedang Bintang tengah berbincang serius membicarakan beberapa hal yang baru saja terjadi.
“Tunggu sebentar, sepertinya aku sudah melewatkan sesuatu”
ucap Penatua Agung Han Zao.
Ia lalu meneruskan perkataannya, beberapa waktu yang lalu saat aku baru selesai bermeditasi aku merasakan kekuatan dari dunia fana.
Saat itu auranya sangat lemah, namun dalam meditasiku aura itu menandakan milik sang pelindung. Long Guan juga berasal dari dunia fana, memiliki aura yang sama yang pernah kurasakan saat itu.
Ang Bei tidak terkejut dengan ucapan adik seperguruannya itu, sebelumnya ia mengetahui identitas Long Guan sebagai cucu dari Long Tian. Oleh sebab itu ia mau kembali ke dunia persilatan dalam rangka menjaga Long Guan dan mengawalnya ke punak kekuatan!
Ketika mereka masih membahas tentang Long Guan, tiba-tiba terdengar suara ledakan akibat pertarungan. Penatua Ang Bei dan Han Zao segera bergegas menuju arah Bukit Keenam dimana sumber ledakan berasal.
Di arena pertarungan..
Kemudian lelaki berjubah hitam itu menyentuh janggutnya dan berkata sambil tersenyum lebar, haha ternyata kamu orangnya!
Kamu spertinya manusia yang ditakdirkan sebagai legenda Alam Surgawi. Namun sebelum itu terjadi, maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu.
Saat ini Qi di dalam tubuh Long Guan kembali melonjak, dari persepsinya ia merasakan dua kekuatan sedang mendekat.
Pukulan besar yang baru saja Long Guan lepaskan adalah bagian dari strateginya untuk menarik perhatian. Dengan gabungan beberapa kekuatan, ini akan mudah untuk membunuh lelaki tua yang berada di hadapannya.
“Apa?”
Dasar Sial”
teriak lelaki tua tersebut ketika baru menyadari dua kekuatan ikut bergabung.
“Dasar anak muda, kamu memiliki kesenangan tapi tidak mengajakku” ucap Penatua Agung Ang Bei.
Senyum di wajah lelaki tua tersebut membeku seketika. Dia menatap kaget kedatangan dua orang yang berada di hadapannya, Ang Bei dan Han Zao.
Dua orang yang baru saja datang memiliki kekuatan yang sama dengannya, barusan ia masih memiliki kesempatan untuk membunuh Long Guan.
Ia menyesal telah membiarkan Long Guan mengulur waktu!
“Siapa kamu!” Ang Bei bergerak dengan cepat dan berdiri di depan Long Guan. Penatua Han Zao berada di sebelahnya, menjaga Long Guan.
“Apakah kamu Wang Cao? Penatua Ang Bei beseru.
Lelaki tua itu tidak menjawab, ia mengumpulkan Qi di telapak tangannya. Ia mau melakukan serangan pengalihan dan hendak melarikan diri.
“Dasar bedebah” Kau pikir aku tidak tau dengan apa yang kau rencanakan” gumam Ang Bei dalam hati. Ang Bei segera mengaktfikan jurus pamungkasnya.
“Aku kira kamu akan benar-benar pensiun dari dunia persilatan, namun tidak kusangka rumor yang beredar ternyata benar. Kau kembali turun gunung” ucap lelaki tua tersebut dengan Qi yang sudah siap ditembakkan.
Long Guan hanya terdiam mendengar percakapan mereka, sambil meminum Pil Penambah Energi ia berusaha menstabilkan tubuhnya.
Pada saat ini Long Guan dapat mendengarkan suara angin yang berdesing di telinganya, lalu ia mendengar suara teriakan melengking.
“Aaah!”
“Aaah!”
Suara lelaki tua itu melengking panjang sebelum berhenti dan terdiam. Tubuhnya hancur terpotong menjadi beberapa bagian, akibat kombinasi serangan dari Ang Bei dan Han Zao.
Di sisi lainnya Yu Nuan besama adiknya, terengah-engah melihat dua Penatua Agung sedang membunuh seorang pria berjubah hitam yang ia tidak kenal. Hanya jeritanya yang ia dengar mengakhiri hayatnya.
Ketika Yu Nuan melihat Long Guan, dia tercengang sejenak, matanya menjadi merah mengalirkan air mata.
“Long Guan!”
Yu Nuan berlari dan menubruk Long Guan dengan pelukan, ia memeluk erat sambil melampiaskan emosinya.
Sementara Yu Nuwa yang berada di samping mereka hanya tersenyum melihat pemandangan ini.
Yu Nuan tidak merasa terganggu dengan keberadaan adiknya yang hanya melihat.
“Jangan bersedih, aku baik-baik saja” ucap Long Guan sedikit gugup.
Long Guan memegang kepala Yu Nuan, mengusapnya dengan lembut. Air mata yang mengalir di wajahnya perlahan berhenti, hatinya merasa nyaman diperlakukan seperti ini.
Meskipun mereka bukan sepasang kekasih, bagi Yu Nuan ketika melihat Long Guan baik-baik saja dirinya menjadi tenang. Kegelisahannya berubah menjadi nyaman.
Melihat kakanya sudah bisa tersenyum, ada sedikit kegembiraan yang muncul di wajah Yu Nuwa.