Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Menuju Puncak Abadi


Long Guan masih menjalani kesibukan pemurnian pil di aula alkimia, tatapannya selalu terpusat ke pintu masuk aula. Dalam beberapa hari ini ia telah mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk memajukan aula alkimia, beberapa murid ia beri pengetahuan lebih spesifik mengingat peran Yu Nuan dan Yu Nuwa tidak ada yang menggantikan. Secara otomatis Long Guan menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Untungnya berkat pengalaman yang baik dalam mengatur ia cepat melakukan adaptasi. Sementara itu bayangan Yu Nuan masih lekat dalam ingatannya. Lin Mei yang memperhatikan gerak gerik Long Guan segera berkata, "Saudara Guan, apa yang sedang kau cari?" tanya Lin Mei dengan tatapan heran.


"Aku sedang menunggu kedatangan nona Yu" ucap Long Guan jujur. Sudah tiga hari dirinya tidak melihat dua keindahan yang biasanya selalu mengusiknya.


"Apakah mereka tidak bilang padamu?" tanya Lin Mei sedikit mengernyitkan dahinya.


"Tentang apa?" tanya Long Guan polos.


"Tiga hari yang lalu, Nona Yu Nuan dan Nona Yu Nuwa pergi meninggalkan Sekte pada pagi hari" ucap Lin Mei.


"Apa?" tanya Long Guan dengan ekspresi terkejut. Ia tidak menduga sama sekali dan ia juga tidak mengetahui ada kejadian besar seperti ini.


"Mereka pergi kemana?" tanya Long Guan lagi. Wajahnya tampak penasaran.


"Aku tidak tahu mereka pergi kemana, namun sepertinya mereka pergi untuk waktu yang lama. Barang-barang pribadi mereka ikut disertakan dengan kepergian mereka" ungkap Lin Mei.


Kepala Long Guan seperti mau meledak, ia mematung sejenak, ia yang menyebabkan Yu Nuan pergi.


"Huh"


Long Guan menarik napas panjang namun tatapannya kosong.


"Kudengar sebelum mereka pergi, mereka menemui Ketua Sekte untuk berpamitan" sambung Lin Mei.


"Benarkah?" ekspresi Long Guan sedikit berubah, ia sedikit mendapat pencerahan.


"Ya, tentu saja" jawab Lin Mei serius sambil memperlihatkan gestur tubuh yang meyakinkan.


Tanpa mengulur waktu, Long Guan segera menuju aula sekte di Bukit Utama. Ia berjalan dengan cepat dan menghiraukan sapaan beberapa orang. Kepanikan telah membuat dirinya tidak memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya.


"Mohon izin Ketua" ucap Long Guan yang tiba-tiba sudah berada di dalam aula utama Sekte. Beberapa petugas jaga tidak dapat melihat gerakan Long Guan memasuki aula.


"Ada apa? kelihatannya kamu terburu-buru sekali" tanya Ketua Sekte dengan sedikit terkejut.


Sementara dua orang Tetua hanya memandang Long Guan dengan ekspresi bingung.


"Beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali mereka berdua pamit untuk meninggalkan Sekte. Mereka bilang sedang ada masalah dengan keluarga Yu di wilayah Barat" ujar Chan Fan sedikit heran.


"Apa yang terjadi? bukankah kalian dekat?" tanya Chan Fan.


Mendengar ucapan Ketua Sekte, membuat Long Guan terdiam. Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah dan rasa mempertahankan perasaannya. Sebelumnya ia memang bersalah karena telah membiarkan Yu Nuan larut dalam perasaannya. Sementara Hung Yin kini sudah hadir dalam hidupnya, ia juga tidak mungkin untuk mengkhianatinya.


"Owh aku mengerti" tiba-tiba Ketua Sekte berkata sambil tersenyum.


"Kalian yang masih muda terlalu cepat mengambil keputusan, kamu juga seharusnya bisa bersikap lebih adil terhadap orang lain" ucap Ketua Sekte sembari menasehati.


Long Guan terlihat bodoh, ia terdiam sesaat kemudian berkata, "Ketua, aku akan membereskan semuanya" ucap Long Guan dengan yakin.


"Baguslah, kamu lelaki harus bisa lebih tegas pada wanita, jika memang tidak suka jangan pernah memberi mereka harapan. Jangan sampai dibilang Pemberi Harapan Palsu" ucap Ketua Sekte Pedang Bintang tersebut.


"Sebaiknya kamu bersiap, lusa kita akan berangkat ke Puncak Abadi. Persiapkan dirimu untuk menjadi yang terbaik" ujar Ketua Sekte sambil tersenyum.


"Jika kamu berhasil, tentu Sekte Pedang Bintang tidak akan melupakan kontribusimu. Namun tentu saja kami tidak membebankan secara penuh padamu, apapun hasilnya kami percaya padamu" sambung Chan Fan lagi.


"Baik Ketua, aku akan melakukan yang terbaik" jawab Long Guan.


Setelah dirasa cukup, Long Guan akhirnya pamit undur diri, ia sudah mendapatkan kepastian tentang Yu Nuan. Selanjutnya ia akan mempersiapkan diri untuk kompetensi antar Sekte di Alam Spiritual. Rencananya sore ini ia akan kembali ke Keluarga Hung untuk menemui Hung Yin. Ada beberapa hal yang ia harus bicarakan dengan istrinya tersebut.


Long Guan tiba di dalam rumahnya di kediaman keluarga Hung, melalui portal teleportasi ia bisa melakukan perpindahan dua tempat lebih mudah. Dengan kekuatannya yang berada di Semesta Kedelapan, kekuatan teleportasinya semakin membaik. Selama sehari semalam Long Guan bersama istrinya, ia mengatakan tentang rencananya yang akan mengikuti kompetisi antar Sekte di Puncak Abadi. Long Guan juga menceritakan tentang semua hal yang terkait dirinya berada di Alam Spiritual, Xie Annchi dan Yu Nuan juga tidak lepas dari hal yang ia ceritakan.


Hung Yin hanya terdiam saat Long Guan menyebut nama dua wanita, belum lagi tentang kehidupan Long Guan di Dunia Fana. Tetapi Hung Yin tidak bisa menentang semuanya, ia hadir saat semuanya sudah berjalan tanpa sepengetahuannya. Adapun cintanya pada Long Guan semua bermula dari kekonyolan semata, ia juga tidak akan menyesalinya. Setidaknya dengan kebersamaan saat ini membuatnya lebih tenang dan lebih menilai arti kebersamaan. Long GUan juga memperlakukan dirinya selayak istri, jadi dirinya tidak memikirkan hal-hal lainnya.


Di sisi lain Hung Quon sang ayah mertua sangat antusias mendengar menantunya akan ikut bergabung dalam ajang tersebut, sesuai dugaannya Long Guan adalah murid Sekte Pedang Bintang yang paling potensial. Ia dan keluarga Hung akan mendukung penuh Long Guan, bahkan secara pribadi keluarga Hung akan ikut menyaksikan pertandingan tersebut.


Dua hari berlalu dengan cepat, Long Guan telah berada di Sekte Pedang Bintang kembali. Ia tidak merasakan lelah setelah mlakukan beberapa aktivitas fisik bersama istrinya. Justru ia merasakan kekuatannya menjadi lebi stabil dan semakin kuat indera spiritualnya. Di Sekte, para murid yang berjumlah sepuluh orang termasuk Long Guan sudah bersiap untuk berangkat. Beberapa murid tampak tertekan dengan beban kompetisi kali ini, mereka akan menjadi harapan Sekte. Berita munculnya para jenius di Sekte lainnya menjadikan mereka tidak percaya diri. Meskipun tidak ada pertarungan satu lawan satu, namun kompetisi tidak melarang para peserta untuk melakukan pertarungan demi memperebutkan poin.


Penatua Agung Han Zao kini yang memimpin para murid, ia tidak menggunakan burung Elang Emas sebagai alat transportasi. Rombongan murid Sekte Pedang Bintang menggunakan portal dimensi waktu yang dimiliki oleh Sekte Pedang Bintang. Untuk jarak jauh, akan lebih efektif jika menggunakan portal teleportasi. Selain bisa menghemat waktu, hal ini juga bisa menjaga stamina para murid.