
Kereta kuda melaju dengan cepat, berjalan menuju keramaian Kota Zhenxun. Long Guan menyaksikan para penduduk kota tengah beraktivitas. Mayoritas penduduk Ibukota berdagang dan melakukan beberapa bisnis lainnya.
Berdasarkan cerita yang disampaikan oleh Hung Yin, keluarga Hung merupakan bagian dari pebisnis di Ibukota Zhenxun. Di Wilayah Selatan Keluarga Hung bisa dibilang sebagai keluarga kelas atas. Adanya perselisihan dengan keluarga Tang beberapa tahun terakhir sempat menggoyahkan beberapa aspek bisnis mereka.
Perseteruan bisnis mereka berujung pada bentrokan fisik. Meskipun dalam hal kekayaan, keluarga Tang berada di bawah keluarga Hung namun keluarga Tang merupakan praktisi beladiri. Keluarga Tang menapaki bisnis keluarga hampir mengikuti jejak Keluarga Wang di Kota Dengfeng.
Mengingat keluarga Wang, jika saja tidak dimusnahkan maka kekuatan seperti itu akan
menjadi momok yang sangat menakutkan di Wilayah Selatan. Ada skenario besar yang tengah dijalankan oleh salah satu Tetua di Sekte Puncak Abadi untuk melakukan pemberontakan dan penggulingan Pemimpin Sekte.
Dengan hancurnya Keluarga Wang, maka peta pergerakan akan bergeser ke Sekte Puncak Abadi sebagai porosnya. Tanpa disadari oleh Long Guan, dirinya telah mengambil peran yang sangat penting . Long Guan kini telah menjadi sosok yang tengah diperhitungkan dan diburu oleh kelompok tertentu. Semua ini tentu dibawah pengawasan guru Wang Yushan yang merupakan salah seorang Tetua dari Sekte Puncak Abadi.
Pada saat ini, kereta kuda yang dinaiki oleh Long Guan tiba di depan sebuah Manor mewah. Gerbang masuk yang begitu luas dijaga oleh satu regu pasukan berjumlah tiga puluhan orang. Long Guan berdecak kagum, “Pantas saja Nona Hung Yin begitu egois” batinnya.
Long Guan juga berpikir tentang harta yang diberikan oleh gurunya, ribuan koin emas dan batu energi ia dapatkan sebagai bekal menuju Alam Spiritual. Awalnya Long Guan berpikir jika Sekte Pedang Bintang begitu kaya, namun kini ia baru saja dipertontonkan kenyataan yang sesungguhnya. Gurunya, Hung Fei ternyata putra bangsawan dari Ibukota Zhenxun.
“Selamat datang Nona” ucap seorang Kepala Penjaga saat melihat Hung Yin.
Ia menyapa dengan penuh rasa hormat, diikuti oleh seluruh prajurit lainnya. Long Guan dapat mengukur kekuatan Kepala Prajurit yang berada pada ranah Semesta Ketiga.
Mereka semua menundukkan kepala memberikan penghormatan, sesekali diantara mereka mencuri pandang memperhatikan sosok pria yang berada di samping Hung Yin. Kereta kuda kembali melaju menuju pelataran keluarga Hung yang sangat luas.
“Tidak disangka Nona Hung Yin kembali dengan membawa kekasihnya” ucap seorang prajurit jaga.
“Tampaknya mereka adalah pasangan yang cocok” ucap yang lainnya lagi.
“Tetapi sepertinya pemuda tampan itu hanya pendekar biasa” sahut Kepala Penjaga dengan sedikit menyayangkan.
Suara obrolan mereka berlangsung beberapa saat setelah kereta kuda yang dinaiki Long Guan berangsur menghilang dari pandangan mereka. Tetapi dari gelombang suara, Long Guan masih dapat mendengarkan percakapan mereka.
Long Guan dan Hung Yin tiba di depan sebuah bangsal, tampak dua orang laki-laki tengah memperhatikan kedatangan mereka.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah Hung Yin berlari setelah ia turun dari kereta kuda.
“Ayah, Kakek!”
Teriak Hung Yin penuh semangat menghampiri kedua lelaki tersebut. Mereka berdua adalah Patriark keluarga Hung dan anaknya sekaligus merupakan ayah dari Hung Yin.
“Bagaimana kabarmu Yin’er?” tanya kakeknya yang bernama Hung Yuwen.
“Baik Kek, semua karena pertolongan seseorang” jawab Hung Yin cepat.
“Yin’er, siapa pria yang berada di belakangmu?” tanya kakeknya.
“Maaf Kakek, aku lupa mengenalkannya. Dia adalah Long Guan murid dari Sekte Pedang Bintang” ucap Hung Yin.
Wajah Hung Yin memerah seketika, ia tidak menduga jika kakeknya akan berkata demikian. Hung Yin merupakan wanita muda yang tercantik di keluarga Hung, hanya saja Long Guan mengabaikan kecantikannya. Bahkan dalam hati Hung Yin sedikit merasa aneh dengan sikap Long Guan tersebut.
“Huh, Kakek.. Dia adalah murid paman Hung Fei, selain sebagai penolongku dia juga mau menyampaikan sesuatu terkait paman” ungkap Hung Yin dengan raut wajah serius.
Tatapan Hung Yuwen menyipit, ia memperhatikan Long Guan.
“Salam Tuan, perkenalkan saya Long Guan” ucap Long Guan dengan tenang dan sangat sopan.
“Apakah benar tentang apa yang baru saja cucuku katakan?” tanya Hung Yuwen sedikit terkejut.
Sementara di sampingnya, ayah Hung Yin tampak serius memperhatikan.
“Tentu saja benar tuan” ucap Long Guan.
“Baiklah, mari kita bicarakan di dalam saja” ajak Hung Yuwen.
Hung Yuwen meraih tangan Hung Yin, cucu kesayangannya. Mereka berempat lalu memasuki sebuah ruang keluarga yang sangat luas. Ada beberapa kursi mewah dan hiasan yang melengkapi keindahan ruangan tersebut.
Long Guan kemudian duduk di sebuah kursi, di sampingnya ada Hung Yin yang menemani. Beberapa anggota keluarga lainnya juga datang, ikut berkumpul di ruang keluarga Hung.
“Bisakah kamu menceritakan tentang identitasmu?” kata Hung Yuwei dengan sopan.
“Baik Tuan” Jawab Long Guan singkat.
“Nama saya Long Guan, saya merupakan murid Guru Hung Fei di Dunia Fana” jawab Long Guan sambil mengeluarkan sebuah token yang diberikan oleh gurunya, serta sebuah gulungan.
Melihat sebuah Token keluarga Hung yang berada di tangan Long Guan, membuat Hung Yuwen membeku. Ia tidak menyangka, setelah sekian tahun akan kembali mendengar kabar tentang putra bungsunya. Tanpa sadar ia menangis menggenggam erat token putranya tersebut.
Tak berselang beberapa lama kemudian, Long Guan mengeluarkan sebuah gulungan yang ia simpan secara hati-hati. Tangan Hung Yuwen, sedikit bergetar menerima gulungan dari Long Guan.
Dari bahannya saja ia sudah bisa mengidentifikasi bahwa gulungan tersebut adalah bahan terpilih khusus keluarga Hung. Beberapa orang yang menyaksikan termasuk Hung Yin ikut terdiam, mereka tidak bisa menolak kedua jenis barang yang sudah dikeluarkan oleh Long Guan.
Hung Yuwen membuka gulungan tersebut, lagi-lagi ia tersentak dengan bentuk tulisan
dalam surat tersebut. ini merupakan tulisan asli dari putra bungsunya yang selama ini diberitakan telah meninggal.
“Ayah, saat engkau menerima surat ini berarti muridku yang bernama Long Guan telah
berhasil tiba di Alam Spiritual. Maafkan aku, saat ini keadaanku dalam situasi yang baik-baik saja. Aku tidak kekurangan apapun, dan aku juga sangat merindukan kalian. Maafkan juga yang belum bisa kembali ke Alam Spiritual, aku masih harus menjalankan tugas. Kuharap ayah dan keluarga yang lainnya mengerti dengan keadaan ini. Meskipun demikian jangan cemas, aku pasti akan kembali pulang dan hidup bersama kalian kelak. Salam hormat, dari anakmu Hung Fei” demikian isi surat pendek surat tersebut.
Hung Yuwen menatap surat tersebut dan mulai tersenyum cerah, kabar ini adalah berita
besar yang ia tunggu selama ini. Lalu Hung Yuwen menyerahkan surat tersebut kepada Hung Quon, ayah Hung Yin.
“Nak Long Guan, terimakasih atas berita yang telah kau bawa. Aku Hung Yuwen takkan melupakan jasa baikmu" ucap Hung Yuwen dengan nada yang gembira.