Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Berlututlah


Long Guan mengalihkan pembicaraan, "Ini bukan saatnya untukmu menanyakan siapa namaku, sesuai perjanjian sebaiknya kau tepati janjimu" ucap Long Guan dengan tegas sambil memandang anggota kelompok Sekte Badai Guntur yang sedari tadi tampak ketakutan. Long Guan memperhatikan masih ada satu orang lainnya yang memiliki kekuatan setingkat dengan Liu Xianzhong.


Tubuh Meng Gao terasa panas dingin mendengar ucapan dari pria yang baru saja mengalahkannya. Semua sudah ditentukan di awal, Meng Gao hanya bisa tersenyum pahit menghadapi hal ini. Pada saat ini ia ingin mengumpat, menyalahkan dirinya sendiri karena telah salah menilai kekuatan musuhnya.


"Kau bisa untuk tidak berlutut, hanya saja kau harus meninggalkan nyawamu di sini" ujar Long Guan dengan senyum ringan.


Melihat tatapan mata Long Guan yang tenang, justru membuat Meng Gao berpikiran bahwa ia akan mudah dihabisi tanpa ragu. Memikirkan hal ini kepala Meng gao rasanya mau meledak. Ia tidak menduga akan dikalahkan oleh murid Sekte Pedang  Bintang.


Tubuh Meng Gao sudah dilumuri darah, setelah dengan segala upaya yang ia lakukan namun ia tetaplah bukan lawan dari Long Guan. Jarak keduanya terlalu jauh dan mustahil Meng Gao bisa mengalahkan Long Guan.


"Ba.. Baiklah aku mengaku kalah" ucap Meng Gao dengan pelan.


Lalu ia merendahkan tubuhnya dan berlutut di depan Long Guan sambil berkata, "Senior"


Kelompok murid dari Sekte Badai Guntur ingin menangis melihat pemandangan ini, mereka ingin menyerang tetapi ada ketakutan di dalam diri mereka. Saat


Di posisi penonton pada barisan Ketua Sekte, tampak Patriark Meng Tian tersenyum pahit. Ia tidak sanggup melihat pemandangan putranya yang sedang berlutut di depan murid sekte Pedang Bintang. Di sebelahnya, Penatua Han Zao tersenyum ringan dan berkata, "Aku sudah memberitahukanmu sebelumnya dan aku tidak membual dengan kemampuan muridku"


Beberapa Tetua Sekte lainnya tidak bereaksi apapun terkait hasil dari pertaruhan kedua murid tersebut, semuanya sudah berjalan dengan kesepakatan. Tidak ada yang bisa menyalahkannya.


"Biarkanlah anak muda berbuat semau mereka, jadikan hal tersebut sebagai peningkatan kekuatan mereka di masa yang akan datang" ucap Li Hongli yang sedikit tergugah melihat pemandangan tersebut.


"Terimakasih Patriark" ucap keduanya bersamaan.


"Hmm bagus, itu baru junior yang baik" ucap Long Guan sambil tersenyum.


"Sekarang kalian kumpulkan bendera poin kalian dan serahkan kepada kami" ucap Long Guan penuh penekanan.


Meng Gao terlihat berat, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Bertahan hidup lebih baik jika hanya harus mati konyol. Sambil menahan kekesalan serta malu yang tak terkira, ia dan yang lainnya akhirnya menyerahkan bendera poin ke Long Guan  dengnan pasrah.


Setelah menyerahkan bendera poin, kelompok dari Sekte Badai Guntur mereka segera pergi dari hadapan Long Guan. Meskipun mereka sudah kehilangan bendera poin, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperoleh keberuntungan. Ada banyak rahasia yang belum terungkap di Sekte Puncak Abadi, jika beruntung maka mereka akan mendapatkan sumberdaya yang bisa mereka bawa pulang.


Liu Xianzhong dan murid-murid lainnya tersenyum, di hari kedua ternyata mereka sudah mendapatkan poin. Ada sepuluh bendera poin, jika mereka bertahan dalam keadaan seperti ini terus maka mereka memiliki peluang mendapatkan peringkat kedua. Dua kelompok lainnya tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan mati-matian mengejar bendera poin.


"Kami akan menunggu dirimu pulih terlebih dahulu, siang ini baru kita akan berburu sumberdaya" ucap Long Guan.


"Aku sudah tidak apa-apa" ucap Liu Xianzhong sambil tersenyum tenang.


"Setidaknya biarkan tubuhmu istirahat sampai siang nanti" timpal Long Guan.


"Baiklah jika begitu, aku akan memulihkan diri sejenak" ucap Liu Xianzhong yang tidak mau bersikeras. Walau bagaimanapun pada pertarungan sebelumnya ia mengalami sedikit kerugian.


Sementara itu, Meng Gao dan teman-temannya terus bergerak menelusuri Puncak Ketiga. Dalam keadaan yang masih cedera, Meng Gao dipapah oleh dua orang yang setia menjaganya. Selain menemukan tanaman herbal langka mereka juga mendapatkan batu energi tingkat tinggi. Di sebuah ngarai kini mereka berada, tatapan mereka beralih pada sebuah Gua yang tertutupi dengan bebatuan. Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata keberuntungan mereka cukup bagus.


"Kita sangat beruntung, ini adalah sebuah Gua peninggalan salah seorang pertapa yang berilmu tinggi" ucap salah seorang diantara mereka.


Terdapat formasi perlindungan yang cukup kuat di depan Gua tersebut, dari rombongan murid Sekte Badai Guntur terdapat seorang ahli formasi yang berada pada Semesta Ketujuh. Kemampuannya merupakan yang terbaik di bawah Meng Gao. Kali ini Meng Gao tidak dapat membantu, cederanya sangat parah dan ia masih membutuhkan waktu istirahat. Murid tersebut berhasil membuka formasi perlindungan, lalu menemukan kondisi Gua yang cukup luas serta terdapat beberapa petunjuk.


"Kita beristirahat di sini saja, sepertinya keberuntungan kita juga cukup bagus" kata Meng Gao kepada teman-temannya.


Pribadinya sedikit tertekan setelah peristiwa yang baru saja terjadi tadi pagi, kekalahannya dari murid Sekte Pedang Bintang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Selama lima hari ke depan ia akan memulihkan diri dan mengumpulkan kekuatan serta mencari kesempatan untuk membalas dendam.


Di sisi lain, murid-murid Sekte Phoenix Es sudah berkumpul dalam kelompok  yang sama. Mereka mulai bergerak untuk mencari sumberdaya di Puncak Pertama. Dibawah pimpinan murid senior yang bernama Zhishu kelompok tersebut banyak mengumpulkan herbal dan tanaman langka lainnya. Sekte Phoenix Es banyak menciptakan obat-obatan, segala jenis tanaman herbal langka bagaikan harta karun di hadapan mereka.


"kalian hati-hati, kita tidak akan lama di sini dan besok kita harus sudah mulai poin" ucap Zhishu kepada anggota kelompok.


"Baik senior" jawab para murid lainnya dengan kompak.


"Besok kita akan menargetkan kelompok Sekte Pedang Bintang, setelah itu kita akan berhubungan dengan Sekte Badai Guntur" ujar Zhishu melanjutkan perkataannya.


"Sepertinya hanya orang-orang dari kelompok Sekte Pedang Bintang yang cukup lemah" ucap seorang murid wanita lainnya.


Xie Annchi masih terdiam, sejak tiba di dalam dimensi Puncak Abadi ia selalu berkultivasi. Kebiasaannya ini sudah lazim terjadi, sehingga para murid lainnya tidak merasa aneh dengan sikap Xie Annchi yang tertutup. Keberadan mereka semua juga untuk mengawal Xie Annchi, ia merupakan harapan Sekte Phoenix es dalam meraih kejayaan di masa depan. Xie Annchi memiliki darah murni Phoenix Es yang sudah melegenda selama ribuan tahun, pada kesempatan kali ini juga tujuan Sekte Phoenix Es adalah untuk mencari Kristal Keabadian.