
Long Huan yang putus asa, kini sedang berjalan meninggalkan Klan Long menuju wilayah pegunungan hutan mati yang berbatasan dengan Sekte Lembah Racun.
Ia berjalan sambil sesekali berteriak melampiaskan kebenciannya pada Long Guan, dengan penuh murka ia menatap langit malam dan mengumpat.
"Sungguh tidak adil, langit tidak memihak padaku. Kenapa tidak dibunuh saja diriku daripada harus menahan kehinaan seperti ini.
Sudah tidak ada gunanya aku hidup, kelak jika aku bangkit maka aku takkan mati hingga meminum darah Long Guan.
Ucapan Long Huan penuh dengan aura kebencian yang begitu pekat, tanpa ia sadari tampak cahaya berwarna merah menghisapnya menghilang dari tempat dimana ia berada.
Cahaya merah tersebut membawa Long Huan ke suatu tempat seperti sebuah pemakaman kuno. Tubuhnya pingsan dan tergeletak di atas batu hitam yang menyerupai peti mati.
Darah Long Huan yang sudah mengering mulai bereaksi saat bersentuhan dengan batu tersebut, tiba-tiba sebuah kekuatan menarik jiwanya secara paksa ke dalam peti mati yang terbuat dari batu berwarna gelap.
"Hahahaha..!!
Akhirnya segel ini terlepas, darah bocah itu mengandung esensi keturunan Long" Ucap sesosok makhluk dengan mata merah dan wajah yang sangat menyeramkan.
"Tubuhnya terlalu lemah, aku butuh lebih banyak darah untuk memulihkan kekuatanku" Jawab sosok tersebut yang merupakan perwujudan dari Kaisar Iblis Azazil.
Perlahan jiwa Kaisar Iblis memasuki tubuh Long Huan, kemudian ia berjalan ke sebuah kolam yang berada tak jauh dari sana, Kaisar Iblis memasuki kolam tersebut dan berendam di dalamnya sambil memejamkan mata.
****
Di suatu tempat, sementara Kepala Biksu Shaolin yang sedang bermeditasi, Biksu Tang seketika membuka matanya dan langsung bangkit berdiri.
Perasaannya menjadi resah dan pikirannya menjadi tak tenang. "Firasat apa ini? sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi" gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya di kediaman keluarga Long, para anggota keluarga sudah melewati peristiwa semalam.
Pagi ini tampak Long Guan dan Jian Ling sedang berjalan mengitari kediaman keluarga Long. Mereka tiba di taman keluarga lalu duduk tidak jauh dari pohon peony, bunganya yang indah tampak mulai bermekaran.
Aroma wangi pohon meihua juga membuat perasaan mereka nyaman. Long Guan memandang kekasihnya dengan penuh rasa cinta, saat ia bersama Jian Ling ia merasa beban berat di pundaknya seakan menghilang.
Mereka asyik berbincang berdua tanpa sadar Patriak Long dan Raja Zu datang menghampiri. "Guan'er, besok ulang tahun Kakek yang ke 100 tahun. Dalam acara tersebut kakek juga ingin mengadakan upacara pernikahan kalian"
Ucapan kakeknya yang tiba-tiba membuat Long Guan salah tingkah, ia bingung harus berkata apa.
"Pagi tadi aku sudah mengirimkan empat orang pamanmu menuju kediaman Tetua Jian membawa lamaran" Lanjut perkataan Patriark Long yang dibarengi anggukan dari Raja Zu yang merupakan kakek Long Guan juga.
Sementara Wajah Jian Ling memerah, pernikahan ini sangat mendadak namun ia tidak menolak.
Ayahnya beserta Patriark Long sangat mendukung . Acara yang seharusnya perayaan ulang tahun Patriark Long , semakin semarak dengan ditambahnya pernikahan Long Guan dan Jian Ling yang menghebohkan seluruh tamu undangan.
"Terimakasih kakek, maaf sudah merepotkan kalian berdua" Ucap Long Guan dengan nada penuh hormat kepada Patriark Long dan Raja Zu Lian.
"Semua persiapan akan diatur oleh Kepala Pelayan, kalian bersiaplah!". Siang ini juga Tetua Jian akan tiba di kediaman keluarga Long." Ucap Patriak Long.
Jian Ling menatap hangat kedua kakek Long Guan, ia sangat bersyukur bisa bersama orang-orang yang baik dan bijaksana seperti ini, hingga ia berpikir bahwa sifat bijaksana Long Guan memang banyak menurun dari Kakeknya.
Jian Ling mengetahui bahwa kedua sosok orang tersebut merupakan dua tokoh penting di Kekaisaran Qin, namun mereka tampak rendah hati dan jauh dari arogan.
Bahkan Jian Ling memperhatikan hubungan Patriark Long dengan Raja Zu benar-benar tulus tanpa ada tekanan politik di keduanya.
Keluarga Long memang keluarga besar yang tidak terpengaruh dengan Konstelasi politik. Jika saja keluarga Long mau, dengan kekuatannya sudah mampu membangun kerajaan sendiri.
Long Guan tidak menutupi rahasia dari mereka, apalagi Jian Ling wanita belahan jiwanya.
"Leluhur Long Tian??"
Patriark Long kaget dan hampir tersedak. Ia tidak menyangka bahwa leluhur Long masih hidup dan bahkan menyelamatkan cucunya. "Sungguh pertemuan takdir yang sangat kebetulan" Gumamnya dalam hati.
Lalu Long Guan menceritakan banyak hal yang terjadi, kecuali tentang warisan Mustika Naga Qiu Long saja tidak ia ceritakan.
Lalu Long Guan mengeluarkan beberapa benda dari cincin peninggalannya yang berkaitan dengan Klan Long untuk diserahkan kepada Patriark Long.
Bahkan Long Guan memberikan dua buah teknik yang sudah ia salin ke dalam dua buah gulungan, yaitu Teknik Pukulan 9 Naga dan Teknik Langkah Seribu Bayangan.
Dua teknik tersebut merupakan jurus rahasia Klan Long yang sudah lama menghilang. Dari sekian banyak harta yang diberikan Long Guan, dua gulungan tersebut membuat mata Patriark berkaca-kaca menahan kegembiraan.
"Ini adalah harta warisan sejati Klan Long, apakah kamu sudah menguasai kedua jurus ini? " Tanya Patriak Long kepada Long Guan.
"Ya, aku sudah menguasainya" Ucap Long Guan sambil mengangguk. "Kamu adalah Patriark Long yang selanjutnya, dalam sejarah keluarga kita orang yang menguasai kedua jurus ini akan menjadi pemimpin keluarga dan membawa kejayaan keluarga Long" Ucap Patriark Long dengan berapi-api.
"Aku tidak tertarik kakek, biarkan kakek yang melanjutkan. Terkait jurus tersebut dapat menyimpan dan mempelajarinya. Leluhur Long Tian sudah memberikan tugas yang lain terkait dengan kebangkitan Kaisar Iblis"
Jawab Long Guan apa adanya. "Nak, tugasmu amat mulia, terus tingkatkan potensi dirimu. Jika butuh bantuan jangan sungkan" Ucap Raja Zu Lian sambil mengusap lembut pundak cucunya.
Perbincangan mereka tak terasa hampir melewati waktu siang, Long Guan dan Jian Ling izin undur diri untuk melakukan beberapa persiapan.
Raja Zu Lian kembali teringat akan putrinya, Zu Xuan. Dalam hati Raja Zu sangat bangga memiliki putri yang melahirkan pahlawan.
Dari Gerbang Klan Long nampak rombongan ke empat paman Long Guan beserta Tetua Jian tiba. Tetua Jian langsung dibawa menuju kediaman Jian Ling, sementara ke empat paman Long Guan segera menemui Patriark Long untuk melaporkan tentang perjalanan mereka ke Sekte Pedang Angin.
Long Chu kali ini sangat antusias menceritakan apa yang terjadi di sekte Pedang angin, telah terjadi pembangunan besar-besaran di sekte tersebut, ada lima paviliun besar yang sedang dipersiapkan untuk di bangun.
Nampaknya apa yang diungkapkan oleh Long Guan bukanlah isapan jempol, "Sekte Pedang Angin nampak sangat berbeda" Ucap Long Chu dengan penuh semangat.
"Kelak kita akan mengirimkan anak-anak muda perwakilan anggota keluarga kita untuk belajar di Sekte Pedang Angin" ucap Patriark Long mendukung langkah cucunya.
Lalu Patriak Long mengeluarkan dua buah gulungan, ia bercerita tentang asal usul kedua gulungan tersebut. Patriark juga menyampaikan bahwa keempat putranya harus berlatih dua teknik tersebut untuk melindungi Klan Long dari serangan pasukan iblis di masa depan.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh ayah mereka membuat keempatnya lebih terkejut lagi, Long Guan benar-benar luar biasa, ia tidak mementingkan dirinya pribadi tetapi peduli pada kita semua.
Di tempat Jian Ling, kedatangan ayahnya membuatnya bahagia. Ayahnya juga menceritakan tentang lamaran dari keluarga Long dan menanyakan secara pribadi kepada putrinya.
Jian Ling menyetujuinya dengan sangat gembira sebagai wanita, ia sudah cukup dewasa untuk menikah.
Kemudian Jian Ling berkata kepada ayahnya "Terimakasih atas segala kasih sayang yang telah ayah berikan, ketika aku sudah menikah tidak ada lagi yang membantu mengurus ayah di Sekte.
Oleh sebab itu maka aku tidak keberatan jika bibi Yang Guifei merawat ayah di kemudian hari" Ucapan Jian Ling membuat Tetua Jian sedikit tersedak, ia tampak malu-malu saat putrinya menyebut nama Yang Guifei.
"Jadilah istri yang baik, Long Guan adalah orang besar. Selain ketua sekte tentu masa depannya tidak terbatas.
Jangan batasi ia hanya demi kepentingan pribadi"
Pesan Tetua Jian kepada putrinya. Lalu mereka berpelukan tanda kasih sayang ayah yang akan melepas putrinya untuk menikah.