
Hari berlalu dengan cepat, dua hari hampir terlewati. Long Guan dan rombongannya kini mulai berjalan menyusuri Puncak Ketiga, ia dan kelompoknya meninggalkan lokasi peristirahatan dan bergerak secara perlahan. Liu Xianzhong yang sudah pulih kini kembali memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Satu demi satu mereka mulai mengumpulkan sumberdaya tanaman herbal langka serta berbagai batu spiritual. Tidak seperti kelompok dari Sekte Badai Guntur, keberuntungan belum memihak kepada mereka.
Long Guan beberapa kali menatap lurus puncak kedua, ia masih merasakan getaran yang semakin kuat di dalam dirinya, bahkan darahnya serasa mendesir. Dari tempatnya berjalan puncak kedua dari Gunung Puncak Abadi terlihat lebih menarik dari kedua puncak lainnya. Tak terasa hari hampir malam ketika mereka masih berada di kawasan puncak ketiga, banyaknya sumberdaya yang mereka kumpulkan membuat perjalanan mereka sedikit tertunda. Hanya tinggal sedikit lagi, tetapi mereka memilih melanjutkan perjalanan esok pagi-pagi sekali.
Di Pegunungan yang diselimuti kabut, cahaya matahari yang begitu banyaknya terhalang dedaunan seolah menghilang. Dari jarak yang cukup dekat, ada aura yang sangat kuat yang menyembur keluar.
Ekspresi Long Guan berubah, ia merasakan getaran dalam tubuhnya yang berasal dari dalam lautan diafragmanya. Semenjak di Alam Spiritual, Long Guan memahami bahwa setiap tubuh seseorang memiliki kekuatan dan kemampuan yang unik.
Seperti darah murni dari asal keturunan di dalam tubuhnya, dari awal terbentuk hingga mencapai usia membusuk yang pada suatu waktu akan membangkitkan garis keturunan atau karakteristik tertentu. Meskipun pernyataan tersebut belum dapat diverifikasi apakah benar atau salah, tetapi secara sederhana Long Guan mengaitkan hal ini dengan darah keturunan Phoenix Es yang terdapat pada tubuh Xie Annchi.
"Huh" Long Guan menghela nafas memikirkan Xie Annchi yang kini berada di wilayah yang sama dengannya.
Pagi ini Long Guan dan kelompoknya sudah hampir tiba di puncak kedua, ini adalah hari ketiga mereka berada di Gunung Abadi. Situasi ini tidak jauh berbeda dengan kelompok dari Sekte Phoenix Es. Mereka juga hampir tiba di puncak kedua, hanya saja melewati arah yang berbeda dengan Long Guan.
Long Guan menarik nafas dalam-dalam menghirup udara dingin di Gunung Abadi, ia merasakan esensi Qi yang berada di sekitarnya sangat kuat, jika dibandingkan dengan seorang beberapa tempat yang ia datangi sebelumnya maka tempat ini bisa dikatakan yang terbaik.
Aura kuat yang menyelimuti seluruh puncak gunung, tidak heran jika aneka tanaman obat-obatan tumbuh begitu subur di sini.
Tiba-tiba pupil mata Long Guan menyusut, Api Abadi yang berada di dalam diafragmanya terus bergolak menahan energi eksternal yang tak terhitung jumlahnya.
Dalam tempo ini Long Guan merasakan ingin menerobos, teknik pernapasan Naga Tersembunyi di dalam tubuhnya terus memompakan energi yang saling bersahutan. Tetapi saat ini, bukanlah waktu yang tepat. Long Guan teus menekan energi di dalam tubuhnya, dan terus mengoptimalkannya menjadi Qi dan menyimpannya di kedua Dantiannya.
Di sisi lain pada waktu yang bersamaan, rombongan murid-murid Sekte Phoenix Es berjalan beriringan menuju puncak kedua. Dari kejauhan mereka tidak menyadari ada sekelompok orang yang sedang berusaha menyergap mereka. Rencananya mereka ingin berada di puncak kedua lebih cepat dari yang direncanakan, bebeapa orang di kelompoknya termasuk Xie Annchi dapat merasakan kepekatan energi Qi yang jauh lebih kental di puncak kedua.
"Tahan langkah kalian" ucap Zhishu dengan hati-hati.
"Ada apa kak Zhishu?" tanya seorang murid wanita yang tampak penasaran.
"Aku merasakan ada beberapa kekuatan yang tengah mengintai kita" jawab Zhishu dengan waspada.
"Zrink"
"Zrink"
"Zrink"
Terdengar suara pedang terangkat ke udara, seluruh murid sudah mulai bersiap, tatapan mata mereka menjadi waspada di sekitar.
"Hahaha.. Selamat datang wanita-wanita cantik" suara seorang laki-laki terdengar dari balik sebuah pohon besar.
Dibarengi suara lelaki itu, tubuh beberapa orang mulai tampak terlihat. Dari pakaiannya mereka adalah murid-murid dari kelompok Puncak Abadi.
"Mau apa kalian?" tanya Zhishu dengan tatapan garang. Zhishu merupakan sosok wanita yang sudah terkenal dengan sikap dan ucapannya yang tegas, tidak ada lelaki yang berani menggodanya selama ini. Zhishu juga terkenal kejam dengan lawan jenisnya, ia memiliki sifat yang dingin.
"Tentu saja aku akan meminta sesuatu dari kalian. Serahkan bendera poin kalian." ucap lelaki tersebut yang bernama Wu Xin. Wajah Wu Xin tidak asing, ia adalah senjata terkuat di Sekte Puncak Abadi.
Kurang ajar! ucap Zhushin dengan mata melotot. Di sebelahnya tampak Xie Annchi yang masih tenang, ia juga belum mengeluarkan pedangnya.
"Semakin kau marah, semakin cantik saja nona Zhishu ini" ucap Wu Xin dengan senyum menggoda. Kedua bola matanya memperhatikan lekuk tubuh Zhishu, dari atas hingga ke bawah. Meskipun ia bukanlah yang tercantik, tetapi ia memiliki pesona tubuh yang menawan. Dengan melihatnya sekilas saja banyak lelaki yang akan berfantasi.
Wajah Zhishu tampak merah menahan kesal, tatapan yang diberikan oleh Wu Xin sangat merendahkannya.
"Dasar cabul" umpat Zhishu yang mulai tersulut emosi.
Xie Annchi pada saat ini sudah merasakan akan ada pertarungan, ia menilai jika kekuatan murid Sekte Puncak Abadi tersebut berada di atas Zhishu.
Pada waktu ini, energi di dalam tubuh Zhishu bergolak dengan cepat. Dia sudah menghabiskan separuh hidupnya untuk berkultivasi, dan pada saat ini ia terlihat begitu marah hanya karena perkataan Wu Xin.
"Senior, kamu jangan emosi. Biarkan aku saja yang menghadapinya" ucap Xie Annchi yang mulai mengeluarkan suaranya.
"Hahaha.. Ternyata Dewi Phoenix Es sesuai dengan namanya. Kukira itu hanyalah kabar burung" ucap Wu Xin kembali tertawa dan mencoba Xie Annchi.
"Benar atau tidaknya, kamu hanya perlu merasakannya" sahut Xie Annchi dengan tatapan dingin.
Aura dingin dari dalam tubuhnya keluar dengan sangat cepat, dalam sepersekian detik suhu di sekitar berubah menjadi dingin.
"Ini adalah kekuatan Phoenix Es yang legendaris" ucap seorang murid laki-laki yang berada di belakang Wu Xin.
Secara tak sadar ia dan beberapa temannya terlihat mundur. Ada enam orang yang berada di bawah Wu Xin, sementara tiga murid yang memiliki kekuatan lebih tinggi belum kembali berkumpul semenjak pergi mencari sumberdaya.
Di hadapan para penonton, utamanya di kursi para Pemimpin Sekte, Matiark Xiu Juan tersenyum bangga. Xie Annchi adalah murid pribadinya yang sudah ia latih secara khusus. Selama berada di Alam Spiritual, ini juga merupakan pertama kalinya bagi Xie Annchi keluar dari Sekte. Pada kesempatan kali ini, Matriark Xiu Juan ingin mengasah kemampuan muidnya tersebut sekaligus ingin membuktikan jika Sektenya layak diperhitungkan.
Sedangkan di barisan para penonton, tampak wajah-wajah kekaguman menghiasi orang-orang yang berasal dari Sekte serta keluarga-keluarga besar.
"Apakah dia Dewi Phoenix Es?"
"Kekuatannya sungguh mengagumkan"
"Andai saja ia menjadi kekasihku"
Berbagai suara dan reaksi mulai muncul saat layar raksasa menampilkan gambar Xie Annchi. Dari layar tersebut juga tampak terlihat daun-daunan serta tanah yang mulai tertutupi es. Dalam waktu yang singkat pula, kekuatan Dewi Phoenix Es telah mengubah suhu pegunungan menjadi sangat dingin.
"Kalian hadapi yang lainnya, biar aku yang melawan Dewi Phoenix Es" ucap Wu Xin kepada rekan-rekannya.
"Baik" ucap beberapa orang tersebut sambil mengangguk cepat.
Tanpa mengulur waktu mereka segera melonjakkan energinya lalu mulai menerjang Zhishu dan teman-temannya. Enam orang lelaki yang berasal dari kelompok Sekte Puncak Abadi sudah bergegas maju melakukan pertempuran dan dengan cepat menerjang ke arah sembilan orang murid Sekte Phoenix Es.
Xie Annchi yang dijuluki Dewi Phoenix Es dibiarkan berhadapan dengan Wu Xin yang sudah bersiap untuk menerjang Dewi Phoenix Es.