Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Informasi Tanah Terlarang


Beberapa saat kemudian tetua Jian keluar dari ruang meditasi rahasia dalam keadaan wajah yang bersinar, suasana penuh keakraban tampak terlihat begitu hangat di antara mereka.


Bergabungnya tetua Jian sekaligus mengkonfirmasi sudah lima tetua yang yang berada dalam tahap Kelahiran Kembali tingkat akhir. Long Guan menarik napas lega, apa yang ia canangkan mulai terlihat hasilnya.


“Para Tetua, aku merasa senang bisa berada di sekte ini. Kelak ada waktunya aku harus berpetualang dan meninggalkan sekte dalam kurun waktu yang tidak bisa ditebak, ada banyak rahasia yang belum terungkap yang mesti aku jelajahi. Jika saja boleh memilih maka aku akan lebih senang hidup sederhana bersama istri dan anak-anakku kelak”


Ungkap Long Guan diantara perbincangan itu, ia menatap sendu langit malam dengan cahaya rembulan yang mulai memudar.


Para tetua hanya bisa menahan kesedihan dan ada rasa ketidakpercayaan terhadap keadaan seperti ini.


Satu sisi mereka senang dengan peningkatan kemampuan sekte secara menyeluruh, namun ancaman serangan dari kebangkitan pasukan iblis tidak dapat dihindari.


Long Guan tiba-tiba berdiri lalu ia mengeluarkan pedangnya, sesuai janjiku pada kalian tolong perhatikan secara seksama.


Ia mengayunkan pedangnya secara perlahan, bergerak membuka kuda-kuda menyerang dan seolah menghilang dalam pandangan para tetua, lalu ia muncul dengan pedang terhunus ke satu obyek di depannya.


Beberapa gerakan tampak mirip, sangat cepat dan kuat. Para tetua mencoba memperhatikan secara seksama, pengaturan Qi serta pembagian kekuatan dalam setiap tebasan membuat mereka menghela nafas cukup cepat.


Jurus Ledakan Bintang, kini dapat mereka saksikan dengan jelas. Sebagai jurus andalan sekte Pedang Angin tentu mereka sangat mengaguminya.


Setelah beberapa kali mengulang, Long Guan berkata dengan cukup serius.


“Jurus ini sangat mengutamakan kecepatan, kalian dapat menggunakan dengan jurus masing-masing. Aku biasa mengkombinasikan dengan salah satu jurus rahasia Klan Long, namun aku tidak dapat memberitahu kalian terkait hal itu.


Namun aku berjanji nanti akan menciptakan jurus yang setingkat untuk menambah koleksi perbendaharaan sekte Pedang Angin”.


Long Guan mengeluarkan sebuah gulungan yang ia serahkan kepada tetua Jian.


“Ini adalah peninggalan dari Ketua sebelumnya mendiang Lu Xian, Jurus Ledakan Bintang” ungkap Long Guan dengan tenang.


“Aku sudah menjalankan amanat dari mendiang Lu Xian, aku bermula sebagai orang asing di Sekte Pedang Angin hingga takdir mempertemukan kita dalam situasi sampai seperti saat ini. Sebagai seorang pria sejati aku takkan mengambil keuntungan dengan tidak lazim, oleh karena itu aku aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan”


Ucap Long Guan dengan tatapan yang cukup tenang seolah beban besar di pundaknya sudah terlepas. Ia gembira menatap wajah para tetua yang sudah ia anggap seperti keluarga.


Tiba-tiba lima orang Tetua segera berlutut di depan Long Guan.


“Sampai kapanpun anda adalah Ketua kami, Ketua Sekte Pedang Angin yang terhormat” ucap Tetua Guo Yang mewakili tetua lainnya.


“Kalian bangunlah, aku senang bisa berada di sini, terutama Jian Ling yang kini telah menjadi istriku, ikatan ini tentu menjadi pengikat pribadi hubunganku dengan Sekte Pedang Angin yang telah membesarkan Jian Ling selama ini” ujar Long Guan.


Long Guan lalu berkata kepada mereka akan memasuki tanah terlarang Sekte Pedang Angin dalam waktu dekat maka dari itu ia ingin mengetahui informasi lebih detail kepada para tetua.


“Tanah terlarang sudah ada sejak Sekte ini didirikan oleh pendiri yang bernama Hung Fei, ia sangat misterius. Hingga menjelang kematiannya hanya mengatakan bahwa seluruh murid dilarang memasuki tanah terlarang atau mereka akan mendapatkan kematian yang mengenaskan.


Kami menduga kematian Ketua Sekte sebelumnya terkait hal tersebut, dimana Ketua Lu Xian mencoba memecahkan misteri tanah terlarang tersebut” terang tetua Xie Rong mulai bercerita.


Long Guan mengernyitkan dahi mendengar cerita tersebut, namun ia semakin penasaran untuk memasukinya.


“Sebaiknya Ketua menahan diri untuk memasuki Kawasan tersebut” ucap tetua Jian yang sekaligus ayah mertuanya yang mengkhawatirkan keselamatannya.


“Hmmph..” Long Guan sejenak berpikir.


“Ada catatan kuno yang terdapat di perpustakaan Sekte, bahwa leluhur pendiri Sekte Pedang Angin bukan berasal dari dunia ini. Ia berasal dari alam lain dan merupakan seorang tetua Sekte di alam tersebut, Sekte itu bernama Pedang Bintang” Tetua Xie Rong menjelaskan kembali tentang informasi yang ia ketahui.


“Sangat menarik sekali, aku jadi semakin penasaran” ucap Long Guan secara spontan.


Para tetua hanya bisa saling memandang pasrah, mereka terlalu khawatir terhadap resiko yang akan ditempuh.


“Baiklah, terimakasih atas informasi serta kerja keras kalian. Nanti siang kita akan mengunjungi kediaman Patriark Long untuk menghadiri pernikahan pamanku” ucap Long Guan menutup perbincangan mereka.


“Baik Ketua” jawab mereka kompak.


Long Guan kembali ke kamarnya menemani istrinya yang sudah terbangun sedari tadi, Jian Ling juga mendengar rencana Long Guan yang ingin memasuki tanah terlarang.


“Gege, apa kamu sudah yakin ingin memasuki tempat yang selama ini dianggap tabu oleh Sekte?" tanya Jian Ling dengan serius.


“Iya benar, aku juga merasakan dorongan yang kuat saat memandang lokasi tersebut. Seperti ada energi yang menarik ku setiap kali aku memandang ke arah sana” ungkap Long Guan jujur.


“Aku percaya padamu, tapi gege harus janji untuk tidak memaksakan diri. Gege harus ingat, ada yang selalu menanti Gege” ujar Jian Ling sambil mengusap perutnya.


Melihat hal tersebut lalu Long Guan tersenyum cerah, ia berjanji untuk kembali dalam keadaan selamat.


Lalu ia mengangkat tubuh Jian Ling dan membaringkan tubuhnya ke ranjang, dengan lembut Long Guan menciumnya dan melanjutkan hubungan suami istri dengan perlahan.


Pagi menjelang, kegiatan murid-murid sudah mulai berjalan menghiasi keseharian Sekte. Tiap-tiap divisi melakukan pola pelatihan berbeda, hanya sesekali dalam pelajaran umum mereka dipertemukan untuk saling mengenal dan menambah pengalaman.


Para tetua dengan wajah ceria berjalan menuju aula pertemuan, para murid yang menyaksikan para tetua semakin kagum dan hormat pada mereka.


Apalagi para murid baru yang sangat terkesima merakan charisma para tetua yang kini semakin berwibawa.


Kini boleh dikatakan bahwa kekuatan Sekte Pedang Angin bukanlah suatu hal yang bisa disinggung.


Tak berapa lama kemudian pasangan seperti Dewa dan Dewi datang memasuki aula, para murid yang melihat Ketua dan istrinya merasa lebih takjub lagi, dalam segi kekuatan Ketua Sekte mereka sudah tidak dapat diukur.


Long Guan dan Jian Ling membalas salam dari para murid dengan ramah, sehingga para murid merasa bangga dengan sikap Ketua mereka.


Di dalam aula pertemuan sudah ada para tetua dan murid-murid senior, setelah Long Guan memberikan salam kemudian ia duduk di Kursi Ketua.


“Apakah kalian sudah siap untuk berangkat?” tanya Long Guan kepada para Tetua.


“Sudah Ketua” jawab mereka serempak.


“Tetua Yang dan Tetua Xie apakah kalian sudah menyiapkan hadiah yang ku maksud” tanya Long Guan sebelum mereka berangkat.


“Sudah Ketua” jawab Tetua Yang Guifei dan Tetua Xie Rong dengan suara yang terdengar meyakinkan.


“Baiklah jika demikian, mari kita berangkat” ajak Long Guan dengan antusias.


Namun hanya Tetua Huang Xun yang tidak diikut sertakan dalam perjalanan kali ini, ia mendapat tugas menjaga dan bertanggungjawab atas sekte selama Long Guan pergi.


Jarak Sekte Pedang Angin ke Klan Long tidak begitu jauh, jadi mereka berangkat menggunakan kuda terbaik agar tidak terlambat dan menghemat energi mereka juga.