Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Kekacauan Di Sekte Puncak Abadi


Saat ini di dalam aula Sekte Puncak Abadi, Patriark Agung Li Hongli tengah melakukan pertemuan. Kejadian yang sangat memalukan dan mencoreng nama Sekte baru saja terjadi.


Kemunculan orang-orang Sekte Kegelapan di dalam Sekte Puncak Abadi sudah sangat mengkhawatirkan.


"Tetua Chang Gui, bagaimana penjelasanmu terkait munculnya Sekte Kegelapan? Murid-murid yang terlibat jelas mereka berada di bawah pengawasanmu" ucap Li Hongli dengan nada penuh emosi.


Tetua Chang Gui tidak bisa mengelak, ia seperti kehabisan kata-kata.


"Ma.. Maafkan aku Patriark, kondisi tersebut di luar pengetahuanku" jawab Tetua Chang Gui sedikit tertekan.


"Walau bagaimanapun mereka adalah murid yang berada di bawahmu secara langsung, kamu sebagai seorang Tetua tapi tidak becus" ucap Patriark Li Hongli penuh kekesalan.


Pada situasi ini seluruh Tetua yang hadir hanya bisa tertunduk. Mendengar ucapan dan kemarahan Patriark Sekte adalah hal yang wajar, saat ini Sekte Puncak Abadi sedang menghadapi masalah yang sangat serius.


Tiba-tiba di alun-alun Sekte para penonton berhamburan dan berteriak, mereka melihat ada sekelompok orang memakai jubah hitam serta menggunakan topeng. Mereka membawa senjata tajam dan menyerang siapapun yang mendekat.


Secara terorganisir, kelompok orang berjubah hitam tersebut menuju barisan utama di mana para Pemimpin Sekte berada. Matriark Xue Juan, Patriark Han Zao serta Patriark Meng Tian menjadi terkejut atas kekacauan yang sedang terjadi. Baru saja mereka akan bergerak membantu, tiba-tiba dari belakang mereka puluhan orang ikut menyerang.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Patriark Meng Tian kepada orang-orang yang berasal dari Sektenya.


"Sudah seperti ini, apakah kamu belum mengerti?" ucap salah seorang Tetua Sekte Badai Guntur.


"Bedebah kalian, jangan katakan jika kalian ikut terlibat dengan Sekte Kegelapan?" ucap Patriark Meng Tian dengan ekspresi kaget.


"Hahaha. Bodoh" ucap Tetua tersebut dengan tatapan penuh membunuh.


"Ayo cepat habisi dia dan kita rebut batu Gioknya" ucap Tetua yang lain sambil menghunuskan pedang ke arah Meng Tian.


Sementara yang lainnya ikut menyerang Penatua Han Zao dan Matriark Xue Juan.


Dalam waktu singkat pertarungan antar pendekar Surgawi tidak terhindarkan.


"Trank"


"Trank"


"Trank"


Suara pedang beradu terdengar dengan keras di alun-alun. Suara teriakan dan jeritan terdengar dengan jelas di setiap sudut alun-alun.


Kaisar Xia Bang dan pasukannya berusaha menahan sebisa mungkin untuk mengurangi jumlah korban berjatuhan.


Sementara keluarga Hung yang hadir segera mengevakuasi diri, dengan beberapa orang pendekar ahli, Hung Quon dan Patriark Hung ikut bertarung melawan kelompok orang berjubah hitam.


Pertarungan dan kegaduhan yang sedang terjadi di alun-alun Sekte, tentu saja menyita perhatian seluruh murid Sekte Puncak Abadi. Mereka melakukan evakuasi besar-besaran dan berupaya menghalau kelompok orang berjubah hitam. Tetapi kelompok orang berjubah hitam tidak bisa diremehkan, mereka berjumlah ratusan orang dengan beberapa orang yang memiliki kekuatan lebih tinggi.


Dalam sekejap banyak orang yang tewas baik yang terbunuh oleh kelompok tersebut atau juga meninggal saat menyelamatkan diri.


Kepanikan yang besar ini menarik perhatian para petinggi Sekte Puncak Abadi yang sedang melakukan pertemuan tertutup.


Belum hilang kekesalan Patriark Li Hongli kini sudah muncul masalah baru. Patriark Li Hongli segera memerintahkan kepada seluruh Tetua untuk ikut membantu menyelamatkan para penonton.


Mendengar kejadian ini tentu saja membuat Tetua Chang Gui merasa senang, ia tidak mengira kalau Ketua Sekte Kegelapan memiliki rencana cadangan.


Setelah melumpuhkan penjaga, sekelompok orang berjubah hitam bergegas menuju alun-alun Sekte Puncak Abadi. Kehadiran mereka begitu tiba-tiba dan tidak diketahui dari kelompok mana mereka berasal.


Ketua Chang Gui melihat orang-orang tersebut, ia mengetahui bahwa kelompok tersebut berasal dari Sekte Kegelapan. Setelah beberapa saat, ia dihampiri oleh seorang dari kelompok itu.


"Chang Gui, semua rencana berubah. Kita harus menyerang secara terbuka, semua menyerang untuk mendapatkan Giok tanda masuk Gunung Abadi. Demikian perintah Ketua Kaibo" ucap pria bertopeng tersebut.


Tetua Chang Gui tampak berpikir, beberapa saat kemudian ia ikut bergabung dengan kelompok tersebut. Selain Tetua Chang Gui ternyata masih ada orang dari Tetua Badai Guntur yang terlibat. Ada lebih dari 10 orang yang ikut bergabung dari sekte tersebut, mereka tengah bertarung melawan Penatua Han Zao dan Matriark Xue Juan.


Di Sekte Puncak Abadi sendiri ada ratusan orang yang sudah melakukan sumpah setia kepada Tetua Chang Gui. Mereka bergabung dan membuat kekacauan ini semakin bertambah besar. Kesempatan ini juga mereka gunakan untuk menghabisi Patriark Li Hongli.


"Rupanya kamu memang busuk" ucap Patriark Li Hongli menatap penuh benci ke arah Tetua Chang Gui.


"Hahaha.. Sepertinya aku tidak perlu menyembunyikan hal ini lagi. Sudah waktunya aku membunuhmu" ucap Chang Gui penuh kebencian.


Aura membunuh memancar di wajahnya, dengan cepat ia menyerang Patriark Li Hongli. Dua orang pria berjubah hitam ikut menyerang Patriark Li Hongli, sementara yang lainnya menyerang Tetua Sekte Puncak Abadi yang tersisa.


Patriark Li Hong Li terlihat kesal setelah mendengar ucapan Chang Gui. Aura panas terpancar dari seluruh tubuh Patriark Li Hongli.


Chang Gui dan kedua orang pria berjubah hitam dapat merasakan pancaran energi, ketiganya bergerak dengan cepat menghampiri Li Hongli. Meskipun Li Hongli baru saja menembus level Tahap Abadi, menghadapi tiga orang ranah Surgawi tahap akhir tentu bukan hal yang mudah.


"Jurus Tebasan Gunung Berantai" teriak Chang Gui sambil menghunuskan pedangnya ke arah Patriark Li Hongli.


Di belakangnyanya, dua orang pria berjubah hitam ikut bergabung dalam serangan tersebut.


"Zring"


"Zring"


"Zring"


Aura pedang terus bertabrakan, pasir dan bebatuan mulai beterbangan di udara bersamaan benturan energi pedang mereka yang semakin membesar.


Gerakan Patriark Li Hongli sangat cepat menghadapi serangan ketiga lawannya, gestur tubuhnya terlihat lentur memaksimalkan energi pedang serta jurusnya.


"Baamm"


Terdengar benturan energi yang lebih besar dari sebelumnya, namun hal itu tidak dipedulikan oleh Chang Gui dan pria berjubah hitam. Mereka mencibir Patriark Li Hongli dengan penuh kehinaan.


Ketiganya langsung meningkatkan energi Qu nya, membuat udara di sekitar menjadi terdistorsi. Perhatian orang-orang yang sedang bertarung sempat teralihkan sejenak.


Pedang yang ada di tangan Patriark Li Hongli segera bergerak ke udara menghalau energi pedang dari ketiga lawannya.


"Zring"


Pedang mereka kini bertabrakan kembali, membuat Qi yang mengalir menjadi semakin terbuang bebas ke udara.


Di bawah kaki mereka, pasir dan kerikil mulai terbang menjauh. Tekanan demi tekanan telah membuat kerusakan serius di sekitar mereka.


Pada saat ini Patriark Li Hongli mundur beberapa langkah, ia mulai sedikit kewalahan dengan kombinasi serangan ketiga lawannya.