Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Kematian Ketua Sekte Badai Guntur


Ada sesuatu yang membuat aneh, Patriark Li Hongli mengernyitkan matanya. Ketiga orang lawannya sangat kuat, padahal dengan kekuatan Tahap Abadi seharusnya ia bisa mengalahkan Chang Gui dengan cepat.


"Cih! Kau kira dengan kekuatanmu bisa dengan mudah membunuh kami" ucap Chang Gui dengan sombong.


Melihat pemandangan sekitar penuh pertarungan membuat Patriark Li Hongli semakin tertekan. Semakin lama ia bertarung maka semakin banyak korban yang akan terbunuh. Pertempuran barusan sudah banyak menggunakan tenaga Qi nya, jadi jika terlalu lama ia juga akan kehabisan Qi.


"Aku harus segera mengakhiri pertempuran ini" gumam Patriark Li Hongli dalam hati.


Ia menatap ke arah Chang Gui penuh benci, di dadanya terasa panas menahan kemarahan.


Patriark Li Hongli melompat ke arah samping, gerakannya sangat cepat dan hampir tidak terlihat.


"Mau melarikan diri? Tidak semua itu" cibir Chang Gui.


Dalam sekejap, Chang Gui mengejar Patriark Li Hongli. Tanpa diduga, Li Hongli bergerak membalikkan badannya dan menatap ke arah Chang Gui.


Patriark Li Hongli menarik napas, ia mengumpulkan energi Qi yang lebih padat di salah satu tangannya. Sambil menjilat bibirnya, ada seringai aneh di wajah Patriark Li Hongli, ia berada di depan Chang Gui dalam sekejap.


"Jurus Tapak Angin Kematian" ucap Patriark Li Hongli dengan pelan. Ia melakukan pukulan dengan sangat cepat, ini adalah harapan satu-satunya untuk merusak keseimbangan lawan.


"Boom"


Sebuah pukulan telak mengenai tubuh Chang Gui, tanpa persiapan bertahan membuat Chang Gui lengah dan terjerembab dalam kesombongan.


Tubuh Chang Gui terhempas ke tanah dengan keras, pukulan yang baru saja ia terima adalah jurus andalan Patriark Li Hongli.


Pada saat yang bersamaan, dua orang pria beenubah hitam bergerak kembali menghunuskan pedang.


"Zlash"


Punggung Patriark Li Hongli terkena sabetan pedang dari salah seorang pria berjubah hitam tersebut.


"Hanya segini saja kemampuanmu?" ucap salah seorang pria berjubah hitam tersebut.


Patriark Li Hongli sedikit kecolongan saat mengeluarkan jurus andalannya, meski tidak parah namun luka yang ditinggalkan cukup perih. Di depannya, tubuh Chang Gui sudah tidak bergerak. Tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.


Meskipun ia terdesak, namun dengan berkurangnya Chang Gui akan menguntungkan Patriark Li Hongli. Energi Qi nya terus terkuras, ia telah banyak mengeluarkan Qi pada saat mengeluarkan jurus pamungkasnya. Pedang di tangannya kembali terangkat, mengahalau serangan dari orang berjubah hitam lainnya.


Dua serangan cepat kembali terjadi, membuat pedang yang di tangan Patriark Li Hongli menari dengan indah. Tekanan yang ia hadapi jauh berkurang, ia kini mulai bisa melakukan serangan balasan.


Di sisi lain, Matriark Xue Juan tengah dikerubuti beberapa orang Tetua Badai Guntur, dalam tempo beberapa saat ada sejumlah luka yang tertinggal di tubuhnya.


Penatua Han Zao tidak jauh berbeda, meskipun ia berhasil membunuh salah seorang Tetua Sekte Badai Guntur yang berkhianat, ada harga yang harus ia bayar. Kaki kanannya terkena sabetan pedang membuat gerakannya melemah dan semakin melambat.


Adapun Patriark Meng Tian mengalami luka yang paling parah, tubuhnya dipenuhi luka sabetan pedang dan meninggalkan luka yang mengangga.


Di tengah alun-alun pasukan Kaisar Xia mulai sedikit bisa bergerak dengan leluasa. Dengan bantuan Hung Quon dan Patriark Hung, mereka mulai membunuh orang-orang berjubah hitam.


Di sudut lainnya, pertempuran sesama murid Sekte Puncak Abadi juga terjadi dengan miris. Tidak terhitung bakat muda yang meregang nyawa.


Pada saat ini Patriark Li Hongli mulai membalikkan posisi pertarungan, sementara dua orang yang memakai jubah hitam terlihat kesulitan.


"Rupanya kau masih mampu bertahan hingga ke titik ini. Tapi sebentar lagi kamu akan mati" ucap salah seorang berjubah hitam dengan nada mengejek.


"Sepertinya kalian terlalu pandai membual" ucap Patriark Li Hongli.


"Dhuuaar"


Ledakan Qi kembali meledak, tubuh Patriark Li Hongli kembali pulih. Meski belum sepenuhnya, tetapi ia rasa cukup untuk menghabisi Dua orang di depannya.


Dua orang berjubah hitam kembali bergerak mengayunkan pedangnya, mereka berharap dapat menghabisi Patriark Li Hongli dalam satu tebasan.


"Baamm"


Benturan energi pedang kembali terjadi lagi, kali ini terasa lebih besar. Kedua orang itu mengeluarkan jurus andalannya masing-masing.


Tubuh Patriark Li Hongli terpelanting ke udara, namun dengan cepat ia berbalik. Pergelangan tangannya berputar, memegang pedang dengan kuat. Energi besar kembali dia alirkan ke dalam pedangnya.


"Jurus Tebasan Gunung Berantai" ucap Patriark Li Hongli pelan.


Ia menggunakan jurus yang sama yang pernah digunakan oleh Chang Gui sebelumnya. Dalam sekejap energi Qi melonjak tajam, mengarah ke arah Dua orang berjubah hitam.


"Zleb"


"Zleb"


Dua tusukan mendarat ke dada dan perut kedua orang berjubah hitam. Gerakan yang sangat cepat itu tidak dapat mereka halau.


"Kurang ajar" ucap salah satunya mengumpat, matanya menjadi merah penuh amarah.


Tanpa memberikan lawannya waktu untuk memulihkan diri, Patriark Li Hongli bergerak dengan sangat cepat.


"Jurus Tapak Angin Kematian" teriak Patriark Li Hongli.


Dari kehampaan tiba-tiba muncul sebuah tapak besar. Berbeda dengan jurus sebelumnya, kini Li Hongli mengkombinasikannya dengan kemampuan Jiwa Pedangnya.


Dua orang berjubah hitam tersebut hanya bisa memperhatikan kedatangan tapak raksasa tersebut yang menyapu keduannya.


"Boom"


"Boom"


Dua ledakan besar terdengar dan menghancurkan tubuh Dua orang berjubah hitam dengan ganas.


Pemandangan ini menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang bertarung.


Patriark Hung kini sudah berada dekat Penatua Han Zao, ia berjibaku menahan serangan dari para penghianat Sekte Badai Guntur. Tubuh Han Zao penuh luka, dan ia juga kehilangan sesuatu yang berharga. Sebelum Patriark keluarga Hung datang membantu, seseorang merebut Giok dari tangan Penatua Han Zao. Dibawah tekanan banyak pendekar Surgawi, Penatua Han Zao tidak berdaya.


Keadaan yang sama juga menimpa Matriark Xue Juan, bahkan demi menyelamatkan nyawa beberapa orang muridnya ia mengalami luka dalam yang sangat serius. Namun setelah orang berjubah hitam menggeledah pakaiannya ia menemukan sesuatu yang penting dan meninggalkan Matriark Xue Juan yang terkapar tidak berdaya.


Setelah mengeluarkan energi Qi yang sangat banyak, tubuh Patriark Li Hongli sedikit berkedut. Ia merasakan luka dalam yang serius. Tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memulihkan diri. Setelah mnarik napas dalam-dalam, ia kembali ke medan pertempuran.


Dalam sekejap ia sudah berada di depan Patriark Meng Tian. Kedatangan Li Hongli sudah terlambat, tampak tubuh Ketua Sekte Badai Guntur tersebut sudah meregang nyawa. Cincin penyimpanannya sudah lepas, menandakan bahwa ada yang menginginkan sesuatu darinya.


Wajah Patriark Li Hongli menggelap, dengan cepat ia membakar Qi nya ke tingkat ekstrim. Ia bergerak dengan cepat menghabisi orang yang memakai jubah hitam.


Setelah kematian Chang Gui dan kedua orang temannya tidak ada lagi pendekar ahli yang tersisa. Beberapa orang beejubah hitam tampak bergerak terburu-buru meninggalkan alun-alun.