
"Coba,sekarang giliran,Usman suruh ke sini!" kata kang Hatim.
"Biar saya gantikan kang!" kata Umar dan langsung di jawab anggukan.
"Assalamualaikum!" Usman memasuki ruangan dengan sangat sopan.
"Waalaikum salam!" jawab semua orang yang ada di sana.
"Duduk!" kata kang Hatim.
"Iya,terima kasih kang!" jawab Usman sambil duduk di kursi yang tersedia.
"Saya manggil kamu bukan mau apa apa,tenang saja jangan gugup!" kata kang Hatim.
"Ah iya kang!" jawab Usman.
"Kamu sholat lima waktu gak?" tanya kang Hatim sama seperti pada karyawannya yang lain.Hal yang pertama dia tanyakan adalah sholat.
"Tidak kang!" jawab Usman dengan kepala semakin menunduk.
"Lah,kenapa?" tanya kang Hatim.
"Saya cuma bisa sholat maghrib dan isya aja kang!" jawab Usman.
"Kenapa? apa kamu belum tahu? Sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang menyepelekan sholat atau menggampangkan sholat, maka Allah akan menyiksanya dengan lima belas macam siksaan. enam siksaan di dunia, tiga siksaan ketika menjelang mati, tiga siksaan dialam kubur dan tiga siksaan ketika keluar dari alam kubur! mau di siksa?" tanya kang Hatim.
"Tidak kang!" jawab Usman.
"Kalau gak mau di siksa,kenapa gak sholat!"
"Saya malu kang,kan kata akang sholat itu menghadap Allah,sedangkan saya orang yang penuh dengan dosa.Jika di bandingkan dengan kebesaran bumi alam ini,dosa saya lebih besar kepada Allah kang,saya malu masa orang yang banyak dosa seperti saya berhadapan sama Allah!" kata Usman.
"Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang. Qur'an surat An-Nisa ayat seratus sepuluh!" kata kang Hatim.
"Kalau ada waktu,lain kali saya akan kesini lagi dan menanyai hal yang sama.Semoga ada peningkatan.Waktu dzuhur sudah mau habis! sebaiknya kalian sholat! saya juga belum sholat,jadi saya pergi dulu! mohon maaf bila ada kesalahan!" kata kang Hatim.
Semua karyawan kang Hatim berdiri untuk mencium tangan kang Hatim,namun seperti biasa,kang Hatim tidak mau tangannya di cium.
"Waalaikum salam!" jawab para karyawan itu.
"Saya jadi lupa sholat dzuhur!" kata kang Hatim.
"Aku juga,padahal tadi pas baru sampai di toko adzan terdengar!" kata Hana.
"Saya tidak mendengar adzan!" kata kang Hatim.
"Akangnya keasikan ngobrol!" kata Hana.
"Tidak juga!"
"Iyaa,sampai aku gak di ajak ngobrol sama sama!"
"Balik lagi aja sana,kalau mau ngobrol sama mereka!" kata kang Hatim.
"Ish,apa apaan sih!" kata Hana.
"Eh kang,kok yang tadi itu beda ya?" tanya Hana.
"Yang tadi yang mana?" tanya balik kang Hatim.
"Yang terakhir kang!" jawab Hana.
"Usman?"
"Iyaa,dia tidak seperti teman temannya yang lain.Teman temannya yang lain masih berani menatap wajah akang,tapi yang satu itu tidak!"
"Saya juga heran,padahal biasanya biasa seperti teman temannya yang lain,mungkin dia lagi ada masalah!" kata kang Hatim.
"Ooh gitu ya,tapi aku jadi takut kang!" kata Hana.
"Kan sudah saya katakan,takutlah kepada Allah!" kata kang Hatim.
"Oh iya lupa,tapi aku takut mantan preman itu menyakiti suamiku yang tampan ini!" kata Hana membuat kang Hatim menahan senyum hingga pipi putih kang Hatim berubah warna.