Ustadz Muda

Ustadz Muda
Extra Chapter 2.3


Setelah menempuh perjalanan cukup lama,akhirnya kang Hatim bersama keluarganya telah sampai di pesantren tujuan yaitu pesantren Najmuddin.Di sana kang Hatim disambut baik oleh para santri di sana.Semua santri tidak ada yang tidak ingin mencium tangan kang Hatim.Namun seperti biasa,kang Hatim selalu tidak ingin tangannya di cium oleh orang lain.


Begitu juga kepada Royyan,para santri juga ingin bersalaman dengan Royan dan seperti ama nya,Royyan juga tidak mau tangannya di cium oleh orang lain.


Tidak lupa,kang Hatim juga di antar oleh kang Ahmad dan kang Roni,tidak lupa kakak tersayang kang Hatim teh Alvi yang juga ikut untuk mengantar Royyan akan melamar perempuan.


"Afwan kyai,abah sudah menunggu di rumah beliau! Silahkan kyai kami antar!" kata salah satu santri yang bicara dengan sangat sopan bahkan santri itupun tidak berani mengangkat kepalanya,tidak berani menatap wajah kang Hatim.


"Ah iya mari mari!" kang Hatim dan keluarganya mengikuti santri itu menuju rumah kyai Hamzah.


Hanya beberapa menit,kang Hatim beserta yang lain berjalan menuju rumah kyai Hamzah,kini sudah sampai di rumah kyai Hamzah.Disana sudah berdiri kyai hamzah yang di gandeng seorang pria sekitar umur tiga puluh tahunan.Disampingnya juga ada seorang perempuan paruh baya yang juga di gandeng soerang perempuan mungkin putrinya.Perempuan paruh baya yaitu istri dari kyai hamzah yang ikut menyambut tamunya.


Seperti biasa,tatakrama sopan santun digunakan oleh tamu.Mulai dari mengucapkan salam kemudian bersalaman kang Hatim laksanakan sama seperti yang lainnya juga.


Setelah selesai penyambutan di luar rumah,kini kang Hatim beserta rombongannya di persilahkan masuk ke dalam rumah dan dipersilahkan duduk di kursi yang sudah tersedia di ruang tamu.


Kyai Hamzah menjamu tamu tamunya dengan berbagai jenis makanan,tidak lupa dengan minumnya.Kyai Hamzah mempersilahkan tamunya untuk memakan jamuan sebelum memulai membahas maksud tujuan kedatangan kang Hatim.


"Abah,sesuai yang abah tau,maksud kedatangan saya kesini saya ingin melamar putri abah untuk putra saya! Yaa,mungkin memang masalah ekonomi,putra saya ini belum terlalu ahli apalagi punya! Masalah ilmu,mungkin ada lah,walau jika dibandingkan dengan abah,akan seperti ibarat abah lautan,putra saya dan saya hanya setetes kopi yang jangnkan bermanfaat bagi orang lain! Diri sendiripun akan hilang!" kata kang Hatim.Maklum ahli bicara depan orang banyak ahli ceramah,pastilah jago nyusun kata kata.


"Ustadz,percaya abah! Bahkan bisa saja ilmu yang lebih muda itu lebih banyak dari yang sudah tua! Yang muda pasti lebih banyak wawasan,lebih luas jangkauan! Memang mungkin kalau pengalaman di umur yang tua boleh menang! Tapi kalau pengalaman menuntut ilmu sampai ke berbagai pesantren bisa saja yang muda yang menang! Masalah ekonomi,gampang! Allah sudah menyiapkan rizki buat nak Royyan dari mulai dalam kandungan sampai meninggal nanti! Begitu juga dengan putri abah,dia juga sudah di cadangkan rizki oleh Allah dari mulai dia dikandungan sampai nanti dia meninggal! Rizki mereka sudah di siapkan untuk masing masing! maka jika di gabungkan,maka tidak usah risau!" jawab kyai Hamzah.


"Na'am kyai!"


"Namun gini Ustadz! Abah setuju putri abah nikah sama nak Royyan! Tapi ada yang abah tidak setuju!"


"Apa itu bah? Mungkin bisa kami perbaiki?"


"Abah gak setuju kalau hanya di lamar! Setelah di lamar putri abah di sruh nunggu lagi!" jawab kyai Hamzah membuat Royyan kaget.Karena bisa saja perkataan kyai hamzah ingin putrinya dinikahi hari ini juga.


Deg deg deg,detang jantungnya semakin cepat berdegub.