Ustadz Muda

Ustadz Muda
#106


"Apa akang akan menyetujui permintaan Indri?" tanya Hana setelah membuatkan kopi dan duduk di samping kang Hatim.


"Permintaan yang mana?" tanya kang Hatim.


"Kan Indri minta supaya akang menikahinya!" jawab Hana.


"Emangnya boleh?" tanya kang Hatim.


"Aku tidak akan melarang akang untuk menikah lagi,itu hak akang!" kata Hana.


Kang Hatim tersenyum dan tangannya menggenggam tangan Hana.


"Kamu harus percaya sama saya,saya akan setia sama kamu sampai di surga Allah nanti! saya janji sama kamu insyaAllah!" ujar kang Hatim dengan lembut.


"Kamu percayakan sama saya?" tanya kang Hatim.


"Iya!" jawab Hana dengan senyuman manisnya.


"ana uhibbuki fillah!" kata kang Hatim membuat Hana tersenyum malu.


"Ana Aidhon!" jawab Hana dengan malu malu.


Cup,kang Hatim mencium jidat Hana dengan lembut.


Mereka melamun berdua masih dalam keadaan yang sangat tenang dan damai.Hana memeluk tangan kang Hatim sambil bersandar dengan kepalanya di pundak kang Hatim dan kang Hatim menyandarkan kepalanya di atas kepala Hana dengan tangannya mengusap tangan Hana dengan lembut.


Keadaan yang sangat damai dan penuh cinta itu tiba tiba rusak karena ada yang mengetuk pintu rumah.


"Assalamualaikum!" kata seseorang dari luar rumah.


"Waalaikumusalam!" jawab kang Hatim dan Hana.


"Siapa?" tanya kang Hatim.


"Gak tahu!" jawab Hana.


"Aku lihat dulu ya!" kata Hana.


"Gak usah,saya saja!" kang Hatim langsung menuju pintu dan membuka pintu.


"Teh? ada apa? kok ramai ramai begini?" tanya kang Hatim karena yang datang budak seorang.Ada teh Dawa,kang Ahmad,kang Rahmat,juga teh Zahra.


"Boleh kita masuk?" tanya teh Dawa.


"Ya sudah,ayo silahkan!" kata kang Hatim sambil memberi jalan.


"Sepertinya ruang keluarga gak akan cukup nampung kalian,di ruang tamu saja ya!" kata kang Hatim dan mengajak mereka ke ruang tamu.


"Maaf ya,ganggu waktu kamu lagi mesra mesraan!" kata teh Zahra.


"Apa? ah nggak kok!" jawab kang Hatim.


"Tadi teteh lihat di jendela Tim!" kata teh Zahra.


"Lah,aku lupa nutup tirai!" kata kang Hatim sambil menggaruk peci yang maksudnya mau garuk kepala,namun terhalang peci,dan saking malunya jadi begitu.


Hana mencium tangan kakak kakak iparnya kecuali kang Ahmad dan kang Rahmat.


"Kok teh Zahra sama teh Dawa kesini?" tanya kang Hatim.


"Emangnya gak boleh kita main ke rumah adik sendiri?" tanya teh Dawa.


"Yang ngajar teh Putri!" jawab teh Zahra.


"Ah ya sudah,kirain gak ada yang ngajar!" kata kang Hatim.


"Teh,kang,mau minum apa?" tanya Hana.


"Teteh mau teh hangat boleh?" tanya teh Dawa.


"Iya teh,kalau teh Zahra mau apa?" tanya Hana.


"Samakan saja!" kata teh Zahra.


"Akang?"


"Samakan saja!" jawab kang Ahmad.


"Iya,samakan saja!" kata kang Rahmat.


"Ya sudah,saya permisi dulu ya!" kata Hana dan langsung pergi setelah di jawab anggukan oleh kakak kakaknya.


"Tidak akan ada asap tanpa ada api!" kata kang Hatim.


"Iya,terus apa maksud kamu ngomong seperti itu?" tanya teh Dawa.


"Tenang dulu,galak amat!" kata kang Hatim.


"Apa?"


"Tidak akan ada asap tanpa ada api!" kata kang Hatim.


"Iya,terus apa?" tanya teh Zahra.


"Tidak mungkin kalian datang kesini tanpa tujuan,biasanya juga kalian yang nyuruh aku datang ke rumah kalian!" jawab kang Hatim.


"Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan mengenai masalah tadi sore,masalah seperti itu baru dua kali terjadi di pesantren ini.Pertama saat bapa kita semua masih ada!" kata teh Dawa.


"Aku manggilnya Apa!" kata teh Zahra.


"Aku Abah!" kata kang Hatim.


"Putri manggil ke bapa itu ayah dan si Alvi abi!" kata teh Dawa.


"Kenapa beda beda gitu sih manggilnya?" tanya kang Ahmad.


"Kami juga gak tahu! aku sih manggil bapa,karena bapa sudah bapak bapak! Kalau Hatim manggil Abah karena mungkin sebab bapa sudah tua!" jawab teh Dawa.


"Kalau aku,manggil apa itu samaran dari papa,itu karena apa masih muda!" kata teh Zahra.


"Kalau teh Putri kenapa manggilnya ayah?" tanya kang Hatim.


"Di suruh sama bapa,manggil bapa,biar sama sama Dawa,namun waktu itu teman teman putri manggil ke bapak mereka ayah,jadi putri ikut ikutan manggil ke apa itu ayah!" jawab Teh Zahra.


"Kalau teh Alvi,kenapa jadi Abi?" tanya kang Hatim.


"Karena abi sudah terkenal menjadi Ustadz!" jawab teh Zahra.


"Senarnya,kita datang kesini bukan untuk membahas itu!" kata kang Rahmat.


*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπŸ˜…πŸ˜†πŸ˜‡πŸ™