
"Kamu dari tadi melihat lihat baju dan kerudung,apa kamu gak lapar?" tanya kang Hatim yang mulai bosan mengikuti Hana melihat lihat baju ini dan itu juga kerudung warna ini dan itu.
"Belum!" kata Hana.
"Belum apa?"
"Belum lapar!"
"Ah ya sudah terserah kamu saja!" kata kang Hatim.
"Eh kang,bukannya di desa kita ada pengajian ya?" tanya Hana.
"Iya!" kata kang Hatim.
"Lalu,kenapa kita gak ke sana?" tanya Hana.
"Kan kamu mau jalan jalan!" jawab kang Hatim.
"Kenapa gak ngingetin,jangan jalan jalan,kan kita ada acara pengajian,harusnya gitu kang!"
"Iya,saya juga lupa!"
"Tapi bukan akang kan yang ngisi ceramahnya?"
"Bukan,kalau saya yang ngisi ceramahnya,gak mungkin saya lupa!" kata kang Hatim.
"Ya sudah,ayo kita ke sana!"
"Ini sudah terlambat!"
"Ya gak papa,kan lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali!" kata Hana.
"Iya,tapi ini sudah jam setengah sembilan,sedangkan acaranya mulai jam enam,dan berakhir jam delapan!"
"Ooh,pantes pas tadi kita berangkat,pesantren sudah sepi ya!"
"Iyaa!" kata kang Hatim.
"Ya sudah ayo makan!" kata Hana.
"Mau makan apa?"
"Pertama bubur ayam,lanjut nasi kuning,lanjut nasi uduk,lanjut mie ayam,lanjut bakso,lanjut euh roti bakar,lanjut nasi padang,lanjut rujak dan...."
"Audzubillah himinas syaiton nirojim
Bismillaahir-rahmaanir-rohiim
yaa baniii aadama khuzuu ziinatakum 'ingda kulli masjidiw wa kuluu wasyrobuu wa laa tusrifuu, innahuu laa yuhibbul-musrifiin
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan." kata kang Hatim memotong kalimat Hana.
"Aku bercanda!" kata Hana.
"Mau makan apa? yang benar jangan semuanya! kalau mau,satu satu!" kata kang Hatim.
"Bubur ayam aja!" kata Hana.
"Ya sudah ayo!" Mereka langsung pergi mencari tukang bubur ayam.
"Pak,bubur ayamnya dua ya!" kata kang Hatim setelah sampai di tukang bubur ayam.
"Tunggu sebentar ya,silahkan duduk dulu!" kata pedagang bubur itu.
Hana dan kang Hatim pun duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Kang,kalau aku benar hamil gimana?" tanya Hana.
"Baguslah!"
"Apa akang akan bahagia?"
"Iya!"
"Tapi,kalau nanti kita punya anak akang akan lebih sayang sama anak kita,dari pada sama aku!" kata Hana.
"Nggak lah,kasih sayang sayang pada kamu dan anak kita nanti akan saya bagi rata!"
Pasti mereka pengantin baru,masih romantis! gak sepertiku yang sudah menjadi pengantin basi yang tidak ada romantisnya sama sekali! kata pedagang bubur itu dalam hatinya karena mendengar obrolan Hana dan kang Hatim.
"Ini buburnya,silahkan dinikmati!" kata pedagang bubur itu menyimpan dua mangkuk bubur ayam dengan kerupuk.
"Terima kasih pak!" kata Kang Hatim dan di jawab anggukan dan senyuman oleh tukang bubur itu.
"Ayo makan!" kata kang Hatim.
"Iyaa!" mereka langsung memakan bubur ayam itu sampai habis tanpa bicara apapun sampai habis.
"Sekarang mau ke mana?" tanya kang Hatim.
"Pulang aja" jawab Hana.
"Bener?"
"Iyaaaa!"
"Baju dan kerudungnya sudah cukup?"
"Sudah!"
"Bener?"
"Iyaaa!"
"Akang kenapa? kok gitu sih lihatnya? karena aku beli baju dua dan kerudung tiga ya? akang marah ya? kalau akang marah nanti aku ganti aja uangnya!" kata Hana.
"Eh tidak tidak,pak jadi berapa ya?" tanya kang Hatim.
"Empat belas ribu!" kata pedagang itu.
"Oh ini pak uangnya,kembaliannya ambil saja ya,terima kasih!" kata kang Hatim memberikan uang lebar dua puluh ribu.
"Iya,sama sama!" kata tukang bubur ayam itu.
"Ayo!" kata kang Hatim dan Hana pun ikut berdiri dan pergi dari posisinya saat ini.