Ustadz Muda

Ustadz Muda
#40


Tidak lama kemudian,satu unit mobil pajero sport terparkir dengan sempurna di pekarangan rumah itu.


Jelas,Hana dan bu Nur tahu siapa milik dari mobil itu.Suara mesin mobil sudah mati,begitu juga dengan lampu nya juga sudah mati.


Kang Hatim turun dengan penuh wibawa walaupun memakai samping warna army dan kaos oblong hitam dan peci hitam yang hampir tidak pernah lepas dari kepalanya.


"Assalamualaikum!" setelah sampai di teras menghampiri mertua dan istrinya.


"Waalaikum salam!" jawab bu Nur dan Hana dengan kepala menunduk.


Kang Hatim meraih tangan bu Nur dan menciumnya.Kang Hatim juga menyodorkan tangannya kepada Hana.Hana hendak menciumnya,namun tangannya sangat gemetar walau hanya untuk menyentuk tangan kang Hatim.


Kang Hatim pun membantu Hana dengan buru buru menempelkan tangannya ke Hana dan dia gerakan ke arah mulut Hana.


Astaghfirullah ya Allah,bagaimana ini? belum apa apa sudah begini...


"Kenapa ibu dan Hana duduk di sini?" tanya kang Hatim.


"Ah kami hanya sedang duduk saja sambil melihat keagungan Allah yang membuat begitu banyak bintang hingga sulit untuk di hitung!" jawab bu Nur.


"Oh iya bu,entah kenapa malam ini terasa sangat indah!" kata kang Hatim.


Indah bagimu,tapi tidak bagiku! batin Hana.


"Ya sudah,ibu masuk duluan ya,ini teh nya minum saja ya,belum ibu minum kok,dan masih hangat!"


"Iya bu,terima kasih!" jawab kang Hatim.


Bu Nur pun masuk ke dalam rumah setelah menjawab ucapan kang Hatim dengan senyuman ramah.


Kang Hatim pun duduk berdampingan dengan Hana,walaupun terhalang meja yang di atasnya ada teh hangat.


Hana terus menundukkan kepalanya,dia sangat malu,dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang ini.


"Hana? kamu kenapa?" tanya kang Hatim setelah menyuruput teh hangat.


"Emh,saya tidak papa kang!" jawab Hana masih menunduk.


Kenapa sikap nya jadi aneh gini? apa dia sudah tahu bahwa aku suaminya? ah apa dia akan marah? MasyaAllah ya Allah,bagaimana ini? batin kang Hatim.


"Kang..!"


"Hana!"


Kata kang Hatim dan Hana yang saling panggil bersamaan.


"Ada apa?" tanya kang Hatim.


"Ah tidak kang,akang ada apa?"


"Kamu duluan!"


"Akang duluan!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Ya sudah lah,emh apa kamu sudah t-tah makan?" mengalihkan pertanyaan.


Hana mengerutkan dahinya mendengar kang Hatim yang bicara tidak seperti biasanya.Yang biasanya selalu nyerocos tanpa gagap,tapi sekarang gagap seperti ada rasa malu.


"Ah saya sudah makan kang,akang sudah?"


"Sudah,tadi saya makan bersama teman saya!"


"Oh iya kalau gitu!"


"Emh,besok mau pulang jam berapa?"


"Terserah akang saja!"


"Kenapa terserah saya?"


"Tidak papa!"


"Terserah kamu saja!"


"Kalau sore bagaimana kang?"


"Baik,besok kita pulang setelah sholat ashar saja ya!"


"Iya kang!"


Suasana kembali hening.Mereka kembali menatap kemerlip bintang di langit.


Ya Allah,kenapa saya jadi gugup begini? kang Hatim.


Ya Allah,apa kang Hatim benar benar suami saya? Hana.


"Kenapa akang gak bicara sejak dulu?" tanya Hana tiba tiba saat suasana sedang sunyi.


Bersambung....


Assalamualaikum wr wb


Alhamdulillah novel kita ini sudah mencapai 40 episode,di mana masih banyak tulisan yang typo dan penempatan kata yang salah...


Author mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada semua pembaca.


Author juga sangat menunggu saran dari kalian,pasti novel jelek ini masih butuh sangat butuh saran.


Jangan lupa like,komen yang banyak + seru,vote,beri hadian sebanyak banyaknya...


Thanks....