Ustadz Muda

Ustadz Muda
#246


Pukul setengah dua belas siang kang Hatim dan Hana baru sarapan.Dan mungkin itu sarapan sekaligus makan siang mereka.Mereka tidur setelah sholat subuh.Dan mereka tidur cukup lama hingga baru bangun sesiang ini.


Mereka makan dengan makanan yang sudah di sediakan oleh bi Asih dan bi Ina dari pagi tadi tapi karena mereka baru makan,bi Asih dan bi Ina harus menghangatkan makanannya lagi.


Mereka makan tanpa bicara apa apa.Hanya suara sendok yang berdenting beradu dengan piring kaca yang terdengar.Hingga mereka selesai makan dan mereka bersantai sebentar di sana.


"Permisi non!" ucap bi Asih dengan sopan menghampiri Hana.


"Iya,ada apa bi?" tanya Hana.


"Maaf ganggu waktunya non! Bibi mau tanya!" jawab bi Asih.


"Iya gak papa bi,silahkan mau nanya apa?" tanya Hana.


"Disini yang jualan pulsa atau kuota di mana ya non?" tanya bi Asih.


"Dimana kang?" tanya Hana ke kang Hatim.


"Ada di depan pesantren bi! Bibi keluar gerbang! Lihat ke kiri ada mini market,ke sana aja! Ada kok di sana!" jawab kang Hatim.


"Oh iya kalau gitu kang Ustadz! Terima kasih! Kalau gitu boleh gak bibi keluar sebentar mau beli! Bibi mau ngabarin orang rumah!" kata bi Asih.


"Iya silahkan bi! Hati hati di jalan ya!" kata Hana.


"Iya non terima kasih! Permisi non,kang!" kata bi asih dan hana juga kang Hatim menjawabnya dengan anggukkan sambil tersenyum.


"Kang ke atas yu?!" ajak Hana.


"Mau apa? Tidur lagi?" tanya kang Hatim.


"Ish bukan,masa baru bangun mau tidur lagi!"


"Terus mau apa?" tanya kang Hatim.


"Aku mau mandi!" jawab Hana.


"Kok dari kemarin kamu jadi sering mandi bi?"


"Gini kang,sepertinya aku lebih baik rajin mandi! Dari pada aku gak mandi,terus di paksa dengan cara aneh!" jawab Hana.


"Hhahah,kamu mmah gitu bi!" sambil tertawa.


"Ayo!" kata Hana.


"Ayo!" merekapun pergi dengan bergandengan tangan.


"Kang aku mau nanya boleh gak?" tanya Hana.


"Nanya apa? Akang sih maunya tujuh aja bi! Sama seperti baginda nabi! Kan putra putrinya tujuh!" ujar kang Hatim.


"Maaf maaf! Terus mau nanya apa?" setelah menertawakan Hana.


"Tapi maaf kalau nyinggung ya!" kata Hana.


"Iya udah tujuh aja kalau gitu! Gak usah banyak banyak!" kata kang Hatim.


"Akang ih!'' Hana memukul pangkal tangan kang Hatim dengan kesal.


"Iya sok atuh mau nanya apa?" kang Hatim.


"Kan teh Putri itu jarang ngomong ya?" tanya Hana.


"Iya! Tapi sekali ngomong sepanjang jalan suramadu! Kalau jalan kenangan terlalu panjang!" kata kang Hatim.


''Nah itu yang mau aku tanyakan!" kata Hana.


"Gini,misal kamu punya gentong,kamu isi terus tapi gak pernah di keluarin! Nah jadi pas di keluarin langsung banyak! Mungkin teh Putri juga seperti itu! Sering di pendem,pas keluar banyak!" kata kang Hatim.


"Oooh gitu ya!" kata Hana dan malah tertawa melihat ekspresi menggemaskan istrinya yang mudah percaya dengan omongannya.


"Kok malah tertawa?Akang bohong?" tanya Hana.


"Sana mandi bi!"


"Ih,aku nanya serius malah di bercandain!" kata Hana kembali cemberut.


"Maaf!" kata kang Hatim.


"Terus gimana penjelasan yang benernya?" tanya Hana.


"Ya gak tahu bi! Kan setiap manusia itu mempunya sifat beda beda! Dan ada juga sifat yang aneh seperti teh Putri! Juga ada sifat teh Putri yang kamu belum tahu!"


"Apa emang?" tanya Hana.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" canda kang Hatim.


"Mau tahu aja sih!" kata Hana cuek.


"Cium dulu!" kang Hatim menunjuk pipinya dengan jari telunjuk.


"sepertinya lebih baik gak tahu aja deh!" kata Hana.


"Hajar aswad loh bi!" goda kang Hatim.


"Terserah!" kata Hana dan berlalu ke kamar mandi.Kang Hatim tertawa sambil geleng geleng kepala.