Ustadz Muda

Ustadz Muda
#265


Masuk ke rumah umi,sudah terhidang makanan berupa nasi kuning beserta teman temannya.


"Langsung makan dulu aja ya!" kata umi Nurul setelah semua orang duduk.


"Teh Alvi makan dulu aja,biar Sulthaan sama aku aja!" kata Hana.


"Teteh tidurin aja gimana?" tanya teh Alvi.


"Jangan teh,biar sama aku aja! Kan aku sudah makan tadi di klinik!" jawab Hana.


"Ah ya sudah kalau gitu!" teh Alvi menyerahkan Sulthaan ke Hana.


"Nama anakku di ganti umi,Sulthaan hanya nama panggilannya!" kata kang Hatim.


"Kenapa?"


"Hana yang minta umi!" jawab kang Hatim.


"Jadi siapa nama aslinya?" tanya umi Nurul.


"Muhammad Arroyyan Dylan Alfarizqi!" jawab kang Hatim.


"Muhammad Arroyyan Dylan Alfarizqi Hatim Abdurahman!" sambung Hana.


"Nama adalah suatu warisan yang pertama di terima oleh si bayi! Nama nya harus berupa doa bagi yaang punya! Apa artinya?" tanya umi Nurul.


"Anak laki laki yang selalu membawa rezeki dan berwawasan luas dengan penuh kekuatan!" jawab kang Hatim.


"Bagus kalau gitu,ayo makan dulu!" kata umi.


Mereka semuapun makan dengan nikmat.Sedangkan Hana hanya diam memandang wajah anak nya dengan diam diam dia senyum senyum sendiri di balik cadarnya.Ada kebahagiaan tersendiri dalam dirinya.Dia merasakan ketenangan melihat wajah anak nya yang tampan dengan menutup matanya dengan damai tidur nyenyak.


"Nanti aku buat jadwal anak anak santriyyat buat ngaji barjanzi! Roni buat jadwal santriyyat buat ngaji sorful anama!"kata teh Dawa setelah semuanya selsai makan.


"Siap teh!" ucap kang Roni.


"Mau di sini aja tempatnya? Atau mau di mana?" tanya umi Nurul.


"Sepertinya di rumah aku aja umi,biar rumahnya tambah berkah! Kalau umi mau,umi nginep aja di sana! Umi pindah ke sana!" jawab kang Hatim.


"Ya sudah,terserah kamu aja!" kata umi.


"Padahal kan kalau di sini ada umi ada juga teh Zahra,bisa bantu Hana buat apa gitu,nyuci pakaian bayi,atau gak bantu ganttin pakaian!" kata kang umi.


"Gak papa umi,di rumah juga kan ada bi Asih,bi Ina!" kata kang Hatim.


"Iya umi,sambil aku juga belajar!" kata Hana.


"Ya sudah deh,terserah kalian aja! Besar sudah,semakin dewasa lah!" kata umi.


"Iya umi,mungin kami akan sekarang aja pulang ke rumah umi,mau beres beres juga!" kata kang Hatim.


"Ya sudah boleh,tapi kan Hana baru lahiran,jangan buat dia capek! kalau mau beres beres tidak menggunakan ART,kamu aja yang beres beresnya!" kata umi Nurul.


"Iya umi!" jawab kang Hatim.


"Baik umi!" jawab teh Alvi.


"Sini Hana,teteh yang gendong!" kata teh Alvi.


"Gak papa teh,biar aku aja!" kata Hana.


"Ya sudah!" kata teh Alvi.


"Umi,aku pamit,izin pulang dulu!" kata Hana.


"Iya silahkan anakku! Semakin cantik,semakin bercahaya wajahmu!" kata umi yang kemudian mencium kening Hana.Setelah itu,kang Hatim juga izin pamit ke umi Nurul.Sama seperti yang di lakukan pada Hana,kang Hatim juga di cium kening oleh umi nya.


"Jaga istrimu! Jangan cuek lagi! Hilangkan sifat kanak kanakan!" kata umi Nurul.


"InsyaAllah umi!" jawab kang Hatim.


"Umi aku antar mereka dulu ya!" teh Alvi mencium tangan umi Nurul.


"Iya!" jawab umi Nurul.Kemduian teh Alvi mencium tangan suaminya.


Keluar rumah,santri perempuan sudah ada di luar rumah umi.


"Hai semuanya!" sapa Hana.


"Teh Hana,selamat ya!" salah satu kata yang di ucapkan oleh para santri.


"Terima kasih ya,semuanya!" kata Hana.


"Teh Hana nya mau istirahat dulu ya anak anak! Nanti kan ada waktunya kalian di bolehkan masuk ke rumah kang Hatim dan teh Hana,bisa lihat si bayi dengan dekat,bisa gendong juga nanti!" kata teh Alvi.Para santri mengerti langsung memberi jalan agar Hana dan kang Hatim juga teh Alvi bisa lewat.


Yang membuat para santri terharu dengan keromantisan kang Hatim,membuat mereka baper dengan apa yang di lakukan kang Hatim.Kang Hatim memayungi Hana dan si bayi.Teh Alvi mengikuti mereka dari belakang.


"Ih kang Hatim romantis banget ya!".


"Kirain kang Hatim itu cuek ke teh Hana juga sama seperti ke kita!"


"Udah ganteng,pintar,baik,romantis lagi! Idaman banget sih!"


"Apa ada lagi ya,laki laki yang seperti kang Hatim?"


"Teh Hana beruntung banget sih!"


"Ya Allah,aku juga mau dapat suami seperti kang Hatim!"


"Aku harus seperti teh hana,biar dapat suami seperti kang Hatim!"


Itulah sebagian komentar para santri dengan iri mereka.


#Ulah hilap d vote nya,oge supaya katinggal jejak na,like & komen...


#Jangan lupa d vote yah,juga agar terlihat jejaknya,like & komen...