
Pemakaman jenazah ayah Bima dan bu Nuraeni sudah selesai.Orang orang sudah pulang,tinggal sebagiannya lagi.
"Hatim,temani istrimu dulu! kamu mau pulang duluan!" kata teh Dawa.
"Eh,jangan dulu lah! tunggu dulu di rumah!" kata kang Hatim.
"Iya,kami tunggu di rumah!" kata teh Dawa.
"Ya sudah!!" kang Hatim mencium semua tangan kakak kakaknya.
Hana terduduk sedih di samping makam ibunya sambil mengusap usap kayu yang bertuliskan nama ibunya.
"Ibu,semoga ibu tenang di sana ya! Aku sudah ikhlas kok di tinggal sama ibu dan ayah! Walau rasanya berat banget buat pisah sama ibu dan ayah! Apalagi aku jarang banget bisa bertemu dan ngobrol sama ayah dan ibu! hiks,aku merasa berdosa banget karena tidak bisa melayani ibu dan ayah,hiks,aku tidak bisa membuat ayah dan ibu bangga!" Hana yang tadinya sudah tidak menangis menjadi kembali menangis.
"Aku juga mau berterima kasih sama ibu dam ayah,tapi gak sempet!" Hana kembali tersenyum.
"Terima kasih karena sudah menikahkan ku dengan seorang laki laki yang baik dari segala sisi nya! Mau sisi materi nya,sisi ekonominya,sisi keilmuannya apa lagi!" kata Hana.
"Selain itu,dia juga baik! bertanggung jawab! dan tidak aku lupakan,suami aku tampan!" kata Hana tanpa sadar membuat kang Hatim tersenyum malu.
"Aku juga mau minta doanya,aku sudah tidak menstruasi,semoga saja aku bener bener mengandung cucu pertama ibu dan ayah!" kata Hana.
Nanti saja lah aku bawa dia ke dokter,biar dokter yang kasih tahu! takutnya dokter yang bukan dokter kandungan itu salah! kata hati Kang Hatim mendengar kalimat Hana.
"Ayah,ibu,aku sayang banget sama kalian! kalau di ibaratkan ya,sepertinya alam semesta ini kecil di banding rasa sayang dan cintaku pada ayah dan ibu!" kata Hana.
"Tapi aku juga tahu,rasa sayangku akan kalah di banding rasa sayang ayah dan ibu padaku! Buktinya,saat aku membutuhkan ayah dan ibu,kalian pasti ada! Tapi kalau ayah sama ibu butuh aku,aku jarang ada!"
"Aku pergi dulu ya! Assalamualaikum!" kata Hana.
"Waalaikumussalam!" jawab kang Hatim namun dengan suara pelan.
"Eh akang? kirain udah pulang duluan!" kata Hana.
"Masa bidadari akang tinggalin di kuburan sendirian? kalau ada yang culik gimana? mana gak ada gantinya lagi!" ucap kang Hatim.
"Apaan sih? biasanya juga gak kaya gitu!" kata Hana meledek.
"Masa?"
"Iya! biasanya juga kaku! emangsih kalau dasarnya kaku,mau ngomong segimana romantis juga tetep bakal kaku!" kata Hana.
"Maklum dong bi,kan sehari hari suami mu ini ngajar! sudah kebiasaan formal! emangnya gak papa kalau suami mu ini romantis saat ngajar santri? mana santrinya perempuan semua lagi!" kata kang Hatim.
"Aku gak ngelarang!" jawab Hana.
"Ya sudah,nanti akang coba!" kang Hatim.
"Coba apa?" tanya Hana.
"Coba gak kaku ngomong sama kamu! udah ah ayo pulang!" kata kang Hatim dan kemudian menggandeng Hana dan membawanya pergi.