Ustadz Muda

Ustadz Muda
#244


Kang Hatim beserta keluarganya yang lain baru sampai di Baitussalam sani pada pukul setengah dua dini hari.Dan semua kakak kakak kang Hatim,termasuk kang Hatimnya di suruh umi agar ke rumahnya terlebih dahulu.Termasuk kang Roni.Yang awalnya kang Roni berangkat bersama anak anak santrinya,pulangnya jadi pindah mobil bersama teh Alvi di mobil yang di supiri oleh kang Rahmat.Dan para sanri di supiri oleh petugas di baitussalam awal.


Seperti biasa,jam dua pagi para santri walau santri perempuan sudah berkeliaran di lingkungan pesantren.


Kang Hatim beserta umi dan semua kakak kakaknya sudah ada di dalam rumah umi Nurul dengan semuanya masih terdiam tidak berani berbicara sebeleum umi Nurul memulai pembicaraan.Mereka semua menunduk dengsn sopan di hadapan umi Nurul.


"Tujuan umi menyuruh kalian tidak langsung pulang ke rumah masing masing dan malah di suruh ke sini dulu,umi mau berterima kasih kepada kalian semua! semuanya! Tanpa kecuali!" kata umi Nurul.


"Mohon maaf umi,maaf! Maksud umi,umi berterima kasih atas apa?" tanya teh Dawa.


"Gini,kalian semua lihat kan,tadi adalah perdana! Pertama kalinya adik bungsu kalian mengisi ceramah di panggung seperti tadi! Pertama,umi mau meminta kalian supaya mendoakan adik bungsu kalian,agar dia ceramah dengan hati yang bersih! Tidak niat lain selain ingin menyampaikan apa yang dia tahu! Dan semoga dalam hati adik kalian yang ceramah di depan orang banyak,tidak ada sedikitpun rasa ingin di puji!" kata umi Nurul.


"Kedua! Umi mau menanyakan gimana perasaan kalian setelah melihat adik bungsu kalian! Yang kalian kenal dia itu dingin cuek atau apalah bisa ceramah seperti tadi! Berikan penilaian yang sejujur jujurnya dan koreksi kesalahannya agar dia perbaiki! Mulai dari Ahmad dulu!" kata umi Nurul.


"Mohon maaf umi sebelumnya! Saya tidak bisa menilai! Tapi jujur umi,ceramah Hatim sangat bagus! Itu saja umi!" kata kang Ahmad yang memang saat di tanya umi Nurul,mau di tanya tentang apapun itu dia selalu gugup.Baru mendengar namanya di sebut saja sudah cukup membuatnya gugup.


"Terima kasih Ahmad! Umi doakan semoga kamu selalu laancar dalam segala urusanmu!" kata umi Nurul dan di aminkan oleh semua orang."Lanjut Zahra!" kata umi Nurul.


"Umi,Zahra juga sama seperti kang Ahmad! Zahra tidak bisa menilai seseorang! Tapi yang jelas umi,hiks,Zahra,hiks,sa-sangat bangga! Zahra merasakan Apa ada bersama kita! Hingga Zahra bisa mendengar beliau cermah kembali!" jawab teh Zahra sambil menangis.Karena menurut dia,saat kang Hatim ceramah,dia seperti saat mendengar ayahnya sendiri yang dia sebut 'apa'.


Umi Nurul juga tampak mengusap usap matanya mendengar jawab teh Zahra.


'Andai kamu masih ada kang yai! Pasti kamu juga akan baangga! Anak laki laki mu satu satunya! Yang selalu kamu banga banggakan kini sudah bisa meniru cara ceramahmu!' kata hati umi Nurul.


"Rahmat! Berikan penilaimu dengan jujur! Jangan takut si Hatim tersinggung!" kata umi Nurul.


"Mohon ijin umi,Sebelumnya juga minta maaf ke Hatim bila lancang! Bukan maksud mengajarkan berenang ke bebek mengajarkan manjat ke monyet! Satu hal Hatim! Hilangkan rasa gugup! Itu saja! Yang lainya sudah mantap! sudah bagus! Memang benar yang di katakan teh Zahra! Sudah mirip Kyai!" ucap kang Rahmat suami teh Dawa.Kang Hatim mengangguk mengerti.


"Mengerti Hatim?" tanya umi Nurul.


"InsyaAllah umi!"


"Coba dari kamu Haura" kata umi Nurul.


"Gini Tim! Benar apa yang dikatakan kang Ahmad! Cermahnya sudah sangat bagus! Benar kata teh Zahra! Sudah mirip bapa! Benar juga kata kang Rahmat! Gugupnya ilangin! Teteh cuma mau nambahin! Tambahkan gerakan Tim! Jangan hanya duduk aja gitu! Jadi kamu itu kurang menguasai panggung! Kamu lihat kan Ustadz Asep tadi? Apa yang dia omongin yang dia bisa dia peragakan! Jalan ke kiri jalan ke kanan! Lari ke kiri,lari ke kanan! Tapi jangan sampai loncat loncat! Kuasai panggung! Anggap aja kamu sedang bicara sendiri! Anggap lagi ngajar santri! Praktekan apa yang harus di praktekan!" kata teh Dawa.