
Selama dua hari Royyan berlatih ceramah dengan materi yang sudah dia siapkan dan kalimat yang terdiri dari beberapa kata, kata yang terdiri dari beberapa huruf yang sudah dia susun dengan rapihnya dan indahnya.
Kini sudah waktunya Royyan untuk berangkat. Namun dari sekarang, walau belum berangkat, Royyan sudah tidak mau diam, dia sudah seperti setrika mundar mandir.
Zhaffar juga di perintahkan oleh kang Hatim agar ikut pada Royyan untuk menjadi pendamping Royyan.
"Coba duduk dulu, tenang dulu!" kata Nadhiirah yang sudah mulai pusing dengan tingkah suaminya.
"Gugup Nadh!" kata Royyan.
"Duduk dulu!" Nadhiirah membawa Royyan agar duduk. Keadaan mereka, kini sedang berdua di kamar.
"Minum dulu nih!" Nadhiirah memberikan segelas air putih pada suaminya.
"Makasih!" Royyan meminum air yang diberikan Nadhiirah dengan tiga kali tegukan dengan setiap tegukan, sebelumnya membaca basmalah dan sesudahnya membaca hamdalah.
"Kamu harus percaya diri kang! Anggap aja sedang latihan depan kang Izul dan ama sama umma! Kan sudah lancar, sudah di puji bagus juga!" kata Nadhiirah.Memang, Royyan sempat latihan di depan kakak sepupunya dan kedua orang tuanya. Dan Royyan sudah mendapat cap bagus dalam intonasi, dalam penyampaian, dan dalam gerakan.
"Iya sih itu juga, tapi tetep beda kan Nadh! nanti tuh akan di atas panggung, banyak yang lihat, banyak yang merhatiin, iiih serrem!" kata Royyan.
"Ih gak papa, bismilah aja!"
"Iya insyaallah, doakan aja ya!"
"Pasti! Aku doakan dari sini!"
"Emang, beneran gak mau ikut?"
"Gak ah! Lain kali aja!"
"Hmmm, ya udah deh, gak papa!" kata Royyan.
"Royyan, kang Zulfi udah di bawah tuh!" kata umma Hana dari luar kamar.
"oh iya baik umma! Sebentar lagi Royyan turun!" kata Royyan.
"Ya sudah, umma tunggu di bawah ya, jangan lama lama!"
"Iya umma!"
"Awas kalau gak pakai baju yang sudah umma dan Nadhiirah siapkan!"
"Iya umma!"
"Tadi gak mau kan, pakai baju itu?!" ledek Nadhiirah karena merasa menang ada pembelaan dari mertuanya.
Falashback on
"Kang, aku sudah izin pada ama dan umma!" kata Royyan saat sedang di rumah Zulfi untuk memberi keputusan dengan tawaran Zulfi. Dia sambil menengok Maya yang kebetulan sedang sakit.
"Oooh jadi gimana? Di izinin?" tanya Zulfi.
"Di izinin!" jawab Zulfi.
"Wah, Alhamdulillah kalau gitu! Jadi mau berarti ya?"
"Gak juga!"
Lah? Kenapa? Ini mau laporan sama yang pnuya acara, kalau mubalighnya sudah ada!"
"Ada syaratnya kang!" kata Royyan.
"Syarat? Apa syartnya? Kalau masalah honor, ada! Kamu tenang aja!"
"Bukan bukan, aku gak mikir ke sana! Sedikit sih ada!"
"Pasti!"
"hheh!"
"Apa syaratnya?"
"Aku gak mau ada yang tau, aku anak ama Hatim!" ucap Royyan.
"Lah kenapa? Kamu malu mengakui ama kamu ayah kamu?"
"Justru sebaliknya, aku gak mau ama malu punya anak sepertiku! Aku takut tidak bisa menjaga nama baik ama, nama baik umi, nama baik baitussalam! Dan nama baik kang Izul sendiri!"
"Oooh gitu, iya sih bagus punya pikiran ke sana, tapi itu juga sudah ada izin sama ama!"
"ooh, iya deh, nanti aku juga izin sama ama,kalau aku gak mau pakai namanya!"
"Okey lah! Tapi fix mau ya?"
"InsyaAllah!"
Flashback off