Ustadz Muda

Ustadz Muda
#111


"Bi,aku mau teh hangat!" kata kang Hatim yang baru pulang dari mesjid melaksanakan sholat subuh berjamaah.


"Aku buatkan dulu ya,tunggu sebentar!" kata Hana dan langsung pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.


Kang Hatim di duduk di ruang keluarga sambil muroja'ah kitab fathul bari juz awal.


Tok tok tok


"Assalamualaikum! Paman!" teriak Zulfi dari luar rumah.


"Waalaikumussalam!" kang Hatim buru buru menyimpan kitab yang sedang dia baca dan dengan segera membuka pintu.


"Ada apa?" tanya kang Hatim.


"Orang tua Indri sudah ke sini kang,tadi ribut di rumah umi,dan sekarang sedang di bawa ke sini oleh uwa Zahra!" jawab Zulfi.


"Lah,kenapa pagi sekali?" tanya kang Hatim.


"Aku juga gak tahu man,tapi terlihat dari wajah mereka sepertinya penuh dengan nafsu!" jawab Zulfi.


"Ah ya sudah,nanti kamu suruh masuk aja ya,aku mau menemui istriku dulu!" kata kang Hatim.


"Iya man!" kata Zulfi.


Kang Hatim langsung menuju Hana yang sudah membawa baki dengan secangkir teh hangat di atasnya.


"Bi,orang tua Indri sudah datang,sebaiknya kamu pakai cadar dulu dan siapkan makanan!" kata kang Hatim.


"Oh sudah datang? ya sudah aku siapkan makanannya sekarang ya!" kata Hana.


Kang Hatim kembali ke ruang tengah,dan tamunya sudah duduk di ruang tamu di temani teh Zahra,teh Dawa,kang Ahmad dan kang Rahmat juga.


"Assalamualaikum!" kata kang Hatim.


"Waalaikum salam!" jawab kakak kakaknya saja.Sedangkan dua orang tamunya hanya menatap kang Hatim dengan tatapan tidak bisa di artikan.


Kang Hatim mengajak salaman kepada ayahanda Indri,namun bukannya membalas uluran tangan kang Hatim,bapak bapak itu malah menatap jijik ke arah kang Hatim.


"Assalamualaikum umi!" kata kang Hatim pada ibu Indri.


"Waalaikum salam!" jawab ibu Indri dengan juteknya.


"Bagaimana kabarnya umi,abi,sehat?" tanya kang Hatim basa basi dengan ramah.Namun,yang di tanya malah memasang muka datar.


"Alhamdulillah kalau sehat ya,mudah mudahan selamanya sehat!" kata kang Hatim yang menjawab pertanyaannya sendiri.


"Maaf ya,rumah saya kecil! tapi mudah mudahan nyaman ya!" kata kang Hatim.


"Jelas kecil,tak sebanding dengan rumah kita!" kata ibu Indri.


"Sebelumnya kenalkan,nama saya Hatim! umi dengan umi siapa?" tanya kang Hatim.


"Ibu Pipah,dan ini suami saya ayahnya Indri si cantik jelita ayah Nono!" jawab ibu Indri yang membanggakan putrinya.


"Alhamdulillah kita bisa bertemu ya!" kata kang Hatim.


Tidak lama kemudian,Hana datang membawa baki dengan beberapa gelas teh hangat di atasnya.


"Permisi!" kata Hana dengan ramah dan berjongkok untuk menyimpan gelas teh hangat itu di depan orang orang.


"Duduk sini Bi!" kata kang Hatim menepuk tempat kosong sebelahnya.


"Iya,setelah nyimpen ini dulu!" kata Hana.


"Pembantu di suruh diskusi sama kita sih?" tanya ibu Indri hingga Hana yang sedang berjalan melirik sebentar.


"Itu istri saya bu,bukan pembantu!" kata kang Hatim.


Sabar Hana,ini cobaan! kata hati Hana dan kembali melanjutkan perjalanannya menyimpan baki ke dapur.


"Oooh,wanita itu yang membuat Indri menangis?" tanya ibu itu dengan judes.


*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπŸ˜…πŸ˜†πŸ˜‡πŸ™