
Kang Hatim dan Hana sedang siap siap membereskan barang barang untuk di bawa pulang karena Hana sudah di izinkan pulang oleh bu bidan.
Sedangkan si bayi di asuh oleh teh Alvi yang baru datang di antar kang Roni.Sedangkan teh Dawa dan teh Zahra pulang ikut pulang ke pesantren bersama kang Roni.
"Namanya di ganti teh!" kata kang Hatim.
"Diganti? Jadi apa? Bukannya udah bagus Sulthaan?" tanya teh Alvi.
"Gak tahu sih,Ibunya yang ingin!" jawab kang Hatim.
"Biar lucu aja teh! Jadi di panggil Sulthaan! Namanya Muhammad Arroyyan Dylan Alfarizqi! Emang gak nyambung sama panggilannya sih!" kata Hana.
"Wah bagus juga nama baru nya!" kata teh Alvi.
"Buatan aku teh!" kata kang Hatim.
"Tetep bagusan yang buatan Hana!" kata teh Alvi.
"Emang selamanya mau jadi musuh kayanya!" ucap kang Hatim.
"Udah selesai beres beresnya?" tanya teh Alvi.
"Sudah teh! Ayo!" kata Hana membawa tas cukup besar di tangan kanannya.
"Dasar suami kurang ajar! Masa istri baru lahiran di biarain bawa tas berat!" kata teh Alvi.
"Eh iya,siniin bi!" kang Hatim merebut tas itu dari tangan Hana.
"Padahal gak papa kok!" kata Hana.
"Administrasi selesai?" tanya teh Alvi.
"Sudah!" jawab kang Hatim.
Merekapun keluar ruangan.Mereka menemui bu bidan yang sedang berada di ruangan tengah klinik nya yang mana di sana bu bidan sedang sarapan bersama para asistennya.
"Permisi bu!" kata kang Hatim.
"Eh Ustadz,mbak Ustadzah,mbak Hana,mari duduk dulu!" sahut bu bidan sambil berdiri dari duduknya diikuti para asistennya.
"Maaf ganggu bu! Kami gak lama kok! Kami mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya! Bu bidan sudah meu membantu saya dan istri dengan senang hati!"
"Ooh iya iya,sama sama ustadz! Maaf jika di sini tempatnya kurang nyaman,kurang bersih,pelayanan kurang maksimal,peralatan juga terbatas!" jawab bu bidan.
"Ah iya Alhamdulillah semua nya cukup bu!" kata kang Hatim.
"Alhamdulillah,semoga putranya menjadi penerus ayahnya ya,jadi anak yang sholeh!" kata bu bidan.
"Amiin bu amin! Kalau gitu,kami mau pamit dulu ya bu! Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!" kata kang Hatim.
"Iya ustadz sama sama!" Hana dan teh Alvi bersalaman dengan bu bidan dan para asistennya sedangkan dengan kang Hatim,hanya saling mengatupkan tangan mereka.
Bu bidan mengantar kang Hatim beserta teh Alvi dan Hana ke depan.Di depan kilinik sudah siap mobil dengan pintu yang juga sudah terbuka.
"Yogi,tolong masukkan ke bagasi!" kata kang Hatim.
"Baik kang!" jawab Yogi membawa dua tas yang di bawa kang Hatim ke belakang mobil dan di masukkan ke dalam bagasi.
"Mari bu!" kata kang Hatim dan Hana juga teh Alvi dan masuk ke dalam mobil.Kang Hatim duduk di depan di samping supir dan Hana beserta teh Alvi di belakang.
Yogi menyalakan klakson tanda penghormatan pada bu bidan yang masih berdiri di depan pintu sampai mobil pergi dan baru masuk ke dalam lagi.
Hanya butuh waktu dua puluh menit,mobil sudah hampir sampai di pesantren baitussalam sani.Sudah terdengar tabuhan alat rebbana di sound sistem dari arah pesantren.