
"Ayo sarapan kang!" ajak Hana pada kang Hatim yang seperti biasa dia sedang baca baca kitab.
Sejak menikah,kang Hatim jadi jarang kerja di ruangannya.Dia lebih sering kerja di kamar,ruang keluarga bahkan dapur demi busa selalu bersama istrinya.
"Ayo!" jawab kang Hatim.
"Oh iyq bi,sekarang bakal datang temen akang!" kata kang Hatim setelah duduk.
"Temen akang yang mana?" tanya Hana.
"Temen akang yang dari Madura,kamu gak akan tahu!" jawab kang Hatim.
"Berapa orang?" tanya Hana.
"Gak tahu!"
"Mau apa?"
"Sebenarnya akang minta dia datang ke sini supaya bisa ngobatin kamu! akang takut sakit yang kamu alami bukan penyakit medis!" jawab kang Hatim.
"Maksudnya aku gangguan jiwa gitu?" tanya Hana.
"Lih,gangguan jiwa masih termasuk penyakit medis bi!" jawab kang Hatim.
"Oh gitu ya,terus gimana?" tanya Hana.
"Penyakit batin!" jawab kang Hatim.
"Aku gak ngerti kang!"
"Akang takut kamu di sakiti secara halus!" kata kang Hatim.
"Di putuskan cinta? itu kan disakiti secara halus!"
"Beda lagi sayang!" kata kang Hatim.
"Terus gimana?" tanya Hana.
"Kamu di santet!" jawab kang Hatim.
"Idih,gak mungkin jaman sudah modern,sudah jaman now masih ada santet santet!" kata Hana.
"Gak ada yang gak mungkin bi,walaupun jaman udah modern tapi masih ada orang yang seperti itu!" kata kang Hatim.
"Lagian aku juga gak punya dosa ke siapa siapa juga!" kata Hana.
"Iya juga sih,tapi kan tiap orang beda beda bii,mereka berbuat seperti itu bukan hanya karena kamu punya dosa ke mereka! tapi mungkin mereka iri dengan apa yang kamu punya!"
"Emangnya aku punya apa? harta? itu harta Allah yang di titipkan di ayah sama ibu dan mungkin di akang! aku tidak punya harta apa apa? kepintaran? aku inikan bodoh kang!" kata Hana.
"Kamu punya wajah yang cantik pun bisa membuat orang lain iri bi,apalagi kamu punya suami ganteng!" kata kang Hatim.
"Mulai deh!" kata Hana.
"Mulai apa?"
"Membanggakan diri sendiri! padahal gak di bangga banggain sendiri juga aku sudah bangga punya akang!" kata Hana membuat kang Hatim tersenyum malu.
"Bi,ke kamar yu?" ajak kang Hatim.
"Apa aja,kalau udah di kamar kan bebas!" jawab kang Hatim.
"Kalai nanti tamu datang gimana?" tanya Hana.
"Lah iya ya,ya sudah nanti saja ya bi!" jawab kang Hatim.
Di gerbang pesantren Baitussalam sani,sebuah mobil grand max terparkir.Supir dari mobil itu turun dan menyapa mang Ujang.
"Assalamualaikum!" kata supir itu.
"Waalaikum salam,dengan siapa?" tanya mang Ujang ramah.
"Ah saya Joyo pak,saya supir Ustadz Fahmi!" jawab supir itu.
"Oouh,ada keperluan apa ya?" tanya mang Ujang.
"Bapak tahu Ustadz Husen?" tanya balik pak Joyo.
"Ustadz Husen,nggak tuh saya gak kenal!" jawab mang Ujang.
"Ustadz Husni!" kata Pak Joyo.
"Maksudnya Ustadz Hatim?" tanya mang Ujang.
"Nah iya,apa ustadz Hatim di pesantren ini?" tanya Pak Joyo.
"Iya,Ustadz Hatim memang tinggal di sini!" jawab mang Ujang.
"Ah gini,saya Joyo supir dari Ustadz Fahmi,kami datang ke sini mau bertemu Ustadz Husen atau Ustadz Hatim!" jelas pak Joyo.
"Oouh iya iya,ya sudah,mobilnya di bawa masuk aja!" kata mang Ujang.
"Iya pak,terima kasih!" kata pak Joyo dan kembali masuk ke dalam mobil.
Mang Ujang lanjut membukakan gerbang agar mobil bisa masuk.
"Pak,parkirnya di mana ya?" tanya Pak Joyo tanpa turun dari mobil.
"Bisa kok parkir di depan rumah Ustadz Hatim saja! rumahnya yang itu! yang warna kuning!" jawab mang Ujang dan menunjukkan rumah kang Hatim menggunakan jempolnya.
"Oh gitu,ya sudah terima kasih pak,saya permisi!" kata pak Joyo.
"Iya sama sama!" jawab mang Ujang.
Hanya membutuhkan waktu dua menit dan kini mobil sudah terparkir di depan rumah kang Hatim.
Dari mobil itu turun sampai lima orang termasuk Ustadz Fahmi yang berbadan ideal memakai gamis putih, dan peci putih.
Novel baru nih,ayo baca.....ππππ
Marhaban ya Ramadhan....ππ₯³π₯³
Selamat menunaikan ibadah puasa gays,semoga puasa dan ibadah kita yang lain di terima Allah dan pahalanya berlipat lipat gandaπ€²π€²π€²
Author meminta maaf lahir batin,bila mana Author sering membuat kesalahan....π