Ustadz Muda

Ustadz Muda
Berkat


"Nadh? Kamu gak apa apa?" Royyan mengetuk pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Nadhiirah.


"Astaghfirullah, berapa lama aku di sini?" Nadhiirah nanya pada dirinya sendiri.


"Nadh?"


"Iya kang, aku gak apa apa! Sebentar!"


"Ya udah, cepet keluar! Sudah gak tahan nih!"


"Apa? Dia sudah gak tahan apa? Ah jangan jangan? Gimana ini? Duuh kenapa sih abah nikahin aku cepet cepet!" Nadhiirah malah ngomong sendiri.


"Nadh? Cepetan ih! Beneran ini mah gak kuat!" kata Royyan.


"Ya Allah, Gimana ini? Ya udah lah, pasrah aja! Udah jadi kewajiban juga sebagai istri! Ya Allah beri hamba mu ini kekuatan!" kata Nadhiirah sebelum menarik nafas panjang dan kemudian membuangnya.


"Naaaadh ! Ya Allah!"


Nadhiirah membuka pintu kamar mandi berpapasan dengan suaminya yang menghadap ke pintu.


Nadhiirah menatap Royyan sebaliknya,Royyan juga menatap Nadhiirah.


"Awas ah, udah gak kuat nih!" Royyan dengan buru buru, masuk ke dalam kamar mandi.


Nadhiirah melongo atas kejadian itu.Dirinya malu pada diri sendiri.


"Kirain udah gak kuat apaan, ternyata? Aduh kacau! Nadhiirah, tingkat ketololan mu meningkat!" Nadhiirah ngomong sendiri lagi.


"Apa maksudnya?"


"Astaghfirullah, kang ih! Bikin kaget aja!" Royyan sudah ada di belakang Nadhiirah.


"Lah? Makanya jangan ngelamun! Mau kesambet kamu?"


"Na'udzu billahi mindzalik!"


"Tidur sana!"


"Kamu?"


"Sedikit lagi, kamu duluan aja!"


"Apanya?"


"Itu nya, kerjaanya!"


"Emangnya gak papa aku tidur duluan?"


"Gak papa, mau di kelonin?"


"Tidak, terima kasih!" Nadhiirah langsung on the way menuju ranjang.


"Nyebelin!" kata Nadhiirah.


"Ngomong apa kamu?"


"Gak!"


"Ish ish ish!" Royyan kembali duduk di kursi di depan meja dan lanjut membuka buka kitabnya.


Saat di pesantren, Nadhiirah memang suka tidur malam, namun paling malam pukul sebelas, kini sudah hampir setengah satu dan dia baru mau tidur.Makanya, saat dirinya merasa nyaman, langsung terlelap.


Beberapa menit kemudian, Royyan melirik ke arah istrinya yang sudah tertidur dengan nyamannya.


Sambil tersenyum, Royyan geleng geleng kepala, dia membayangkan kembali apa yang sudah terjadi malam itu.


Royyan beranjak dari duduknya, dia membenarkan selimut yang di pakai Nadhiirah karena hanya menutupi bagian kaki, Royyan menaikkan selimutnya menjadi sampai bagian dada.


Lalu, setelahnya, Royyan menatap Nadhiirah dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Nikmat mu yang mana yang akan hamba mu ini dusta kan ya robbi, Memandang wajah salah satu makhluk mu, yang sekarang menjadi istriku, pendampingku, merupakan salah satu nikmat mu yang paling berharga! Ya mushowwir, memang maha membuat bentuk, bukan hanya alam semesta ini yang kau bentuk dengan indah dan sempurna, tapi wajah istriku juga indah dan sempurna! ya waddud, semoga cintaku engkau tetapkan untuk istriku dan semoga menumbuhkan rasa cinta istriku padaku! ya waajid, kau mempertemukan ku dengan seorang perempuan yang baik, pintar, juga sholehah! ya ghonii, cukupkan lah rizki mu pada keluargaku! ya mughni, limpahkan rizki mu pada keluargaku! Ya Rosyid, mudahkan hambamu dalam membingbing istri ku! ya shobbur, sabarkan kami dalam menjalani cobaan darimu!"


Royyan mencium kening Nadhiirah dengan lembut dan dia menahannya merasakan kehangatan,kenyamanan,dan kenikmatannya.


Setelahnya, Royyan kembali ke asalnya,kembali mengerjakan pekerjaannya.


Di bawah, kang Hatim baru pulang dari undangan ceramahnya.


Seperti biasa, karena tahu jadwal kepulangan suaminya,umma Hana senantiasa menunggunya dan menyambutnya.


Setelah kang Hatim masuk,umma Hana mencium tangan suaminya.


"Sudah makan kang?" tanya umma Hana.


"Sudah!"


"Apa itu?" tanya Hana pada Yogi yang membawa masuk beberapa kardus.


"Biasa non, berkat!" jawab Yogi.


"Makasih Gi!"


"Iya kang, sama sama! Saya permisi kang!"


"Iya sok!"


"Assalaamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!" jawab umma Hana dan kang Hatim.


"Tidur yu ah, ngantuk!" kata kang Hatim.