
Kang Hatim dan Hana sudah berada di pelaminan yang sudah di siapkan khusus untuk mereka.
Setelah tadi ijab kobul terus pemberian mahar lanjut acara sungkeman yang di dalamnya meminta doa.Setelah itu mereka berfoto sambil menunjukkan buku nikah mereka yang berwana merah dan hijau.
Para tamu undangan sudah pada pulang setelah makan dan mengucapkan selamat dan doa kepada pengantin yang bahagia itu.
Keluarga besar dari Kyai Cahya juga sudah pulang.Kyai Cahya yang tadinya sebagai guru kang Hatim sekarang sudah menjadi kakek kang Hatim.
"Kamu sudah makan bi?" tanya kang Hatim.
"Sudah kang,akang sudah?" tanya balik Hana.
"Belum,kamu kapan makan?" tanya balik kang Hatim lagi.
"Tadi pagi di suapi sama ibu!" jawab Hana.
"Lah,kamu enak ada yang nyuapin,akang gak ada!" kata kang Hatim.
"Emangnya akang mau di suapi?" tanya Hana.
"Mau!" jawab kang Hatim.
"Tadi kan akang sama teman teman akang,kenapa gak minta suapi oleh teman teman akang saja?" tanya Hana sambil sedikit tertawa dan dengan seketika bibir kang Hatim yang tadinya melengkung tersenyum menjadi datar.
"Kebayang gak sih? masa minta di suapi teman teman akang,mana mereka laki laki semua!" kata kang Hatim sambil ikut tertawa.
"Gak papa lah,romantis!" kata Hana masih tertawa.
"Dasar!" kata kang Hatim sambil mencubit pelan hidung Hana yang tertutup cadar.
"Ya sudah,akang makan dulu sana!" kata Hana.
"Mau di suapin!" kata kang Hatim dengan manja.
"Iiih,minta di suapin umi aja sana!" kata Hana.
"Maunya sama kamu!" kata kang Hatim.
"Ya Allah,ternyata suami saya seperti ini ya Allah!" kata Hana dan mereka berdua tertawa bersama.
"Tunggu sebentar!" kata Hana.
"Maya!" panggil Hana pada Maya yang sedang mengobrol dengan salah satu undangan yang mungkin dia kenal.
Maya langsung sedikit lari menghampiri Hana yang memanggilnya.
"Ada apa ibu Ratu? ada yang bisa saya bantu?" tanya Maya sambil menundukkan badannya seperti pelayan pelayan kerajaan yang hendak melayani ratunya.
"Ish,kamu ini apa apaan sih?!" kata Hana dengan malu.
"Bisa tolong ambilkan nasi?" tanya balik Hana.
"Nasi?" tanya Maya.
"Iya nasi,yang buat makan itu,yang warna nya putih dan asalnya dari padi dan di tanam oleh petani di sawah!" jawab Hana panjang lebar.
"Aku tahu teh,tapi buat apa?" tanya Maya.
"Buat makan Maya,masa untuk di buat minyak angin!" kata Hana.
"Heheh,lauknya mau apa?" tanya Maya.
"Mau apa aja kang?" tanya Hana pada kang Hatim yang sedang memainkan hand phone nya.
"Apa aja saya suka bi!" jawab kang Hatim.
"Ya sudah,ambilkan nasi,suwir ayam sama capcay aja!" kata Hana.
"Ya sudah,tunggu sebentar ya teh,aku ambilkan dulu!" kata Maya dan di jawab anggukan oleh Hana.
"Permisi kang!" kata Maya dan langsung pergi.
Tidak lama kemudian,Maya kembali dengan membawa baki dengan di atasnya ada dua piring nasi,satu piring suwir ayam,satu piring capcay.Maya di temani oleh Zahra yang juga membawa baki yang di atasnya dua gelas air putih dan dua gelas teh hangat.
"Astaghfirullah Maya,kenapa banyak banyak?" tanya Hana.
"Di suruh bi Ani!" jawab Maya.
"Lah,terus mau di simpan di mana? di sini gak ada meja May!" kata Hana.
"Sudah sudah,sini!" kang Hatim mengambil satu piring nasi dan dia tambahkan nasi itu dengan suwir ayam dan capcay.
"Pegang ini!" kata kang Hatim memberikan satu piring nasi yang sudah di tambah lauknya pada Hana.
Lanjut kang Hatim mengambil piring nasi yang ke dua dan dia tambahkan lauknya dan kembali menyuruh Hana memegang piring itu.
Sekarang kang Hatim mengambil kedua gelas air putih dan dia simpan di atas kotak amplop yang ada di antara kursi pengantin dan kursi orang tua.
"Sisanya,kalian simpan lagi ke dapur!" kata kang Hatim.
"Iya kang,permisi!" kata Maya dan kembali.
*contoh baju kang Hatim dan Hana.
Sorry baru up guys,Author sibuk sama tugas tugas sekolah yang 'audzubillah sangat banyak walaupun sudah akhir tahu..