Ustadz Muda

Ustadz Muda
#255


Sudah jam delapan pagi tapi kang Hatim masih belum pulang.Hana sudah selesai sholat duha dan kemudian dia menunggu suaminya sambil menikmati sarapan bergizi yang di siapkan oleh bi Asih dan bi Ina.


Selesai sarapan kang Hatim masih belum pulang juga.Hana kembali ke kamarnya yang sekarang dia punya kamar tidak di lantai atas.Pindah ke lantai bawah agar tidak bulak balik naik tangga.


"Kang Hatim kemana sih? Kok belum pulang juga!" kata Hana sambil melihat ke luar jendela sambil mengelus perut besarnya.


"De,ama mu ke mana sih? Kamu kangen juga kan sama ama? Umma juga sama,kangen banget sama ama kamu!" kata Hana.


Saat merenung sedirian,kemudian mobil yang di pakai kang Hatim muncul.


Hana dengan semangat mencari cadarnya dan dengan tidak sabar segera keluar dari kamar keluar rumah juga untuk menyambut suaminya.


Kang Hatim keluar dari mobil dengan pakaian yang berbeda seperti yang tadi malam saat dia berangkat.Berangkat pakai gamis tapi saat pulang sudah tinggal memakai kaos oblong yang di pakai daleman juga sarung.


Hana langsung mencium tangan kang Hatim.Kemudian kang Hatim mencium kening Hana,kemudian mencium kepalanya.


"Kenapa baru pulang?" tanya Hana.


"Macet bi! Yogi,tolong mandikan mobil nya ya!" kata kang Hatim.


"Baik kang Ustadz!" jawab Yogi.


"Ayo masuk!" kang Hatim menggandeng Hana masuk ke dalam rumah.


"Gak kontraksi?" tanya kang Hatim.


"Alhamdulillah gak ada!" jawab Hana.Mereka duduk di kursi."Akang capek?" tanya Hana.


"Sedikit!" jawab kang Hatim.


"Ya sudah,ayo ke kamar! Akang mandi terus istirahat!" kata Hana.


"Nanti aja! Akang masih kangen sama kamu sama Sulthaan!" kata kang Hatim sambil meraba raba perut Hana.


"Sudah makan?" tanya Hana.


"Belum!"


"Ayo aku temenin makan!" kata Hana.


"Gak mau ah! Akang gak lapar!" kata kang Hatim.


"Ya sudah,ayo ke kamar!" kata Hana.


"Ayo deh!" kang Hatim kembali menggandeng Hana menuju kamar.Masuk ke kamar kang Hatim langsung menjatuhkan badannya tubuhnya ke ranjang.


"Mandi dulu kang!" kata Hana.


"Ya udah!" kang Hatim kembali bangkit dari rebahan PW nya langsung ke kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian,kang Hatim selesai mandi sudah memakai pakaian sehari harinya.Kang Hatim dan Hana duduk di pinggir ranjang.


"Semalam kamu tidur jam berapa?" tanya kang Hatim.


"Bohong sih!" kata kang Hatim.


"Beneran kok!" kata Hana.


"Semalam kamu di temenin sama Maya dan Naya! Mereka pasti biasa tidur malam! Terus kamu suka khawatir sama suami kamu! Jadi kamu susah tidur! Jadi diperkirakan kamu tidur sekitar jam dua belas jam satu! Paling sinag jam setengah sebelas!"


"Ih,so tahu banget!'' kata Hana.


"Tapi bener kan?"


"Iya aja lah!" jawab Hana.


"Sepertinya sangat mahal harganya untuk mengakui kepintaran suamimu hubbi!"


"Iye deh,akang Hatim,suamiku emang pintar! Sangat pintar! Pintar membuat istrinya khawatir,pintar membuat istrinya rindu juga!" kata Hana.


"Kamu rindu bi?"


"Emm,gak juga sih! Cuman Sulthaan yang rindu sama akang! Aku nggak! Semalam aja dia panggil panggil akang! Ama ama!" kata Hana.


"Masa sih?" tanya kang Hatim sambil memposisikan badannya tiduran dengan kepala di paha Hana dan wajahnya menghadap perut besar hana setelah menciumnya.


''Sulthaan sayang! Apa yang umma mu katakan benar? Tapi ama rasa itu bohong deh! Yang ama rasakan,yang benar benar rindu sama ama itu umma kamu! Kan kamu belum tahu apa itu rindu ya?! Oh iya Sulthaan,ama mau cerita sama kamu! Sebenarnya semalam,saat ama pergi,ama juga sangat sangat merindukan umma mu! Ama sangat khawatir sama umma mu!" Hana tersenyum dengan pipi memerah mendengar ucapan kang Hatim.


"Ama sangat menunggu kehadiran mu Sulthaan! Ama tidak sabar untuk melihat ekspresimu saat melihat wajah umma mu! Pasti kamu akan terkesima dengan kecantikannya! Apalagi saat ini,dia tersenyum dengan malu membuat pipinya merah! Membuat dia semakin cantik!" kata kang Hatim.


"Tidak berhenti ama doakan kamu! Semoga kamu lahir dengan lancar! lahir dengan keadaan yang sempurna dzohir batin nya! Sehat dzhor batin! Dan kelak menjadi anak yang sholeh! Seperti yang umma mu cita citakan,kamu harus jadi da'i,tahfidz,qori juga! Dan ya,kalau bisa semoga kamu menjadi walinya Allah!"


"Emang jadi wali bisa di cita citakan?" tanya Hana tiba tiba serius.


"Bisa dong! Asal bener bener ibadah! Bener bener melaksanakan perintah Allah menjauhi larangan Allah! Bisa jadi wali!"


"Ooh gitu,tapi kalau mau jadi Nabi tetep gak bisa ya?!" Hana.


"Iyaa lah! Kan nabi terakhir adalah Baginda nabi Muhammad!" kata kang Hatim.


"Ooh iya iya! Akang gak ngantuk?" tanya Hana.


"Ngantuk bi! Akang mau tidur gini!" jawab kang Hatim.


"Jangan dong kang! Aku bawa Suthaan sudah berat banget! Di tambah sama akang!"


"Hhahah sabar ya! Itu kan sudah takdir Allah!" kata kang Hatim bangun dari tidurnya dan kembali berbaring dengan posisi yang benar.


Hana juga ikut berbaring di samping suaminya.


"Kamu mau ikut tidur bi?" tanya kang Hatim.


"Gak tahu! Kalau tidur berarti gak sengaja!"


"Aneh!" kata kang Hatim sambil memeluk Hana dan terlelap tidur setelah capek perjalanan jauh,kini waktunya dia beristirahat sambil melepas rindu pada istrinya yang dia cinta.