
"Ada yang aneh Tim!" kata kang Rahmat saat sudah di dalam mobil dan menuju untuk pulang.
"Gini kang ,mohon maaf sebelumnya,bukan maksud aku mau membohongi akang dan yang lain!" kata kang Hatim mengerti maksud kang Rahmat.
"Apa Tim?" tanya kang Rahmat.
"Jadi,Zulfi itu gak mondok di Nurul Qur'an,Tapi dia mondok di Miftahurrahmah,makanya gurunya,para santri santri sudah kenal sama Zulfi!" jawab kang Hatim.
"Masa? kan waktu itu akang antar dia ke Nurul Qur'an!" kang Rahmat tidak percaya.
"Iya,tapi dari sana dia ijin sama gurunya yang di sana bahwa dia mau ke pesantren lain,dia naik angkutan umum untuk sampai di kubang sari pondok pesantren Mifatahurrahmah!" kata kang Hatim.
"Kenapa dia begitu Tim? kenapa gak bicara saja?" tanya teh Alvi.
"Maklum,waktu itu dia masih bocah,dia gak berani bilang sama teh Dawa ataupun sama Kang Rahmat! sedangkan pesantren Miftahurrahmah itu impiannya mungkin!" jawab kang Hatim.
"Tapi waktu Taufiq ke Nurul Qur'an kak Zulfi ada di sana!" kata Taufiq.
"Nah,dia takut kalau kamu bakal di anterin sama ibu kamu,jadi dia buru buru kembali ke Nurul Qur'an supaya gak ketahuan kalau dia gak di sana! dia ijin ke aang Kafi mau pulang,padahal dia ke Nurul Qur'an!"
"Taufiq,kamu sudah berapa lama di Nurul Qur'an?" tanya teh Alvi.
"Baru dua bulan!" jawab Taufiq.
"Selama dua bulan itu Zulfi merasa tidak nyaman di sana,apalagi dia ijin ke gurunya mau pulang! pasti gak enak hati!" kang Hatim.
"Astaghfirullah itu anak emang bener bener!" kang Rahmat kesal.
"Sabar kang,maklum lah di masih labil!" kata kang Hatim.
"Kenapa kamu gak bicara jujur seperti ini waktu si Zulfi belum berangkat?" tanya teh Alvi.
"Zulfi takut ibunya marah,kan aku juga mengerti!" jawab kang Hatim.
"Tapi kamu salah Tim,harusnya kamu jujur,jangan membela yang salah!" kang Rahmat.
"Aku juga tidak bermaksud berbohong,bukan maksud juga aku membela yang salah! cuman,aku ingin Zulfi bahagia aja! kalau dia gak bahagia,buat apa dia mondok? ilmunya gak akan nyampe!" jawab kang Hatim.
"Pantesan anak anak santri di sana dan istri guru c Zulfi juga mengenal Zulfi!" kata teh Alvi.
"Oouh,pantes kalau begitu!" kata teh Alvi.
"Maaf ya kang,sekali lagi aku bukan bermaksud untuk membohongi akang dan yang lain!" kata kang Hatim.
"Iya gak apa apa Tim,akang tahu kok,kamu begitu karena kamu sayang sama ponakan kamu!" kata kang Rahmat.
"Kalian gak lapar?" tanya teh Alvi.
"Lapar lah!" jawab kang Hatim dengan semangat.
"Gak makan tadi?" tanya teh Alvi.
"Nggak! teteh juga nggak?" tanya kang Hatim.
"Nggak!" jawab teh Alvi.
"Tapi di tawarin ya kan?" tanya kang Hatim.
"Iyaa!" jawab teh Alvi.
"Tapi malu?"
"Iyaa!"
"Nasib kita sama berarti!" kata kang Hatim.
"Mau ke rumah makan dulu?" tanya kang Rahmat.
"Pasti!" kang Hatim.
"Ya sudah,nanti jika ada rest area berhenti dulu!" kata kang Rahmat.
"Siap!" kang Hatim.
Tidak lama kemudian,kang Hatim menemukan rest area.Mereka turun dari mobil dan istirahat makan di sana....