
"Kamu dari mana?" tanya kang Hatim pada Hana.
"Dari kobong kang!" jawab Hana (kobong \= asrama)
"Ngapain?"
"Tadinya mau langsung ngaji tapi aku belum ijin sama akang!"
"Ya sudah,gak usah,di rumah aja ngajinya!"
"Tapi kenapa?"
"Tanya kenapa?"
"Oh iya baik kang!"
"Ayo,ikut saya!"
Zulfi bingung.Kenapa pamannya jadi seperti itu sama wanita yang bukan muhrim-nya.
Apa dia Farhana? tanya hati Zulfi.
Tidak lama kemudian,mereka sampai di rumah kang Hatim.Zulfi juga di buat kagum dengan isi rumah impian kang Hatim tersebut.
"Ayo duduk!" kata kang Hatim.
"Ah iya man,makasih!" langsung duduk,tapi gak di ruang tamu.Malah di ruang keluarga.
"Hana,bisa tolong buatkan minum?" tanya kang Hatim.
"Ah iya bisa,mau minum apa?"
"Zulfi,kau mai minum apa? teh,kopi,susu,jus,atau apa?"
"Ah apa aja boleh,tapi aku mau kopi man!"
"Bilang aja mau kopi,jangan bilang apa aja boleh!"
"Heheh,iya!"
Kang Hatim menatap Hana dan langsung di jawab anggukan oleh Hana karena mengerti maksud dari tatapan kang Hatim yang jika di terjemahkan."Sudah dengar?" dan di jawab anggukan oleh Hana yang berarti iya.Dan Hana langsung pergi ke dapur untuk pertama kalinya membuat kopi di rumah itu.
"Dia Farhana kan?" tanya Zulfi.
"Iya!"
"Kenapa dia di sini? apa dia menjadi pembantu di rumah ini?"
"Wish,sok tahu!"
"Terus?"
"Mulai sekarang,panggil dia bibi,dia istriku!"
"Apa?" Zulfi kaget mendengar kalimat yang kang Hatim lontarkan.
"Kenapa?"
"Ah gak papa!" hati Zulfi terasa sakit karena dari dulu dia sudah mengincar Hana.
Zulfi memperhatikan Hana yang sedang menyimpan dua gelas berisi kopi di depannya dan di depan kang Hatim.
"Terima kasih!" kata Zulfi dan di jawab anggukan dan senyuman di balik cadarnya karena terlihat matanya yang menyipit.
"Pergilah ke kamar!" kata kang Hatim.
"Iya kang!" Hana langsung pergi ke dapur untuk menyimpan baki dan langsung pergi ke kamar sesuai perintah suaminya.
"Kamu jangan terpesona olehnya!"
"Sudah dari dulu man,cuman keduluan!"
"Wish,jujur sekali anda ya!"
"Hahah,gak akan kok man,sudah yang itu buat paman aja!"
"Ayo minum kopinya!" kata kang Hatim dan Zulfi langsung meneguk kopinya.
"Kang kenapa lemari kitab ini di kosongkan?" tanya Zulfi yang melihat lemari kaca kang Hatim yang kosong.
"Itu buat kitab kitab istriku,cuman belum di bawa,masih di kobongnya!"
"Masih di kobong? emangnya sudah berapa lama paman menikah dengannya?"
"Baru hari ini kita tinggal di sini,nikahnya sudah lama,cuman dia baru tahu bahwa dia sudah menikah kemarin!"
"Apa? jadi paman menikahi wanita itu tanpa sepengetahuan wanita itu?"
"Iya,merokok?"
"Wah wah wah,sepertinya lebih ke pemaksaan!" mengambil satu batang rokok.
"Iya sih,tapi dianya juga mau nikah sama saya!"
"Ya pasti mau lah,masa mau cerai lagi!"
"Ish,kamu ngerokok gak ngaruh sama suara kamu?"
"Nggak!"
"Pernapasan?"
"Nggak juga!"
"Ooh,tapi kata orang merokok bisa memendekkan nafas!"
"Gak juga,di pesantren yang aku tempati kan khusus tilawah,semua santrinya merokok,termasuk si Taufiq,udah aku larang juga gak nurut!"
"Berangkat lagi kapan?"
"Belum tahu!"
"Saya akan mengadakan resepsi pernikahan saya,tadinya saya mau ngundang qori inter dari banten,tapi karena ada kamu,kamu aja yang qori nya,ya!"
...Bersambung.......
Follow akun ig/fb Author Syiba