
"Kang?!"
"Apa?"
"Kenapa akang tadi marah marah?"
"Siapa yang marah marah?"
"Akang!"
"Tidak,tidak sama sekali saya tidak marah marah!"
"Lah,terus tadi itu apa?"
"Saya berbicara tentang disiplin!"
"Tapi para santri mengira akang marah marah tadi,sampai sampai mereka ketakutan!"
"Masa?"
"Iya!"
"Kamu gak lapar?" kang Hatim mengalihkan pembicaraan.
"Lapar sedikit,tapi aku lupa masak!"
"Kebiasaan di masakin orang!"
"Hheh,iya kang,kan biasanya habis ngaji langsung makan,udah di siapin!"
"Kan sekarang kamu sudah punya suami!"
"Iya,harusnya aku yang melayani kan?"
"Pandai!"
"Dari dulu!"
"Jelaskan tentang ghibah!"
"Ah lain kali saja ya,kepandaian ku bukan untuk di pamerkan!"
"Dasar!" mereka tertawa bersama.Sungguh keluarga kecil yang bahagia.
"Saya beli dulu makanan ya?"
"Kalau akang lapar,aku bisa masak sesuatu!"
"Buat kamu,bukan buat saya!"
"Eh? aku gak lapar!"
"Tadi katanya kamu lapar!"
"Sudah nggak,nanti aja makannya malam!"
"Malam?"
"Iya,nanti aku akan masak!"
"Emangnya kamu gak akan ngaji?"
"Ngaji dulu,nah pulang ngaji baru aku masak!"
"Ya sudah,terserah kamu saja!"
"Bisa nahan lapar sampai nanti kan?"
"Bisa!"
"Eh kang,tadi pas ngaji kata akang,akang sudah bicara sama kakak kakak akang soal akang yang akan ngajar setiap sore!"
"Iya,terus kenapa?"
"Kapan akang bicara sama kakak kakak akang?"
"Besok mungkin!"
"Lah,kata akang sudah,berarti akang bohong!"
"Bukan bohong,tapi rencana!"
"Rencana itu judulnya akan,bukan sudah!"
"Ya sudah,biar besok saya bicara beneran sama kakak kakak saya!"
"Lagian,kenapa akang ingin setiap sore ngajar ngaji?"
"Pasti ada alasannya kan?"
"Apa saya harus jawab jujur?"
"Ya iyalah,masa bohong,kan akang tahu bohong itu dosa!"
"Ya sudah iya!"
"Apa?"
"Apa apa?"
"Ih,apa alasan akang ingin mengajar setiap hari setiap sore?"
"Saya ingin selalu bersama kamu,jika saya mencegah kamu ngaji,itu tidak pantas.Makanya agar saya bisa melihat kamu,ya walaupun dengan jarak jauh dan dengan banyak orang.Makanya saya cari alasan agar bisa terus bersama kamu!"
Hana tersipu malu dengan jawab kang Hatim yang ternyata dia memang romantis.
"Kenapa senyum senyum?"
"Ah apa? nggak kok!"
"Saya tidak buta Hana!"
"Sebentar lagi adzan kang,sebaiknya kita siap siap sholat maghrib!"
"Huh,dasar tukang mengalihkan topik pembicaraan!"
"Akang juga sama!"
"Kapan?"
"Tadi!"
"Tidak pernah sama sekali!"
"Dosa kang,dosa!"
"Apaan sih kamu ini?"
"Saya ke kamar dulu,dadah!" Hana berlari kecil akan menaiki tangga.
"Jangan lari lari Hana,nanti jatuh!" teriak kang Hatim sambil berlari juga menyusul istrinya yang sedang menaiki tangga.
"Kamu membuat saya capek!" kata kang Hatim sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kenapa menyalahkan aku?"
"Karena kamu lari lari!"
"Aku gak nyuruh akang buat mengejar ku!"
"Tapi saya takut kamu jatuh karena lari lari!"
"Cie perhatian!"
"Emangnya gak mau di beri perhatian?"
"Siapa bilang?"
"Sudah,sini duduk dulu!"
"Mau aku ambilkan minum?"
"Boleh deh!"
Hana langsung mengambil gelas yang ada di meja samping ranjang,dan mengisinya dengan air mineral yang ada di sana.
"Ini!"
"Terima kasih!"
"Aku ke kamar mandi dulu ya?!"
"Mau ngapain?"
"Bersih bersih sekalian ganti baju!"
"Kenapa harus ganti baju di kamar mandi? kan bisa di sini?"
"Kan ada akang!"
"Kan saya suami kamu!"
Bersambung...