
Ustadz Asep Mubarak sudah kembali turun dari panggung selesai ceramah dengan waktu satu setengah jam yang dia habiskan untuk tausiyah.Dari tadi mulai,kang Hatim dengan serius mendengarkan cermah yang di sampaikan Ustadz Asep Mubarok agar apa yang di sampaikan bisa dia serap dan bisa dia pakai pas dia ceramah.
Setelah Ustadz Asep Mubarok turun dari panggung selesai ceramah,kang Roni tidak langsung memanggil kang Hatim tapi diselangi sholawat.Kang Roni mengerti pasti kang Hatim akan gugup.
Memang apa yang di pikirkan kang Roni sangat benar.Saat Ustadz Asep Mubarok berdoa penutupan,jantungnya mengalami peningkatan dalam berdetak menjadi lebih kencang.
"Bi!" kata kang Hatim berbisik sementara Ustadz Asep Mubarok sedang mengobrol dengan pak Nono.
"Apa?" tanya Hana.
"Akang gugup! Apa mending batalin aja ya? Akang bener bener gugup bi!" kata kang Hatim.
"Eh jangan lah! Masa di gak jadi! Kasihan loh umi saja sampai dengan sengaja ikut ke sini jauh jauh hanya demi ingin lihat akang ceramah! Tapi malah gak jadi!" kata Hana.
"Tapi akang gugup bi!" kata kang Hatim.
"Anggap aja ngajar santri!" kata Hana.
"Kalau ngajar santri kan pakai kitab,jadi pas lupa bisa langsung lihat kitab! Tapi ini nggak bi! Gimana kalau akang kehabisan kata kata,lupa semua kata kata! Kan malu! Bakal euh,euh,eummm,euh eum!" kata kang Hatim.
"Lah,ya gak akan lah! Masa sampai begitu!"
"Bisa aja bi!"
"Gak akan kang! Aku percaya sama akang! Bismillah,lahaulaa,alhamdulillah!" kata Hana.
"Doain akang ya!" kata kang Hatim.
"Iya bi!" kata kang Hatim dan menarik nafas panjang dan membuangnya.
"Jangan gugup Ustadz Hatim!" kata Ustadz Asep.
"Aduh,iya bah! Saya gugup banget!" kata kang Hatim dengan malu karena ketahuan.
"Baik ibu bapak saudara sudari semuanya,agar tidak terlalu malam,langsung saja kita lanjutkan ke tausiyah yang ke tiga dari Ustadz Muhammad Hatim Husni Abdurahman! Silahkan dengarkan dengan baik! Cermati dengan baik! simpan yang baik untuk di ingat,tinggalkan yang buruk untuk di ingat! Laksanakan yang baik! Tinggalkan yang buruk!" kata kang Roni dari atas panggung dan jantung kang Hatim sudah berdetak semakin kencang.
"Tenang tenang!" kata Ustadz Asep Mubarok.
"Kepada Ustadz Muhammad Hatim Husni Abdurahman! Waktu dan tempat,dengan penuh hormat! Kami persilahkan!" kata kang Roni dan setelah itu melantunkan sholawat man anaa untuk menyambut kang Hatim.
Kang Hatim mencium tangan Ustadz Asep Mubarok.
"Minta doanya bah!" kata kang Hatim.
"Sok,sing lancar! Abah marengan didieu!'' kata Ustadz Asep Mubarok.
Kang Hatim berdiri setelah mendapat doa dari Ustadz Asep Mubarok diikuti Hana karena dia ingin keluar rumah untuk duduk di luar bersama umi Nurul dan kakak kakak iparnya agar bisa menyaksikan kang Hatim secara langsung.Tadinya juga Hana emang mau duduk bersama umi Nurul di luar dari awal,tapi kang Hatim tidak mau di tinggalkan.Alias mau selalu di temani.
Setelah berdiri Hana mencium tangan kang Hatim.
Kang Hatim berjalan menuju panggung dengan di damping banser yang selalu menjamin kesalamatan ulama.Saat kang Hatim menuju panggung,Hana langsung menghampiri kalurganya dan duduk bersama mereka.
Kang Hatim naik ke atas panggung dan duduk di kursi yang sudah di sediakan dengan meja di depannya.