Ustadz Muda

Ustadz Muda
#236


Pukul lima sore,mobil sudah siap untuk pergi ke nikahan Indri.Mereka akan memeakai dua mobil.Mobil pertama adalah mobil yang akan diisi oleh kang Hatim,Hana,Umi Nurul,teh Zahra dan kang Ahmad serta Liza.Dan akan di supiri oleh Yogi.


Sedangkan mobil ke dua akan di isi oleh teh Dawa,beserta suaminya yaitu kang Rahmat teh dawa juga tidak mungkin tidak membawa anak bunsunya Elisa.Kemudian ada teh Putri dan kang Sep yang akan menyetir beserta putra mereka yaitu Cahya.Ditambah teh alvi dan Alvin yang memutuskan untuk ikut beserta rombongan kang Hatim karena kang Roni berangkat terlalu pagi dan kata kang Roni,dia tidak perlu di temani.


Jarak tempuh dari pesantren Baitussalam hanya membutuhkan waktu satu jam setengah.Jadi kemungkinan mereka akan sampai di lokasi jam setengah tujuh malam.


"Ayo semuanya naik dulu!" kata kang Hatim setelah semuanya berkumpul.


"Kang Ahmad di depan,umi sama teh Zahra di bangku depan! aku dan Hana di belakang!" kata kang Hatim.Kang Ahmad masuk duduk di kursi depan bersampingan dengan supir.


"Kamu aja duduk di bangku ke dua sama Hana,umi di belakang sama teh Zahra!" kata umi Nurul.


"Laa umi,masa Hatim membelakangi umi,ayo umi di depan!" kata kang Hatim.


"Baiklah! Tapi kalau kamu hilang wibawa gara gara duduk di belakang gimana?" tanya umi Nurul.


"Tidak akan umi! Justru akan nambah wibawa! Karena aku menghormati umi sebagai ibuku!" kata kang Hatim mencium tangan umi Nurul.


"Ya sudah!" kata umi Nurul sambil masuk ke dalam mobil dengan tangan masih di genggam kang Hatim.


Kang Hatim memakai gamis putih,jubah abu abu mirip seperti ini:



Hana juga menggunakan baju yang sewarna dengan kang Hatim,yaitu baju gamis ysar'i dengan warna abu abu dan cadar hitam.



Jujur,kakak kakak kang Hatim sangat takjub melihat penampilan gagah kang hatim.Yang memang jarang sekali kang Hatim berpakian seperti itu.Karena sehari hari paling menggunakan sarung dan kaos.Kecuali kalau ngajar dia suka memakai koko.


Terakhir,kang Hatim masuk mobil,dan mereka pun memulai perjalan dengan doa mereka masing masing.


Baru empat puluh lima menit perjalanan,adzan maghrib sudah berkumandang.


"Berhenti dulu di mesjid ya,kita sholat aja dulu!" kata kang hatim sambil melepaskan peci putih yang di belitkan imamah itu dan menggantinya dengan pecii biasa.


"Kenapa di lepas?" tanya Hana.


"Malu bi,nanti aja kalau udah mau sampai di pakai lagi!" jawab kang Hatim.


"Kan yang sunah memakai sorban atau imamah itu saat sholat! Bukan saat ceramah!" kata teh Zahra.


"Eh,baginda Nabi juga cermah memakai imamah! Tidak hanya saat sholat!" kata kang Hatim.


"Sudah lah Dawa,adikmu itu lebih pintar!" kata umi Nurul dan seketika kang Hatim merasa di sindir.


"Maaf umi,bukan Hatim lebih pintar dari umi dan teh Zahra! Hatim hanya bercanda!" kata kang Hatim dengan malu.


"Ayo turun!" kata kang Ahmad karena mobil sudah terparkir halaman mesjid yang cukup besar.Merekapun turun satu persatu.Begitu juga dengan mobil yang di supiri kang Rahmat,mereka juga ikut berhenti dan ikut turun untuk bersama sama melaksanakan sholat maghrib.


Selamat hari raya idul adha 1443 H.....🥳