Ustadz Muda

Ustadz Muda
#254


"Gak kok gak ganggu! Malahan aku seneng! Aku jadi gak harus ngaji! Aku bisa melepas rindu sama teh Hana!" kata Maya.


"Iya teh benar kata Maya! Kita jadi libu ngaji!" kata Naya.


"Yeh kalian gitu sih! Emangnya gak sayang! Malam ini kalian kehilangan harta yang paling berharga! Ilmu akhirat!" kata Hana.


"Kali kali gak papa kan ya teh?" tanya Maya.


"Terserah kalian aja lah!" jawab Hana.


"Permisi non!" kata bi Asih yang akan menyajikan susu dan cemilan.


"Terimakasih bi!" Kata Hana.


"Terimakasih bi!" kata Maya sedangkan Naya tersenyum tanda berrterima kasih.


"Ada yang perlu di bantu lagi Non?" tanya bi Asih.


"Tidak bi!" jawab Hana.


"Ya sudah,bibi permisi ke belakang! Permisi!"


"Silahkan bi!" kata Hana.


"Padahal tadi aku bawa kitab! Sorogan sama teh Hana!" kata Naya.


"Terus mana kitab nya?" tanya Hana.


"Gak di bawa!"


"Ya sudah,malam ini kalian benar benar libur aja dulu!" kata Hana.


"Iya teh! Eh teh,aku boleh nyentuh perut teh Hana gak?" tanya Maya.


"Boleh! Pegang aja!" jawab Hana.


"Asyik!" Maya langsung memegang tangan Hana.


"Kata orang kalau hamilnya udah sebesar ini si bayi nya suka kerasa nendang nendang! Benar gak teh?" tanya Naya.


"Benar! Aku juga suka merasakannya! Rasanya ngilu ngilu nikmat gitu!" jawab Hana.


"Tapi kok ini gak ada pergerakan teh?" tanya Maya masih mengelus perut Hana.


"Ya mungkin si bayi nya lagi tidur! Atau lagi mager!" jawab Hana.


"Ooh,bayi juga suka mager ya?!" Naya dengan polos.


"Yaa,aku juga gak tahu sih,hheh! Mungkin saja kan?!"


"Iya sih! Kan kalau sudah sembilan bulan,semuanya sudahsempurna ya? mata,hidung,pokoknya semuanya sudah sempurna ya?!" Maya.


"Iyaa! Biasanya suka gerak gerak itu dari setengah sembilan!" kata Hana.


"Wah,beneran teh?"


"Iyaa!"


"Pasti si dedek bakal ganteng kaya kang Hatim kalau laki laki! bakal cantik kaya teh Hana kalau perempuan!" kata Naya.


"Menurut sangkaan USG sih laki laki! Semoga aja bener laki laki!" kata Hana.


"Emangnya kenapa teh Hana ingin punya anak pertama laki laki?" tanya Maya.


"Pertama,agar di saat dia punya adik nanti,mau adiknya perempuan ataupun laki laki lagi,dia bisa menjaga adiknya! Kedua,aku ingin ada penerus kang Hatim! Saat kang Hatim sudah mulai tua,dia harus sudah beres mondok! Sudah bisa ceramah,jadi tahfidz! Jadi qori juga! Terus dia juga akan jadi pelindung orang tuanya saat orang tuanya sudah semakin lemah!"


"Ooh gitu ya! Tapi kalau USG itu salah gimana?"


"Ya gak papa! Mungkin itu yang terbaik menurut Allah!" jawab Hana.


"Apa kang Hatim juga ingin punya anak pertama laki laki?" tanya Maya.


"Sepertinya kang Hatim terserah deh! Mau laki laki ataupun perempuan! Tapi kayanya lebih ingin perempuana sih!" kata Hana.


"Lah,gimana sih?" Naya.


"Sudah lah,minum dulu susu nya!" kata Hana,dan kedua temannya pun nurut meminum susu coklat yang di buatkan oleh bi Asih.Hana juga ikut meminum susunya.


"Pantes aja kang Hatim banyak yang ngundang ceramah! Kitabnya aja selemari! Berarti ilmunya juga banyak!"


"Menurut aku sih,kang Hatim banyak yang ngundang ceramah bukan karena banyak ilmu! Tapi karena cara penyampaian nya yang bagus! Memang sih banyak ilmu juga mempengaruhi,tapi yang paling utama ya itu,cara penyampaian! Walau banyak kitab kitab tebel gitu,itu buat pegangan aja! Yang sering di sampaikannya dari kitab kitab kecil! Contonya saat di undang di nikahan,jarang tuh pakai dalil dari kitab kitab besar! Kebanyakan dari uqudullijain,qurrotul uyyun,fathul izzar paling! Terus kalau di acara khitan hanya pakai hadist,cerita nabi,akhlaq!"


"Ooh gitu ya!" Maya.


"Dan kang Hatim punya kebiasaan saat akan ceramah! Dia selalu membaca kitab yang tidak sesuai dengan apa yang akan dia sampaikan! Contoh,dia akan mengisi acara nikahan,kalau kita kan ya,pasti yang di baca kitab yang akan di sampaikan! Yang ada hubungannya sama nikahan! Nah,kang Hatim mah bukan! Dia malah suka baca kitab tentang fikih,tasawuf,yang gak sesuai lah! Malah kan dia sekarang mengisi acara nikahan,tadi dia baca fathul muin bab najis!" kata Hana.


"Mungkin itu salah satu ritual teh!"


"Ritual,emangnya kang Hatim itu dukun!"


"Eh,aku masih inget! Saat kang Hatim buat si Indri pingsan dengan hentakan!" kata Maya.