Ustadz Muda

Ustadz Muda
#176


"Ya Allah,hiks,ampuni dosa Hana ya Allah,maafkan semua kesalahan,hiks,engkau yang maha rohman,maha penolong,hiks,tolong Hana ya Allah! apa salah Hana ya Allah,sehingga Hana di teror seperti ini ya Allah! Hana takut,hiks!" Setelah sholat maghrib,Hana berdoa sambil menangis.


"Ya Allah,jika pernikahanku sama kang Hatim banyak menyakiti hati orang lain,hiks,lebih baik pisahkan saja aku sama kang Hatim ya Allah!"


"Ya Allah,aku mencintai kang Hatim ya Allah,aku sayang kang Hatim!"


"Hiks,kalau emang aku dan kang Hatim berjodoh,kuatkan rumah tangga kami,hiks,jangan ada yang ganggu rumah tangga kami ya Allah,hiks!"


Kang Hatim yang baru pulang dari mesjid sholat maghrib berjamaah,ikut meneteskan air mata mendengarkan doa Hana.


"subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun wasalamun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin!" Hana menutup doanya dan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah dan mengelap air mata yang tidak berhenti menetes.


Tok tok tok


Hana melihat ke arah pintu yang sudah terbuka.Buru buru dia berdiri menyambut suaminya yang sudah berdiri di ambang pintu.


Hana mencium tangan kang Hatim,dan kang Hatim mencium kening Hana dan menahannya cukup lama.Kemudian kang Hatim memegang pundak Hana dan menatap wajahnya.Hana juga membalas menatap wajah kang Hatim.


"Akang akan ingatkan kamu lagi,akang sayang sama kamu,akang cinta sama kamu! Akang gak mau berpisah dengan mu sampai di surga nanti! akang janji,tidak akan ada orang lain yang menjadi pendamping hidup akang selain kamu! kamu harus tahu itu,harus ingat kata kata yang akang katakan barusan! Akang tahu kamu juga sayang,kamu cinta sama akang! ingat lagi kalimat ini,apapun yang terjadi,kita harus jalani bersama!" kata kang Hatim.Hana kembali meneteskan air mata mendengar kalimat kang Hatim.


"Aku takut kang,hiks,aku takut dengan adanya pernikahan kita banyak yang sakit hati! hiks!" kata Hana.


"Gak akan ada!" kata kang Hatim.


"Ada kang,buktinya Indri,dia pasti sangat sakit hati kang,hiks,dia pasti benci padaku! hiks!" kata Hana."Pasti dosa kang,aku takut pernikahan kita gak berkah! banyak menyakiti hati orang!" kata Hana lagi di pelukan kang Hatim.


"Sebuah pernikahan adalah sebuah ibadah! tidak mungkin ada ibadah yang tidak berkah kalau kita benar benar dalam menjalani ibadah itu! kalau masalah sakit hati,kan kita tidak tahu! hanya Allah yang tahu! masalah kita dosa atau nggak nya,gara gara ada orang yang sakit hati karena kita menikah,bukan urusan kita,kita serahkan saja pada Allah!" kata kang Hatim dengan bijaknya.


"Aku takut kang,seperti yang akang tahu,hiks,aku sayang sama akang,hiks,aku cinta sama akang! aku takut kehilangan akang! hiks!" kata Hana.


"Kan sudah akang katakan,kita gak akan terpisah sampai surga nanti,akang pasti akan mati,tapi akang akan menunggu mu di surga!" kata kang Hatim.


"Tapi kenapa Allah memberi kita cobaan yang berat kang?" tanya Hana.


"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu-aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho-naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, angta maulaanaa fangshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."