Ustadz Muda

Ustadz Muda
#125


"Hana di mana Hatim?" tanya ayah Bima setelah duduk di ruang keluarga.


"Hana di kamar yah,sebentar ya! saya panggilkan dulu!" kata kang Hatim dan di jawab anggukan oleh kedua mertuanya.


"Gak salah ya yah,kita menikahkan Hana dengan Hatim,udah Ustadz,gandeng,baik,sopan,harta juga cukup!" kata bu Nur.


"Iya bu,ayah juga sangat takjub melihat rumah ini,sangat rapih dan cantik!" kata ayah Bima sambil melihat sekeliling rumah kang Hatim.Namun,yang paling membuat ayah Bima dan bu Nur takjub adalah lemari kristal yang diisi dengan kitab kitab kuning tebal tebal.


"Yah,kira kira berapa harga kitab kitab itu ya?" tanya bu Nur.


"Sepertinya jutaan bu,ayah juga pernah membelikan kitab i'anatutholibin kalau gak salah,empat jilid,dan satu jilid nya tebal seharga tiga ratus enam puluh ribu,apalagi kitab kitab ini yang lebih tebal dan lebih banyak jilid nya,pasti lebih mahal!" jawab ayah Bima.


"Ayah Ibu!" teriak Hana sambil turun dari tangga dengan wajah gembira.


"Hati hati!" kata kang Hatim.


Ayah Bima dan bu Nur langsung berdiri menyambut putri mereka yang mereka rindukan.


Mereka berpelukan melepas rasa rindu mereka.


"Apa kabar ibu dan ayah?" tanya Hana setelah mencium tangan ibu dan ayahnya dan kening Hana di cium oleh kedua orang tuanya.


"Alhamdulillah ayah dan ibu baik nak,kamu bagaimana?" jawab dan tanya balik bu Nur.


"Alhamdulillah bu,Hana juga baik!" jawab Hana.


"Ayo duduk dulu bu,biar Hana buatkan minum!" kata Hana.


"Iya!" Ayah Bima dan bu Nur pun langsung kembali duduk.Kang Hatim juga ikut duduk menemani kedua orang tuanya.


"Ibu dan ayah mau minum apa?" tanya Hana.


"Apa aja nak!" jawab bu Nur.


"Ya sudah,aku buatkan jus,mau?" tanya Hana.


"Iya,boleh!" jawab bu Nur.


"Akang juga mau?" tanya Hana.


"Boleh!" jawab kang Hatim.


"Ya sudah,tunggu sebentar ya!" Hana langsung pergi ke dapur untuk membuatkan jus.


"Jam berapa dari rumah yah?" tanya kang Hatim.


"Tadi berangkat jam lima!" jawab ayah Bima.


"Iya Tim,kami terlalu bersemangat!" kata ayah Bima sambil sedikit tertawa.


Eh Tim,tenda,panggung dan pelaminan yang di samping mesjid itu untuk resepsi?" tanya bu Nur.


"Ah iya bu!" jawab kang Hatim.


"Soal konsumsi gimana Tim?" tanya ayah Bima.


"Saya terima jadi yah,kan saya punya teman tukang konsumsi! jadi nanti terima jadi aja!" jawab kang Hatim.


"Sudah di bayar?" tanya ayah Bima.


"Baru sebagian yah!" jawab kang Hatim.


"Berapa emang?" tanya ayah Bima.


"Tiga juta yah!" jawab kang Hatim.


"Kamu baru bayar berapa?" tanya ayah Bima.


"Satu juga setengah!" jawab kang Hatim.


"Sebentar!" ayah Bima mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang seratus ribuan entah berapa banyak.Lanjut ayah Bima menghutung jumlah lembaran uang berwarna merah itu.


"Nih,bayar semuanya ya!" kata ayah Bima memberikan uang yang baru selesai dia itung pada kang Hatim.


"Ah gak usah yah,saya ada kok uang,cuman emang dari sana nya minta segitu dulu!" kata kang Hatim.


"Iya gak papa,uang kamu pakai untuk kebutuhan yang lain!" kata ayah Ahmad.


"Aduh,terima kasih yah kalau gitu,jadi gak enak!" kata kang Hatim.


"Jangan sungkan Tim,kan kita juga orang tua kamu!" kata bu Nur.


"Ah iya bu!" sambil tersenyum.


"Kalau panggung,tenda dan pelaminan itu biaya sewa nya berapa?" tanya ayah Bima.


"Dua belas juta yah,tapi sudah saya bayar lunas yah!" jawab kang Hatim.


"Nanti ayah transfer untuk gantinya!" kata ayah Bima.


"Gak usah yah!" kata kang Hatim.


"Gak papa Tim,untuk urusan resepsi,kalau bisa kamu bisa kamu tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun! biar ayah yang nanggung! kamu hanya perlu membahagiakan Hana!" kata ayah Bima.