Ustadz Muda

Ustadz Muda
#76


"Karena sudah terlalu malam,untuk kitab nasho ihul ibad kita lanjutkan besok subuh,Wassalamualaikum wr wb!" kang Hatim menutup pengajian malam ini karena menurutnya ini sudah terlalu malam.


Seperti biasa,sebelum bubar para santri membaca sholawat nabi terlebih dahulu.


Lanjut setelah membaca sholawat nabi,para santri sholat isya berjamaah dengan kang Hatim sebagai imam.


Selesai sholat isya berjamaah para santri kembali ke kobong dan melakukan aktivitas masing masing.


Hana masih melipat mukena yang habis dia pakai barusan,padahal kang Hatim sudah menunggunya di depan mesjid.


"Ayo kang!" kata Hana setelah menghampiri kang Hatim.


"Kenapa lama sekali?"


"Aku melipat mukenanya dulu!"


"Ya sudah,ayo pulang!"


"Akang sudah lapar ya?"


"Iya,makanya saya tidak menyelesaikan pengajian,saya sudah terlalu lapar.Tadinya saya mau mengakhiri pengajian di pukul sebelas atau dua belas!"


"Wih,akang kejam!"


"Kejam apa?"


"Masa mau sampai jam dua belas,kan teman temanku gak akan tahan!"


"Saya dulu,waktu di pesantren yang di Blitar begitu,ngaji mulai setelah isya dan berakhir jam tiga pagi.Saya hanya punya waktu satu jam untuk tidur.Jam empat harus bangun tahajud dan sholat subuh.Habis sholat subuh lanjut ngaji sampai jam sepuluh.Istirahat sampai dzuhur.Setelah dzuhur ngaji lagi sampai jam lima,lalu sholat ashar dan istirahat.Ngaji lagi setelah isya.Semua waktu penuh di pakai ngaji,sedangkan di pesantren ini terlalu banyak istirahat.Gimana mau bisa ngaji?"


"Ayo masuk kang!" kata Hana karena mereka sudah sampai di depan rumah.Tak terasa karena kang Hatim bercerita dan Hana mendengarkan hingga sampai di depan pintu.


"Sabar ya,aku mau masak dulu!" kata Hana setelah menyimpan tas yang isinya kitab dan mukena di atas kursi.


"Iya!" jawab kang Hatim yang juga sudah duduk di kursi.


Hana bingung mau masak apa sekarang.Terlalu banyak bahan pasak kan yang bisa di pasak.


"Kang,mau makan apa?" tanya Hana.


"Intinya saya mau nasi,untuk temannya apa saja,terserah kamu!"


"Saya bingung mau masak apa kang!"


"Masak yang kamu bisa saja,dan yang tidak lama!"


"Ya sudah!" Hana kembali ke dapur dan mengambil setengah liter beras lalu mencucinya dan di masukkan ke dalam rice cooker.


Hana kembali melihat isi kulkas dan meletakkan jari telunjuknya di dagu sambil memikirkan sesuatu.


"Apa aku masak telor ceplok aja ya,biar gak lama?"


"Eh tapi masa telor ceplok doang,terlalu polos.Nanti kang Hatim kita aku gak bisa masak lagi!"


"Apa aku masak sayur shop aja ya?"


"Eh tapi terlalu lama,kasihan maha guru yang sudah kelaparan itu jika harus menunggu lama!"


"Ah aku masak tumis kangkung aja ah!" Akhirnya Hana memutuskan untuk memasak tumis kangkung.


Kang Hatim datang ke dapur melihat istrinya sedang memotong motong kangkung.Kang Hatim tersenyum melihat keindahan duniawi itu.


Ternyata begini rasanya liat istri lagi masak? tanya hati kang Hatim dengan senyuman terus mengambang.


Pelan pelan kang Hatim menghampiri Hana dan berdiri di sampingnya tanpa sepengetahuan Hana.


"Ada yang perlu saya bantu?" tanya kang Hatim hingga mengagetkan Hana.


"Eh kang Auw.