
"Suapin!" kata kang Hatim.
"Makan sendiri aja ah,malu!" kata Hana.
"Kenapa malu? sama suami sendiri malu!" kata kang Hatim.
"Banyak orang kang!" kata Hana.
"Gak apa,kita harus menunjukkan keromantisan kita bi!" kata kang Hatim.
"Malu ah!" kata Hana.
"Nah,kebetulan! coba kalian duduknya berhadapan!" kata fotografer yang melihat Hana dan kang Hatim masih masing memegang piring yang di isi nasi serta lauknya.
"Mbak Hana suapi mang Husni!" kata fotografer yang merupakan adik kelas kang Hatim di pondok di ciwidey.
"Sambil menunjukkan wajah bahagia ya?!" perintah fotografer itu yang namanya Wildan.
Hana dengan mata sinis melihat kang Hatim yang menunjukkan wajah bahagia segera melakukan perintah Wildan fotografer yang tidak dia sewa,tapi Wildan sendiri yang menawarkan untuk menjadi fotografer kang Hatim setelah menerima undangan dan tahu bahwa kang Hatim akan menikah.
Wildan sendiri menjadi fotografer cukup hebat.Namun,dia menjadi tidak sekolah ataupun les,melainkan dia mengembangkan hobi dan bakat yang menjadi ladang usaha baginya.
"Tahan ya,jangan dulu di makan,dekatkan di mulut saja ya!" kata Wildan.
"Okey tahan,satu,dua tiga!" cekrek Wildan memotret pengantin itu.
"Boleh di makan sekarang?" tanya kang Hatim.
"Ah boleh mang silahkan!" jawab Wildan dan kang Hatim pun segera memasukan sendok yang berisi nasi dan lauknya itu ke mulutnya.
Tanpa di sadar sebagian tamu undangan memerhatikan mereka hingga mereka bertepuk tangan dan bersorak sorak.
"Tuh kan jadi malu!" kata Hana dengan pipi di balik cadarnya sudah merah merona.
"Gak apa apa bi,dalam hadist Riwayat Muslim di katakan Barang siapa yang membahagiakan orang mukmin lain, maka Allah Ta'ala menciptakan tujuh puluh malaikat yang ditugaskan memintakan ampunan baginya sampai hari kiamat sebab ia telah membahagiakan orang lain!" kata kang Hatim yang memang jika kang Hatim sudah berdalil tidak akan bisa di lawan.
"Terserah!" kata Hana.
"Bukan kata akang bi,kata hadist!" kata kang Hatim.
"Sudah aku bilang kang,terserah!" kata Hana sambil di tekankan dalam kata terserah.
"Makan aja sendiri!" Hana menyerahkan piring yang di pegang.
"Kamu gak ikut makan?" tanya kang Hatim.
"Gak!" jawab Hana singkat.
"Akang suapi mau?" tanya kang Hatim dengan nada bicara merayu.
"Gak!" jawab Hana.
"Emangnya gak lapar? enak bi!" kata kang Hatim.
"Ribet! harus buka buka cadar!" kata Hana.
"Oh iya ya!" kang Hatim langsung mengerti sambil berpikir kenapa saya gak kepikiran dari tadi.
Kang Hatim lanjut makan sendiri tanpa di suami Hana.Dan piring yang satunya dia serahkan pada temannya.
Tiba tiba tamu undangan tiba tiba riuh berisik.Sebuah mobil Daihatsu ayla kuning memasuki area pesantren.
"Siapa yang datang bi?" tanya kang Hatim.
"Gak tahu,kan akang yang ngundang ngundang orang orang!" jawab Hana.
Ternyata bukan hanya satu mobil,tetapi diikuti puluhan banser berbaju seragam hitam dengan bertuliskan pembela ulama di bagian punggungnya yang menggunakan motor Nmax hitam.
Para vokalis grup hadroh juga berdiri ikut menyambut kepada orang yang datang itu.
Para banser siap mengamankan keadaan.Orang orang sudah berkerumun mengelilingi mobil daihatsu ayla kuning itu.
Para banser itu menertibkan orang orang yang mungkin ngefans berat kepada orang yang baru datang itu.
"Beri jalan beri jalan!" kata seorang banser dengan berteriak agar di dengar oleh orang orang itu.
Seorang laki laki berbadang tinggi dengan postur badan tegap memakai baju gamis putih,peci yang di belitkan imamah putih di kepalanya di tambah kaca mata hitam.
Tiada lain tiada bukan laki laki tampan itu adalah Habib Ali Zainal Abidin pimpinan majlis Az-Zahir pekalongan.