
"Assalamualaikum!" kang Hatim membuka pintu baru pulang dari mesjid berjamaah sholat maghrib.
"Waalaikumussalam!" jawab Hana yang duduk di kursi di ruang keluarga.Dia berdiri dan mencium tangan kang Hatim.
"Sudah sholat?" tanya kang Hatim.
"Sudah dong! masa belum!' jawab Hana.
"Kirain lagi libur sholat!" kata kang Hatim.
"Eh iya ya,kok aku sudah lama gak mens!'' kata Hana.
"Iya! yang akang tahu,kamu terakhir mens waktu kita baru nikah kan?' tanya kang Hatim.
"Iyaa!" jawab Hana.
"Pernikahan kita udah hampir dua bulan bi!" kata kang Hatim.
"Iya aku tahu,tapi kenapa aku gak mens mens? padahal biasanya gak pernah telat!'' kata Hana.
"Apa kamu hamil ya bi?' tanya kang Hatim dengan wajah berharap setengah senang dengan hal yang belum pasti.
"Masa hamil sih,kan kita baru nikah!" kata Hana.
"Ya gak papa dong bi,mumpung kita masih muda!" kata kang Hatim.
"Iya sih!" kata Hana.
"Untuk mastiin,besok kita periksa saja ke dokter ya bi!" kata kang Hatim.
"Gak mau ah,takut di suntik!" kata Hana.
"Diperiksa hubbi,bukn di suntik!" kata kang Hatim.
"Tetep aja aku takut! aku juga gak mau kalau ke doker! takutnya dokter itu laki laki!!" kata Hana.
"Ya gak lah,kita cari aja yang dokternya perempuan!" kata kang Hatim.
Drrrrt Drrrt
Hand phone kang Hatim bergetar di atas meja karena ada panggilan masuk.
Kang Hatim mengangkat telepon dengan nomor tanpa nama.
'Hallo,Assalamualaikum!' kata kang Hatim setelah mengangkat telepon.
'Waalaikum salam,kang Ustadz!' jawab seseorang dari sebrang telepon.
'Maaf,ini dengan siapa ya?' tanya kang Hatim.
'Ini kang Ustadz,saya Ardi! yang kerja di rumah tuan Bima dan nyonya Nuraeni! orang tua nona Farhana!' kata pak Ardi penjaga gerbang rumah ayah Bima orang tua Hana.
Hana yang mendengarkan percakapan kang Kang Hatim mengangguk angguk karena dia tahu bahwa yang nelpon kang Hatim adalah pak Ardi karyawan ayah nya.Namun seketika hati dan pikirannya menjadi tidak tenang.Ada rasa tidak enak.
'Mohon maaf mengganggu waktunya kang! ini penting agar untuk saya sampaikan!' kata pak Ardi.
'Ada apa pak,gak ganggu kok!' kata kang Hatim.
'Pak Bima dan bu Nur kecelakaan lalu lintas pukul enam sore barusan kang!' kata pak Ardi.
'Innalillahi wa innailaihi rooji'un! beneran pak? jangan bercanda pak!' kata kang Hatim.
"Ada apa kang? pak Ardi menyampaikan apa?" tanya Hana.
"Bentar bi!" kata kang Hatim.
'Saya tidak bohong kang! tuan Bima dan bu Nur sekarang sedang di tangani dokter di rumah sakit medika!' kata pak Ardi.
'Ya sudah,terima kasih sudah memberi tahu kami pak! insyaAllah saya akan berangkat ke sana sekarang juga! Assalamualikum!' kata kang Hatim.
'Waalaikum salam!' jawab pak Ardi.Kang Hatim mematikan telepon dengan perubahan wajah sangat derastis.
"Cepat kamu siap siap bi,kita ke Jakarta sekarang!" kata kang Hatim membuat Hana semakin cemas.
"Ada apa kang?" tanya Hana.
"Nanti akang jelaskan di perjalanan! sekarang kamu siap siap dulu! Akang mau pamit dulu sama umi sambil mau menyiapkan mobil! Kalau sudah siap,susul akang ke sana! tolong bawakan juga jaket!" kata kang Hatim dan langsung pergi duluan meninggalkan Hana.
Hana langsung nurut,dengan buru buru dan cemas dia naik ke lantai atas untuk ke kamarnya agar bersiap siap dan mengambil jaket kang Hatim.
"Assalamualaikum!" kang Hatim langsung masuk ke rumah umi tanpa menunggu pintu di bukakan seperti biasa.
"Umii!" Kang Hatim langsung saja menuju kamar umi Nurul karena tahu pasti setelah maghrib umi tidak akan keluar kamar lagi.
"Ada apa Hatim?" tanya umi setelah kang Hatim masuk dan mencium tangan umi Nurul.
"Hatim mau pamit umi,Hatim mau ke Jakarta! Mertua Hatim,orang tua Hana istri Hatim kecelakaan!" kata kang Hatim.
"Innalillahi wa innailaihi roojiu'un! ya sudah kalau begitu! hati hati di jalan! jangan gegabah! berusahalah tenang agar istrimu juga ikut tenang!" kata umi Nurul.
"InsyaAllah umi,doakan saja! tolong sampaikan juga pamitku sama yang lain!" kata kang Hatim.
"Iya iya,nanti umi sampaikan!''
"Ya sudah,Hatim berangkat dulu! Assalamualaikum!" kata kang Hatim kembali mencium tangan ibunya.
"Waalaikumussalam,pergilah! doa umi selalu bersamamu!'' kata umi Nurul.Kang Hatim pun pergi setelah mendapat ijin dan mendapat doa dari kang Hatim.
Di luar,di dekat mobil Hana sudah berdiri dengan jaket kang Hatim di tangannya.