Ustadz Muda

Ustadz Muda
bismillah


Zhafar juga mendengarkan kalimat kalimat kakaknya itu dan dia langsung faham siapa yang kakaknya maksud.


"Aku salah, aku kira aku hanya akan mempunyai seorang adik, tapi ternyata aku punya empat adik, dua adik laki laki dan dua adik perempuan! Adik pertamaku ama beri nama Muhammad Muzhaffar Alfarizqi Hatim Abdurrahman!" Mendengar namanya di sebut oleh sang kakak, Zhafar langsung melirik ke arah orang yang menyebut namanya tersebut.


"Ya Nadh, dugaan kamu benar! Bukan hanya dulu aku menyayangi adik adikku, tapi sampai sekarang! Walaupun dari ke empat adikku, ada satu orang yang paling aku sayang! Dan mungkin dia tau bagaimana sayangnya seorang Royyan ini pada dia!"


"Kang Royyan, maafkan aku!" kata Nadhirah.


"Kenapa?" tanya Royyan.


"Bolehkan Kang Royyan ceritakan dulu siapa saja adik akang? aku ingin tau!" jawab Athifah.


"Okey, adik kedua ku di beri nama Siti Adawiyah Athifah Alfarizqi Hatim Abdurrahman! Dia, Athifah si cerewet! yang beda dari yang lain! Yang paling bandel juga! Setelahnya ada Muhammad Yazid Sa'iid Alfarizqi Hatim Abdurrahman! Dia baru berumur tiga belas tahun, tapi sudah di kirim ama ke pesantren Nafa'ul ilmi! Dan dia itu betah di sana, dia pulang hanya saat lebaran saja, itupun kalau di jemput, kalau tidak, dia tidak akan berani pulang! Bahkan saat habis bekal pun dia tidak berani minta! Terakhir ada anak ama yang paling dingin, cuek dengan segala hal, dia hanya mementingkan apa yang umma dan ama suruh! masih kecil tapi sudah berpengaruh! Ama memberinya nama Siti Ulfah Rafiidah Alfarizqi Hatim Abdurrahman!" jelas Royyan yang membuat sang istri mengangguk angguk faham. Rencananya, dia akan lebih detail menanyakan keluarga suaminya lain waktu, sekarang dia ingin mendengarkan apa inti dari pembicaraan sekarang ini.


"keterangan mengatakan bahwa seorang kakak yang paling tua akan menjadi pengganti orang tua, dalam artian segala hal yang bersangkutan dengan adik adiknya, termasuk materi, ekonomi, dan hati!"


"Ternyata memang sudah Nadh jadi kakak itu, apalagi jadi ayah ya?! Sekarang aku bingung, ama sendiri memberikan tanggung jawab sepenuhnya agar mendidik dan menjaga adik yang paling ku sayang, tapi nyatanya aku gagal nadh! Adikku yang paling aku sayang, yang menjadi tanggung jawabku untuk menjaganya dan mendidiknya malah tidak sesuai harapanku! Aku rasa sudah sangat sering aku memberikan nasehat padanya! Agar dia baik. baik di pesantren nya, agar dia menjadi akhlaq nya, agar dia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmunya! Tapi ternyata dia gagal Nadh!" mata Royyan sudah ber air, lebih dari itu Zhafar sudah menangis mendengar kalimat yang keluar dari lisan kakaknya.


Zhafar turun dari kursinya, dia duduk di lantai bersimpuh, dia memeluk kedua kaki sang kakak sambil menangis.


"Kang, maafkan Zhafar!" kata Zhafar di sela sela tangisannya.


"Sudah Zhafar, bangun! kamu tidak perlu minta maaf! Kamu gak salah! Akang yang salah! Akang yang gagal mendidikmu! Akang yang gagal menjadi tanggungjawab dari ama untukmu!"


"Kang, hiks, jangan bicara hiks, seperti itu, Zhafar mohon! hiks, Zhafar semakin merasa bersalah kang!"


"Zhafar, bangun! Aku tidak akan memaafkanmu!"


"Kang, bagaimana Zhafar bisa hidup tenang kang kalau Zhafar tidak dapat maaf dari kakak sendiri! Sedangkan akang sendiri yang bilang, akang itu sama seperti ama, akang itu pengganti orang tua! Sedangkan Allah tidak akan memaafkan seseorang kecuali dengan maaf orang tuanya!"


"Bangun Zhafar! aku tidak akan memaafkanmu sampai kamu benar benar bertanggung jawab atas segala perbuatan mu!"