
Kang Hatim bingung,melirik ke arah kakak kakak nya juga kepada Hana yang ternyata mereka juga kebingungan.
"Bangun dulu pak!" kata kang Hatim sambil mengangkat pundak pak Nono supaya bangun dan duduk lagi di kursi seperti semula.
"Ustadz,apapun akan kami berikan untuk Ustadz,harga diri kami akan kami pertaruhkan untuk Ustadz demi kebahagiaan putri kami!" kata bu Pipah.
"Mohon maaf bu,saya tidak menginginkan apapun! Alhamdulillah saya sudah punya semuanya,insyaAllah! jadi ibu dan bapak sudah tidak perlu repot repot lagi! masalah anak ibu,saya punya teman yang juga seorang Ustadz dan tampan juga kaya! dan yang paling penting dia belum menikah! saya bisa menjodohkan putri ibu dengannya!" kata kang Hatim.
"Ustadz,kami punya dua mobil dan tiga motor Ustadz,kami punya rumah cukup besar dan mewah! kami punya tanah yang cukup luas! semua itu akan kami berikan pada Ustadz asal mau menikahi anak kami Ustadz!" kata bu Pipah.
Kang Hatim tersenyum.
"Kalau soal harta,saya juga punya mobil,motor saya juga punya,rumah ada,walaupun kecil dan tidak mewah! tanah,tanah pesantren ini milik saya! dan jika saya niat,maaf ya,bukan pamer,saya juga bisa minta apapun yang saya mau kepada mertua saya!" kata kang Hatim.
"Ustadz,kami mohon Ustadz!" kata bu Pipah yang sekarang gilirannya untuk berlutut,namun dengan segera kang Hatim menggeser posisinya tidak mau kalau wanita bukan muhrim menyentuhnya.
Kang Hatim memberi isyarat pada teh Zahra agar teh Zahra menyuruh bu Pipah bangun.
"Bu,bangun bu!" kata teh Zahra sambil melakukan seperti yang kang Hatim lakukan tadi.
"Adik saya bukannya tidak mau membantu bu,tapi adik saya ini sudah punya istri! ya walaupun dia punya hak untuk menikahi empat perempuan,tapi adik saya ini baru menikah! dia belum punya anak satupun,masa sudah mau nikah lagi!" kata teh Zahra dengan penuh ramah serta senyuman.
"Tapi Ustadzah,putri kami sangat ingin menikah dengan Ustadz Hatim Ustadzah,bagaimana?" tanya bu Pipah masih belum bangun dari berlutut.
"Coba saja kenalkan sama teman adik saya bu,siapa tahu jodoh!" kata teh Zahra.
"Tapi dia sampai tergila gila Ustadzah,dia sangat sangat mencintai Ustadz Hatim!" kata bu Pipah.
"Sebaiknya,Indri di bawa pulang dulu,agar pikirannya tenang,semoga bisa berubah pikiran karena Allah maha membulak balikkan hati manusia!" kata teh Zahra.
"Boleh kami bertemu dengan anak kami dulu Ustadzah?" tanya bu Pipah.
"Tentu boleh bu,dengan senang hati akan saya temani!" kata teh Zahra.
"Ustadz Hatim,kami minta maaf ya,kami terlalu egois sehingga tidak memikirkan perasaan orang lain!" kata bu Pipah.
"Iya bu,tidak papa! kami juga mengerti! seorang ibu pasti melakukan apa saja demi anaknya!" kata kang Hatim tidak lupa dengan senyuman ramahnya.
"Oh iya,kalau boleh tahu,nama istri Ustadz Hatim siapa ya?" tanya bu Pipah.
"Ah iya,kenalkan ini istri saya namanya Farhana,di panggil Hana!" jawab kang Hatim.
"Salam kenal juga mbak Hana,maafkan ibu ya,mungkin ibu sudah melukai hati mbak Hana dengan ucapan ibu!" kata bu Pipah.
"Iya bu,tidak papa!" kata Hana.
"Ustadzah,bisa antar kami bertemu Indri anak kami?" tanya bu Pipah.
"Ayo bu ayo!" kata teh Zahra.
"Ya sudah,Ustadz Hatim,mbak Hana,Ustadzah,Ustadz kami mau menemui anak kami dulu ya!" kata bu Pipah.
"Iya bu silahkan!" kata teh Dawa yang dari tadi hanya diam.
"Assalamualaikum!" kata bu Pipah juga mewakili pak Nono setelah bersalaman.
"Waalaikumussalam!" jawab semua orang.
"Siapa yang ngajar teh?" tanya kang Hatim.
"Gak ada!" jawab teh Dawa.
"Lah,kenapa gak ada?" tanya kang Hatim.
"Kan kita semua di sini!" jawab teh Dawa.
"Teh Alvi ke mana?" tanya kang Hatim.
"Ooh iya,berarti Alvi yang ngajar!" jawab teh Dawa.
"Tadi mereka datang ke mana sih?" tanya kang Hatim.
"Ke rumah umi!" jawab teh Dawa.
"Aduh,umi bagaimana?" tanya kang Hatim mulai kuatir.
"Umi bingung! umi juga cemas!" kata teh Dawa.
"Ah ya Allah!" kang Hatim takut uminya kenapa napa.
*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπ πππ