Ustadz Muda

Ustadz Muda
#247


Hari ini semua orang di pesantren baitussalam kembali sibuk mempersiapkan segalanya untuk acara empat bulanan Hana.Dua minggu berlalu dari sejak kang Hatim ceramah.Kang Hatim dan Hana juga sudah ke Jakarta untuk mengecek semua urusan yang ada di Jakarata.Hana juga periksa kandungan di Jakarta dan dokter hanya berpesan agar Hana memperbanyak istirahat.Sedangkan keadaan bayi nya sehat baik baik saja.


Sebuah mobil avanza meminta mang Ujang agar membuka gerbang dengan tujuan ingin bertemu dengan ustadz Hatim.


"Mohon maaf sebelumnya,karena ini pesantren putri,jadi tidak bisa sembarang orang masuk ke sini!" kata mang Ujang.


"Lah,tapi bener kan di sini ada rumah Ustadz Hatim?"


"Iya benar! Ustadz Hatim emang tinggal di sini! Kalau begitu,mas mas nya ,tunggu di sini,saya akan panggil dulu Ustadz Hatimnya!" kata mang Ujang.


"Ya sudah kalau gitu cepat panggil aja! Jangan lama lama!"


"Baik,permisi!" kata mang Ujang dan langsung pergi dengan sedikit berlari setelah mendapat anggukkan dari tamu itu.


Kebetulan kang Hatim sedang ada di rumah umi Nurul,jadi mang Ujang tidak perlu jauh jauh mencari kang Hatim.


"Assalamualaikum!" kata mang Ujang tanpa mengetuk pintu karena sudah terbuka.


"Waalaikumussalam!" jawab kang Hatim,Hana,Umi dan teh Zahra yang ada di dalam rumah.


"Ada apa mang?" tanya kang Hatim.


"Ada tamu Ustadz! Kata tamunya mau bertemu Ustadz!" jawab mang Ujang.


"Siapa emang?" tanya kang Hatim.


"Mang tidak tahu Ustadz! Coba deh Ustadz lihat dulu,siapa tahu ustadz kenal!" jawab mang Ujang.


"Ya sudah,sebentar lagi saya ke sana mang! Mang Ujang ke sana aja dulu!" kata kang Hatim.


"Siap kang Ustadz! Permisi! Assalamualaikum!" kata mang Ujang.


"Waalaikumussalam!" jawab kang Hatim dan yang ada di dalam rumah itu lagi.


"Hubbi,kamu tunggu di sini ya!" kata kang Hatim.


"Iya,bukan orang jahat kok! Umi,hatim pergi dulu ya!" kata kang Hatim sambil mencium tangan umi Nurul.


"Iya,hati hati! takutnya seperti yang istrimu katakan!" kata umi Nurul.


"Iya umi!" jawab kang Hatim dan kemudian mencium tangan teh Zahra dan dan setelahnya Hana mencium tangannya.


Kang Hatim pergi menuju gerbang untuk menemui tamu itu dengan perasaan biasa saja.Tidak ada rasa takut yang datang adalah penjahat seperti yang di katakan istrinya.Dalam benaknya,tidak ada yang perlu di takuti selain Allah.Bahkan hatinya juga bertekad dia akan melanggar perintah umi nya yang melahirkannya kalau perintah uminya bertentangan dengan aturan Allah.


Saat melihat kang Hatim,tamu tamu yang berjumlah empat orang itu dan laki laki semua langsung turunn.


Sebelum sampai di gerbang,dan sebelum tamunya keluar dari mobil kang Hatim sudah memancarkan senyuman ramahnya yang menambah cahaya di wajahnya.


"Buka aja mang!" kata kang Hatim saat sampai di gerbang dan melihat siapa yang datang.Kang Hatim memang tidak kenal dengan tamu tamu itu.


"Baik!" mang Ujang langsung membuka gerbang.Pra tamu itu masuk dengan penuh sopan santun menunduk berjalan di hadapan kang Hatim dan ingin bersalaman mencium tangan kang Hatim.Tapi,seperti biasa kang hatim bersalaman namun tidak sampai tangannya di cium.


"Dengan siapa dari mana?" tanya kang Hatim.


"Kenalkan Ustadz Hatim,kami dari pesantren Roudhotus salam! Nama saya Arham!" kata salah satu dari mereka.


"Oooh,iya iya! Yang ini siapa?" tanya kang Hatim pada salah satu dari mereka.


"Saya Nanda Ustadz!"


"Mas Nanda,salam kenal ya! Yang ini?" tanya kang Hatim lagi.


"Saya Sholihin!"


"Mas Sholihin! Satu lagi?" kang Hatim.


"Saya Latif!" kata yang satu lagi.


"Ah iya,kalau gitu bawa mobilnya masuk! Kita ke rumah saya!" kata kang Hatim dengan ramah padahal orang baru dia kenal.