Ustadz Muda

Ustadz Muda
Marah


"Zhaffar, sini kamu!" Kang Hatim sekeluarga sudah kembali ke rumah. Umma Hana dan Nadhiirah langsung pergi ke kamar, kini di ruang keluarga hanya ada kang Hatim dan Royyan yang memanggil Zhaffar adiknya.


Dengan buru buru Zhaffar menghampiri kakaknya dan ama nya di ruang keluarga.


"A-a-ada apa kang?" tanya Zhaffar langsung gugup karena tau mereka baru pulang dari pesantrennya. Dan dia tahu dia lagi lagi akan kena dakwah kakaknya.


"Duduk, gak papa kok! Gak akan di marahin! Ama juga gak akan! Ama udah cape!" kata Royyan semu menyindir.


"Kamu benar Yan, ama ke kamar dulu! Mau istirahat!" kata kang Hatim.


"Tafadhol ama!" kata Royyan.Setelahnya kang Hatim langsung pergi meninggalkan kedua anaknya.


"Zhaffar!"


"I-i-iya?"


"Tenang aja, gak papa kok! Jangan tegang! Kita ngobrol! Gak usah tegang!" kata Royyan, namun bukannya tenang, Zhaffar malah semakin gugup karena seolah olah apa yang di katakan kakaknya, dan nada bicara Zhaffar itu mengintimidasi Zhaffar.


"I-iya kang!"


"Udah berapa lama kamu kenal akang?" tanya Royyan.


"Akang?"


"Akang ini, kakak mu, Royyan!"


"Dari lahir aku kenal kang Royyan!" jawab Zhaffar.


"Hmm, bagus! Bagaimana perasaanku padamu?" tanya Royyan.


"Gimana?"


"Harus di ulangi?"


"Ya-yang aku rasakan, akang pasti menyayangiku sebagai adik!"


"Apa buktinya?"


"Emh, akang selalu mengalah untukku!"


"Lagi?"


"Akang memberi ku ilmu!"


"Lagi?"


"Itu pembuktian rasa sayang ya?"


"Iya!"


"Kenapa?"


"Karena dengan aku di hukum atas kesalahanku sendiri, aku jadi bisa belajar bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan! Kemudian akang juga selalu memberikan hukuman yang bermanfaat bagi kehidupanku! Contohnya kemarin, aku di hukum untuk mengerjakan pekerjaan rumah! Itu membuatku mendapat pelajaran bahwa di mana suatu saat nanti, saat aku punya keluarga dalam artian rumah tangga, aku bisa melakukan kewajibanku selaku suami!" jawab Zhaffar.


"Bagus, berarti kamu faham!" kata Royyan.


"Alhamdulillah!"


"Sekarang apa kamu percaya, sesayang apa, secinta apa, sepedili apa ama kepadamu?"


"Pe-percaya!"


"Apa bukti ama sayang kamu? Apa bukti ama cinta padamu? Apa bukti ama peduli padamu?"


"Banyak, mulai dari aku lahir aku sudah di sayangi, di cintai sama ama! Buktinya aku di besarkan di rumah ini dengan penuh kasih sayang, aku di nafkahi, aku diberikan pendidikan yang lebih dari cukup!" jawab Zhaffar.


"Kalau umma?"


"Sama saja seperti ama, bahkan kalau umma lebih lebih! Umma yang mengandungku, umma yang melahirkanku, umma yang menyusuiku, umma yang medidiku, umma yang sangat menyayangiku! umma yang....." sampai di sini, Zhaffar menangis.


"Kenapa menangis?"


"Kasih sayang umma dan ama tidak bisa di bicarakan, tidak bisa di katakan, tidak bisa di gambarkan!" jawab Zhaffar.


"Jadi kamu faham?" tanya Royyan, namun Zhaffar tidak menjawab, dia malah menunduk.


"Mengerti kan, bagaimana sayangnya ama dan umma pada kita?" Royyan menaikan nada bicaranya.


"JAWAB!" Royyan membentak adiknya.


Dengan nada bicara membentak bentak atau sama dengan nada bicara Habib Bahar atau Habib Reyhan, atau Habib Riziek Shihab saat dakwah.


"Sudah tau bagaimana cintanya umma dan ama kepadamu! Tapi kau masih bisa menyakiti hati mereka! Kau tau betapa sayangnya orang tuamu padamu, tapu kau tega mengecewakannya! Sengaja kau di pesantrenkan untuk mencari ilmu, agar tahu adab! Tapi apa? hasil mesantren, hasil susah payah ama mencarikan biaya, hasil susah payah umma mendoakan mu, kau tega membohongi mereka! Kau sadar betapa sayangnya mereka, kau sadar betapa peduli nya mereka, tapi kau tidak sadar telah mengecewakan mereka, kau tidak sadar sudah menyakiti mereka, kau tidak sadar sudah melunturkan kepercayaan mereka!"


Zhaffar semakin menunduk dan semakin menangis, air matanya semakin deras mengalir. Baru kali ini dia di marahi sama kakaknya sendiri.


Suara Royyan terdengar sampai ke lantai atas, Athiifah bangun dari tidurnya mendengar suara kakaknya, kang Hatim dan Umma Hana juga mendengarnya namun mereka hanya mendengarkannya tidak berani menghampirinya.