
"Jadi gini,kita buat penyambutan sederhana untuk pengantin baru itu!" jawab teh Alvi.
"Iya,bagaimana konsepnya?" tanya teh Dawa.
"Gerbang utama kita hias seindah mungkin menggunakan bunga bunga,para santri suruh berbaris rapih!" teh Alvi menjelaskan.
"Lalu?" tanya teh Dawa.
"Nah,yang turun dari mobil pasti Hatim duluan,kalau mereka turun bersamaan itu tidak mungkin.Soalnya,Pasti Hana ingin merahasiakan pernikahannya!"
"Terus!"
"Nah....
FlashBack off
"Sekali lagi selamat ya!" kata teh Alvi sambil memeluk kang Hatim.
kang Hatim menarik nafas dan membuangnya agar tenang.
"Selamat ya!" kata teh Zahra.Kini kang Hatim di peluk oleh teh Zahra kakak tertua.
"Terima kasih teh!" kata kang Hatim.
"Hatim,selamat ya!" Teh Dawa juga memeluk kang Hatim.Walaupun dia galak,tapi dia tetap sayang sama kang Hatim.Karena,walau gimanapun Hatim adalah adik kandungnya.
"Terima kasih teh!"
"Selamat ya!" teh Putri juga memeluk kang Hatim.
"Selamat ya!" kata kang Rahmat.
"Terima kasih kang!"
"Selamat!" kata kang Asep.
"Selamat ya!" kata Kang Ahmad.
"Selamat ya Hatim!" kata kang Roni.
"Mana istrimu?" tanya teh Alvi.
"Di dalam mobil!" jawab kang Hatim sambil mengusap matanya yang basah akibat membendung air mata.
"Ajak turun!" kata teh Dawa.
"Iya teh!"
Hana buru buru mengusap pipinya yang basah karena air mata setelah menyadari bahwa kang Hatim sudah mau membuka pintunya.
Hana buru buru memakai cadar agar tidak terlalu terlihat habis menangis.
"Hana,ayo turun!" kata kang Hatim.
"Kang?!" Hana bingung.
"Ayo,mereka sudah tahu!"
"Tapi.....!"
"Sudah ayo!" kang Hatim menyodorkan tangannya agar Hana bisa turun.Mobil kang Hatim pajero sport,jadi agak sedikit tinggi.
Hana pun turun dari mobil dengan tangan di genggam oleh kang Hatim.Para santri bersorak.
"Selamat atas pernikahan kang Hatim sama teh Hana!" teriak semua santri kompak setelah di beri kode oleh teh Alvi.
"Terima kasih semua!" jawab kang Hatim.Sedangkan Hana hanya menunduk malu.
"Hana!" panggil teh Alvi dengan lembut.
Hana menatap yang memanggil namanya,lalu tanpa dia sadari dia sudah di peluk oleh teh Alvi sambil menangis bahagia.
Hana bingung harus berkata apa.Santri santri ada yang ikut menangis namun ada juga yang biasa saja dan ada juga yang iri.
Teh Alvi melepaskan pelukannya dan menatap Hana dengan tatapan meyakinkan sambil menepuk pundak Hana.
"Kita langsung ke rumah umi saja ya,umi sudah nunggu!" kata teh Alvi.
Merekapun pergi menuju rumah umi Nurul meninggalkan para santri yang masih berbaris.Hana belum berani menatap wajah teman temannya yang menyambutnya itu karena Hana yakin pasti akan banyak wajah yang berbeda beda ekspresi.
Para Santri ada yang gigit bibir bawah saking bapernya melihat kang Hatim menggandeng tangan Hana.
"Mereka memang cocok!" kata Maya.
"Iya benar,seharusnya aku gak terlalu mengharapkan kang Hatim!" kata Ros dan mereka tertawa karena memang banyak santri wanita yang mengagumi kang Hatim sampai berharap bisa menikah dengan kang Hatim.
"Kita ikutin teh Hana ke rumah umi yu? kita ucapin selamat sekali lagi!" kata Riska.
"Ayo ayo!" sahabat sahabat Hana yang jumlahnya tujuh orang setuju kecuali satu orang.
"Aku akan berusaha merebut kang Hatim agar menjadi suamiku,bukan suami si Hana yang sok pintar dan sok cantik itu!" kata salah seorang teman Hana yang tujuh.