
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan dan orang orang semakin banyak yang berdatngan mulai dari tetangga yang semalam tidak datang,karyawan karyawan di kantor dan di proyek ayah Bima,rekan rekan kerja ayah Bima.Juga teman teman dan rekan kerja bu Nuraeni ikut berdatangan.
Sementara itu,di lantai dua di sebuah ruangan yang mungkin ini kedua kalinya kang Hatim masuk ke ruangan itu setelah terakhir kali masuk ke kamar itu saat malam pertama tidur bersama Hana dan malam pertama Hana tahu bahwa dia suami syah secara agama.Hana dan kang Hatim mau meniru kebiasaan di kampung dimana jika seseorang yang akan meninggal,orang yang ikut menyolatkan jenazah maka akan di beri sebuah amplop yang isinya uang.Setelah itu,jika orang orang ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman,maka akan di beri amplop lagi sebagai rasa terima kasih dan salah satu bentuk sodaqoh dari keluarga yang di niatkan atau di atas namakan dari orang yang meninggal.
"Ini uang yang aku temukan dari lemari ayah dan ibu!" kata Hana.
"Wah banyak banget bi! kalau hanya kita berdua yang hitung gak bakal beres dalam waktu cepat!" kata kang Hatim yang melihat uang yang entah seberapa nilainya karean uang itu menumpuk.
"Gak papa! Kita minta bantuan teh Alvi atau teh Dawa aja! Atau teh Putri!" kata Hana.
"Terus,dalam berangkas ada ini!" Hana mengeluarkan perhiasan emas putih,emas kuning,berlian,jamrud hijau asli arab saudi,serta berkas berkas penting termasuk sertifikaat tanah,rumah dan lain sebagainya.
"Waktu itu,aku baru dua tahun di pesantren! Lalu seperti biasa pasti setiap tahun akan ada perpulangan santri sebelum ramadhan! Aku juga pulang sendiri tanpa memberi tahu ayah ibu kalau aku mau pulang! Karena pasti kalau aku beri tahu pasti bakal di jemput! Aku pulang,sampai di rumah,ternyata ibu sedang sakit! Pasti aku sedih karena baru juga aku pulang,bukannya ibu sambut aku dengan keadaan sehat,taoi ibu malah di kamar terbaring lemah! lalu ibu ngomong! hiks,Farhana,kamu gak perlu sedih,gak perlu takut! Ibu akan selalu bersamamu sebelum seorang laki laki yang baik akan menjadi suamimu dan menjaga dirimu!" kata Hana bercerita sambil melamun dengan tidak terasa air mata menetes lagi karena membayangkan apa yang dia ceritakan.
"Sudah sudah jangan di lanjutkan! Akang mau panggil teh Alvi dulu ya,biar ngebantu kita!" kata kang Hatim di jawab anggukan oleh Hana.
Kang Hatim keluar kamar,melihat ke arah bawah,ternyata semakin banyak orang sehingga kang Hatim enggan untuk turun ke bawah.Namun,hal yang paling membuat kang Hatim tidak mau turun banyak perempuan yang yang tida berhijab.Akhirnya kang Hatim masuk lagi ke kamar.
"Kenapa balik lagi?" tanya Hana.
"Aku telepon saja teh Alvinya! Biar gak capek!" kata kang Hatim dan mengeluarkan hand phone dan kemudian menelpon teh Alvi.
"Mungkin itu teh Alvi!" kata Hana.
"Siapa?" tanya kang Hatim agak berteriak agar terdengar oleh orang mengetuk pintu.
"Hatim!" jawab pengetuk pintu itu yang tiada lain tiada bukan adalah teh Alvi sehingga kang Hatim dan Hana mengenali suranya.
"Masuk!" kata kang Hatim.Teh Alvi pun masuk bersama teh Putri.
"Ada apa?" tanya teh Alvi setelah menutup pintu kembali dan ikut duduk di atas ranjang bersama kang Hatim dan Hana begitu juga teh Putri.
"Mau minta bantuan! Kalau dikerjain sama kita berdua akan lama!" jawab kang Hatim.
"Bantuan apa?" tanya teh Alvi.
"Gali kuburan! Gak liat apa aku sedang apa?" kang Hatim.
~*DIA di PESANTREN*~