
"Oh gitu ya,pintar juga kamu ya?!"
"Spd! es satu! lulusan UIN dan es cream! Makanya aku pintar!" kata kang Hatim.
"Gak jelas!" teh Alvi sewot.
"Eh,ngegas !" kang Hatim.
"Sudah! Jangan mulai!" kata teh Dawa.
"Si Hatim sih,bercanda mulu! Orang serius!" kata teh Alvi.
"Aneh kan? dia becanda sama orang lain,tapi dia di bercandain gak mau!" kata kang Hatim.
"Udah! Kan manusia beda beda sifatnya!" kata teh Zahra.
"Ya udah,gitu aja! Jadi kita berangkat sore aja! Itung itung jadi banser si Hatim!" kata teh Dawa.
"Good lah! Gaya banget punya banser!" kata kang Hatim.
"Udah ah,Tim anterin!" kata teh Alvi.
"Eh,pulang aja sendiri sana!" kata kang Hatim.
"Tim,masa kamu tega sih kakak mu pulang sendiri jalan kaki lagi!" kata teh Alvi.
"Ya udah,telpon aja kang Roni!" kata kang Hatim.
"Ayolah Tim!" kata teh Alvi memohon.
"Anterin kang! Sama kakak sendiri kan!" kata Hana.
"Karena Hana yang minta,ayo deh aku anterin! Mau naik motor apa naik mobil?" kang Hatim.
"Mobil dong! Kan sama teh Putri!" jawab teh Alvi.
"Oh iya ya,kan sama teh Putri! Jalan kaki aja sana! Berdua kan!" kata kang Hatim.
"Akang ih!" kata Hana.
"Ya udah ayo!" kata kang Hatim.
"Mau nunggu di sini atau mau pulang?" tanya kang Hatim.
"Tunggu di sini aja Hana!" kata umi Nurul.
"Iya umi!" jawab Hana.
"Ya udah,ayo!" kata kang Hatim mengajak kedua kakaknya.Hana mencium tangan kang Hatim walau terhalang cadar.Dan kang Hatim mencium tangan umi Nurul.
"Umi,Alvi pulang dulu ya!" kata teh Alvi mencium tangan umi.
"Putri juga mau pulang dulu!" kata teh Putri yang dari tadi hanya diam saja.
"Iya iya! Hati hati di jalan!" kata umi Nurul.
"Assalamualaikum!" kata teh Alvi mewakili teh Putri juga.
"Waalaikumussalam!" jawab semua orang yang masih di rumah.
"Hana,ayo mau ke rumah teteh?!" ajak teh Dawa.
"Ya sudah,umi Dawa pulang dulu ya!" kata teh Dawa mencium tangan umi Nurul.
"Sok silahkan!" jawab umi Nurul.
"Zahra juga mau masak dulu!" kata teh Zahra.
"Iya sok!" kata umi Nurul.
"Aku bantu ya teh!" kata Hana.
"gak usah Hana!" kata teh Zahra.
"Gak papa teh! Umi,bolehkan?'' tanya Hana.
"Iya,terserah kamu aja!" jawab umi Nurul.
*Didalam mobil
"Kamu cermahnya ngambil tema apa?" tanya teh Alvi.
"Belum tahu sih,tapi intinya di sesuaikan sama acaranya! Acara syukuran pernikahan! Berarti aku bawain tema yang berkaitan dengan itu!" kata kang Hatim.
"Gimana kalau kamu ngambil tema memilih jodoh yang baik dan benar?! Kan menarik tuh!" usul teh Alvi.
"Ya udah,aku akan bawakan tiga tema aja sekaligus!" kata kang Hatim.
"Tiga tema? Apa saja?" tanya teh Alvi.
"Tentang pernikahan,tentang syukuran,dan memilih jodoh!" jawab kang Hatim.
"Bagus dah!" kata teh Alvi.
"Sebenarnya aku malu ceramah di sana!" kata kang Hatim.
"Malu kenapa?" tanya teh Alvi.
"Secara kan seperti yang kalian tahu,Indri itu gimana sebelum menemukan jodohnya! Terus aku harus ceramah di satu panggung sama Ustadz senior,Ustadzah senior yang pasti ilmu mereka lebih tinggi!" jawab kang Hatim.
"Selagi apa yang kamu sampaikan benar,kenapa harus malu? Satu catatan! Utamakan adab! Walaupun mereka tidak pernah ngajar kamu,bahkan mungkin kamu bertemu mereka baru kali ini! Tapi tetep kamu harus menghormati mereka karena mereka ahli ilmu yang sempurna! Semoga kamu juga bisa seperti mereka!" kata teh Alvi.
"Amiiiin!"
"Buat ini jadi pengalaman! ini pertama bukan,kamu ceramah di panggung?"
"Iya!" jawab kang Hatim.
"Lakukan yang terbaik! Jangan sampai mengecewakan! Jangan pedulikan yang memuji! Pedulikan yang menghina agar kamu bisa memperbaiki kesalahanmu! Dan hinaan itu jadi motifasi buat kamu!" kata teh alvi hingga tak terasa mereka sudah sampai di lingkungan pesantren baitussalam awal.
"Terima kasih ya!" kata teh Alvi.
"Iya sama sama!" jawab kang Hatim sambil mencium tangan teh Alvi dan tidak kang Hatim sangka,teh Alvi mencium kening kang hatim menunjukkan bahwa dia bangga sama adiknya.
"Mau mapir dulu Tim?!" ajak teh Putri.
"Tidak teh terima kasih! Lain kali aja!" kata kang hatim juga mencium tangan teh Putri.
"Aku langsung pulang ya!" kata kang Hatim dari dalam mobil pada kedua kakaknya yang sudah berada di luar dan kang Hatim langsung kembali.