
Selepas subuh,Hana dan kang Hatim sudah siap untuk pergi pulang ke pesantren baitussalam.Kini kang Hatim dan Hana sedang menunggu bi Asih dan bi Ina yang masih sibuk berpamitan.Sedangkan Yogi sudah siap untuk pergi.Auni nampak sedih karena sesuai yang kemarin dia sampaikan,dia merasa sedih karena baru kenal sudah di tinggalkan lagi.
"Aku benar benar sedih kak! Aku mau ikut aja!" kata Auni.
"Eh jangan! Kalau kamu juga ikut yang di sini siapa?"
"Iya juga,tapi aku jadi gak punya teman lagi!"
"Kan kakak minggu depan insyaAllah ke sini lagi!" kata Hana.
"Kenapa kakak betah sih di pesantren?" tanya Auni.
"Gini,mungkin kalau di sebut pesantren atau mondok,kakak sudah nggak! Kakak sudah gak nyari ilmu seperti sebelum nikah!" jawab Hana.
"Kalau gitu,kakak tinggal di sini aja!" kata Auni.
"Eh kan sudah kakak katakan,kakak sudah punya suami sudah punya rumah! Sebagai seorang istri yang taat,kitra harus ikut suami! Kemanapun,bagaimanapun kakak harus sama suami!" jelas Hana.
"Ooh gitu ya?!'' Auni mengangguk angguk.
"Lain kali,kakak janji deh! Nanti kakak bawa kamu ke sana!" kata Hana.
"Beneran? Emang boleh?'' tanya Auni.
"Bener! Boleh kan kang?" tanya Hana.
"Apa? Boleh boleh!" jawab kang Hatim.
Tidak lama kemudian bi Asih,bi Ina dan diikuti bi Mar sudah datang mendatangi kang Hatim dan Hana.
"Sudah siap?" tanya Hana.
"Siap non!" jawab bi Ina.
"Ya sudah! Kita berangkat sekarang kalau gitu!" kata kang Hatim.
"Ayo!" kata Hana dan bangkit dari duduknya.Merekapun pergi ke luar untuk berangkat.
Seperti biasa,mereka akan berangkat menggunakan mobil kang Hatim.Hana juga sudah menyarankan agar membawa mobil ayah Bima saja.Namun,tetep kang Hatim tidak mau.
"Sudah sholat gi?" tanya kang Hatim saat melihat Yogi sudah berdiri di dekat mobil.
"Sudah kang!" jawab Yogi.
"Kok gak berjamaah bersama?" tanya kang Hatim.
"Ah saya sholat di rumah kang!" jawab Yogi.
"Dikamar gak?" tanya kang Hatim.
"Lain kali kalau kamu sholat di kamar,jangan lupa pakai mukena ya!" kata kang Hatim.
"Ah,gimana kang?" tanya Yogi slow repon.
"Masuk bi!" kata kang Hatim kepada bi Asih dan bi Ina tanpa menjawab pertanyaan Yogi.hanya di jawab dengan senyuman.
"Hubbi! Ayo masuk!" kata kang Hatim.
"Bentar! Auni,kakak pamit dulu ya,kamu jangan merasa sendirian!" kata Hana dan berpelukan bersama Auni.
"Iya kak! Aku akan menunggu kakak pulang lagi ke sini!" kata Auni.
"Iya!'" kata Hana.
"Eh kak,aku boleh minta nomor hand phone gak?" tanya Auni.
''Kakak gak punya hand phone! Tapi bentar!" kata Hana."Kang boleh minta nomor hand phone?" tanya Hana.
''Boleh boleh! Bentar!" jawab kang Hatim dan mengeluarkan hand phonenya dari saku bajunya kemudian kang Hatim menyebutkan nomor hand phonenya agar di save oleh Auni.
"Ya sudah,kakak pergi dulu ya!'' kata Hana.
"Iya kak! Hati hati di jalan!" kata Auni dengan senyum sedih.
"Kamu juga hati hati,jaga diri baik baik!" kata Hana dan lagi mereka berpelukan.
Hana pun masuk ke dalam mobil diikuti kang Hatim kemudian Yogi juga masuk mobil dan menjalankan mobilnya.
"Kamu kok sepertinya sayang banget sama Auni!" kata kang Hatim.
"Gak tahu kenapa,aku juga tiba tiba sayang aja gitu sama Auni! Berasa beneran punya adik!" kata Hana.
"Oh gitu?!" kang Hatim.
"Bi Ani sama Bi Asih,eh bi Ina,sudah kenal sama Auni?" tanya Hana.
"Kenal non,kan sebelum bapak sama ibu meninggal,suka di bawa ke rumah!" jawab bi Asih.
"Ooh,tapi bibi tahu gak asal usul Auni dari mana?" tanya Hana.
"Kalau yang bibi dengar,non Auni itu jualan permen,kacang,makanan makanan gitu non,dilampu merah! Namun bapak dan ibu saat itu merasa iba karena non Auni ini anaknya cantik,dan ternyata non Auni juga pintar dan berprestasi! Akhirnya dia di angkat anak oleh bapak! Dan yang bibi dengar orang tua non Auni bercerai dan menelantarkannya saat masih SMP!" Jelas bi Asih.
Auni