Ustadz Muda

Ustadz Muda
#104


"Hatim,apa kamu mau menikahi Indri sebagai istri keduamu?" tanya Teh Dawa.


"Saya punya istri yang sangat sempurna bagi saya! saya sangat mencintai istri saya!" kata kang Hatim membuat Maya,Naya,teh Dawa dan teh Zahra merasa lega.


"Jadi gimana kang? teh Dawa bukan tanya akang cinta atau tidak sama Hana sialan itu,tapi yang teh Dawa tanyakan,akang mau tidak nikahin saya!" kata Indri dengan tegas.


"Saya punya teman yang belum menikah,dia seorang santri juga sudah menjadi seorang Ustadz di kampungnya! Dia juga sangat tampan! jika kamu mau,kamu bisa menikah dengannya!" ujar kang Hatim.


"Tapi aku hanya ingin menikah dengan kang Hatim! tidak ingin dengan yang lain!" kata Indri.


"Saya hanya punya satu hati! dan hati saya yang cuman satu itu sudah jatuh ke seorang wanita yang berharga yang mempunyai harga diri dan mempunyai rasa malu hingga dia tidak pernah menawarkan dirinya sendiri kepada laki laki!" kata kang Hatim dengan nada bicara di buat setegas mungkin.


"Saya tidak akan menikah dengan siapapun,sampai kapanpun kalau bukan kang Hatim yang nikahi saya!" kata Indri kekeh.


Bugh


Kang Hatim menghentakkan kakinya ke lantai dan Indri langsung pingsan.


"Hatim,apa yang kamu lakukan?" tanya teh Dawa.


"Maaf teh,sebentar lagi sudah mau adzan,kalau di teruskan gak akan selesai!" kata kang Hatim.


"Kamu kan sudah di larang sama gurumu agar tidak menggunakan ilmu itu dulu Hatim,dan gurumu juga melarang agar kamu tidak menggunakan ilmu hikmat saat sedang emosi.Itu beresiko!" kata teh Zahra.


"Bangunkan lagi!" kata teh Dawa.


"Nanti juga bangun sendiri,dan jika saat dia bangun dia belum sadar dari keinginannya itu maka dia harus di bawa ke rumah sakit jiwa!" kata kang Hatim.


"Astaghfirullah Hatim,kamu ini masih seperti anak kecil tahu! kamu belum bisa mengendalikan emosi kamu!" kata teh Dawa.


"Teh saya lapar,saya mau makan dulu!" kata Maya.


"Saya juga teh!" kata Naya.


"Ini teman kalian! sesama manusia kita harus saling tolong menolong!" kata teh Zahra.


"Dia bukan lagi teman kami teh,dia sudah menyakiti hati teman kami teh!" kata Maya.


"Dalam riwayat Muslim dikisahkan, ketika Rasul melewati wilayah Thaif, penduduk Thaif melempari beliau dengan batu. Melihat kajian itu, malaikat datang menghampiri Rasulullah dan turut sedih dengan kejadian yang menimpa Rasulullah. Malaikat menawarkan balasan untuk penduduk Thaif. Saking kesalnya, Malaikat ingin melempar gunung kepada mereka.


Akan tetapi, Rasulullah menolak tawaran malaikat. Rasul tidak mau membalas keburukan yang ditimpakan kepadanya. Alih-alih balas dendam, Rasul malah mendoakan. Beliau berharap agar anak keturunan dari penduduk Thaif kelak menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukannya.Rosulullah tidak mempunyai sifat dendam kepada siapapun,walaupun hatinya mungkin sangat sangat sakit!" kata teh Zahra.


"Ya sudah,ayo Nay,kita bantu dia!" kata Maya.


"Iya!" jawab Naya.


Mereka mencoba mengangkat Indri,namun ternyata mereka tidak kuat mengangkat badan Indri.


"Berat teh,kami gak kuat!" kata Naya.


"Ya sudah,ayo teteh bantu!" kata teh Zahra.


"Kalau berempat kayanya lebih mudah deh!" kata teh Zahra.


"Iya,aku bantu!" kata teh Dawa.


*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπŸ˜…πŸ˜†πŸ˜‡πŸ™