
"Kang!" Athiifah menggoyang goyangkan pundak kakak nya.
"Wah wah wah, beneran kecapean ini mah!" kata Athiifah.
Dia pergi ke luar, membuka kran dia bawa sedikit air itu di telapak tangannya. Setelah kembali ke dalam mesjid, setelah kembali menghampiri kakaknya, Athiifah cipratkan air itu ke muka Royyan sampai Royyan terbangun dan terkaget.
"Astaghfirullah!" Royyan langsung bangun sambil mengusap wajahnya yang sedikit basah akibat ulah Athiifah.Royyan sudah melihat dengan jelas Athiifah sudah ada di depan nya sambil menengadahkan tangan seperti orang akan berdoa karena tahu kalau kakak nya akan berkata,
"Ahlul jannah!" bentak Royyan setelah sadar bahwa adiknya yang membangunkannya.
"Ammiiiiiiin!" jawab Athiifah dengan kemudian setelahnya di usapkan kedua telapak tangan nya ke dia punya muka.
Royyan tidak akan berani berkata kasar atau pun berkata yang jelek artinya.Dia kapok karena berkata haram jadah pada adik pertamanya saat dia diganggu. Memang bahasa itu dia bawa dari pesantren yang bahasa nya agak kasar. Dari kejadian itu, Royyan di hukum harus diam di atas genteng semalaman oleh kang Hatim.
Maka dari sana, dia punya prinsip bahwa semarah apapun dia, dia akan mendoakan orang yang membuat dia marah.
"Ada apa? Berani kau membangunkan singa sedang tidur!"
"Lihat lihat!" Athiifah menunjuk para santri yang sedang beres beres.
"Astaghfirullah, jam berapa sekarang?"
"Setengah sembilan!" jawab Athiifah.
"Kenapa gak di bangunin dari tadi sih! Malu kan jadinya!"
"Akang yang gak ngotak! Punya punya rumah, kamar! Tidur di mesjid! Kan tau, mesjid tuh buat sholat, buat ibadah! Bukan buat tidur!" kata Athiifah.
"Brisik!" kata Royyan langsung beranjak meninggalkan Athiifah di dalam mesjid.
"Akhwat, Athiifah pergi dulu ya! Assalaamu'alaikum!" kata Athiifah pamitan pada para santri itu.
"Wa'alaikumussalaam!" jawab para santri.
"Ih nyebelin banget punya kakak! Udah salah, gak mau di bilangin! Keras kepala! Giliran di bilangin marah marah!" Athiifah ngomong sendiri sambil mengikuti Royyan dari belakang.
Sampai di rumah, seperti biasa, mereka mengucap salam, Royyan bersalaman dengan ama dan umma nya.
"Royyan mau menemui Nadhiirah dulu di kamar ya!" kata Royyan.
"Nadhiirah lagi di dapur!" kata kang Hatim.
"Di dapur? Lagi apa? kan aku sudah suruh Zhaffar yang masak selama tiga hari!"
"Kamu lihat sendiri aja!" kata umma Hana.
Tanpa berkata kata, Royyan langsung pergi menuju dapur guna melihat istrinya.
"Nadh!" panggil Royyan setelah di dapur dan melihat istrinya sedang mencuci peralatan yang telah dia pakai.
Tanpa menjawab, Nadhiirah malah berlari dan memeluk Royyan.
"Maafin aku!" kata Nadhiirah.
"Kenapa? Maaf kenapa?" tanya Royyan dengan sedikit panik.
"Aku buat kamu kesal!"
"Kapan?"
"Tadi subuh! Aku ngerjain kamu dua kali!"
"Saya gak kesal kok!"
"Ya kan biar gak di ganggu lagi!"
"Terus, kenapa barusan gak pulang?"
"Ketiduran di mesjid! Bukan niat gak pulang!"
"Beneran?" tanya Nadhiirah.
"Heem!" sambil mengangguk.
"Beneran ya?"
"Iya!"
"Gak marah ya?"
"Iya!"
"Gak kesel kan ya?"
"Iya!"
"Gak merajuk?"
"Gak!"
"Sayang aku?"
"Iya!"
"Cinta aku?"
"Iya!"
"Aku cantik?"
"Iya!"
"Aku baik?"
"Iya!"
"Aku sholehah!"
"Iya!"
"Mau brownies?"
"Iya! Eh? Mana? Emang ada?"
"Ada, aku yang buat!" Nadhiirah baru melepaskan pelukannya demi mengambilkan apa yang dia tawarkan.
"Beneran kamu yang buat?"
"Iya, beneran!"
"Hebat!"
Nadhiirah menghidangkan brownies itu di meja makan.
Mereka memakannya bersama sama saling suap menyuap sambil bercanda.