
Pukul dua dini hari kang Hatim dan Hana baru kembali ke rumah.Mereka belum tidur sama sekali,sedangkan pra santri sudah ada yang bangun lagi.Ada yang sudah di kamar mandi,sudah nyuci,sudah ngaji,sholat dan lain lain.
"Itu bukannya mobil kang Hatim ya?" tanya Winda.
"Iya! Dari mana kang Hatim malam malam begini?" Yani.
"Gak tahu,kirain aku aja yang lihat!"
"Kan mobil itu lewat ke depan kita! Maya iya aku gak lihat!"
"Ya kan bisa saja aku masih mimpi!" kata Winda.
Didalam mobil kang Hatim,macam macam makanan tersedia.Nasi goreng,nasi kuning,nasi padang,gorengan gorengan,martabak telor,martabak manis,ayam penyet,bakso pun Hana beli.Sedangkan boba,sudah habis duluan saking penasarannya dengan rasanya.
"Kamu harus habiskan semuanya! Awas kalau gak abis!" kata kang Hatim setelah sampai di rumah di ruang keluarga.Kang Hatim menyimpan makanannya di atas meja.
"Ayo makan!" kata kang Hatim sudah duduk di kursi dan memainkan hand phonenya.
"Aku ngantuk!" kata Hana.
"Makan dulu! Gak mau tahu!" ucap kang Hatim.
"Akang ih!"
"Duduk duduk!" kang Hatim menepuk kursi.
"Aku ke kamar ya?"
"Duduk!" kata kang Hatim.Hana pun duduk di samping suaminya.
"Ayo makan!"
"Mau apa dulu yang di makan?" tanya kang Hatim.,
"Martabak aja deh!" jawab Hana.
"Martabak asin apa manis?"
"Asin!" jawab Hana.Kang Hatim memncari kantong keresek yang isinya martabak telur.Kang Hatim menyuapi Hana.
Hana juga yang tadinya gak mau jadi mau dan menikmati martabak itu.
"Aku mau yang manis!'' kata Hana setelah habis dua potong martabak telur.Dengan sabar,kang Hatim membuka keresek lagi.Mengambil sepotong martabaak itu dan di suapkan ke Hana.
"Udah ah!" baru satu suapan.
"Mau apalagi?" tanya kang Hatim.
"Udah ah!"
"Ini masih banyak! Kamu harus tanggung jawab!"
"Aku kenyang kang!"
"Gorengan mau?"
"Enek ah!"
"Gak mau! Ayam penyet aja!" kata Hana.Kang Hatim mencari lagi keresek yang isinya ayam penyet.
"Mau usus,paha,dada,apa sayap?" tanya kang Hatim.
"Usus aja!" kang Hatim memberikan satu tusuk usus.
"Awas nusuk!"
"Mau lagi!'' kata Hana.Kang Hatim memberinya lagi.
"Bukannya tadi ada samblnya ya?" tanya Hana.
"Ada! Mau pakai sambel?"
"Mau!" kang Hatim menuangkan sambelnya.
"Lagi?" tanya kang Hatim setelah Hana menghabiskan setusuk sate usus itu.
"Gak mau ah!"
"Nasi goreng sama ayam? enak loh!"
"Ya sudah,akang aja yang makan!"
"Boleh?" tanya kang Hatim.
"Boleh,makan aja!" jawab Hana.
Kebetulan,kang Hatim juga lapar,dia membuka nasi goreng itu dan memakannya.Hana melihat kang Hatim makan itu dengan nikmat.
"Kang!'' kata Hana.
"Apa?" tanya kang Hatim.
"Mau!" jawab Hana.
"Ya udah,nih!" kang Hatim memberikan sendok plastik yang dia pakai buat makan nasi goreng.
"Suapin!" kata Hana.Kang Hatim geleng geleng tapi tetep nurut menyodok nasi dengan sendok itu,
"Pake tangan!" kata kang Hatim.
"Pakai sendok aja ya!"
"Mau pakai tangan kang!" kata Hana.
"Susah bi,ini nasi goreng!" kata kang Hatim.
"Ya sudah,gak usah!"
"Ya udah iya,tunggu sebentar! Akang cuci tangan dulu!" kang Hatim pergi ke dapur untuk mencuci tangan demi menuruti keinginan istrinya.
Tidak lama,kang Hatim kembali duduk dan menyuapi Hana nasi goreng dengan tangannya.Setelah habis di mulut Hana di telat,kang Hatim menyuapinya lagi.
"Gak mau ah,kenyang!" kata Hana menolak suapan kang Hatim.